Skip to main content

Memaafkan Itu Membahagiakan (2)



Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahagia itu artinya keadaan atau perasaan senang dan tenteram, bebas dari segala yang menyusahkan.

Dari pengertian di atas, terdapat tiga unsur yang menjadi sumber bahagia, yaitu : senang, tenteram dan bebas dari segala yang menyusahkan. Ketiganya terkait dengan persoalan kejiwaan atau psikis. Pertanyaannya, bagaimana mewujudkan ketiga unsur tersebut dalam hati manusia sehingga bisa merasakan bahagia? Salah satu kuncinya adalah : memaafkan!.  Mari kita kaji bersama.

Kita sering membaca atau melihat tayangan berita tentang peristiwa konflik, perkelahian dan tawuran, baik antar individu, kelompok, bahkan Negara. Peristiwa tersebut berdampak pada keretakan hubungan antar individu, kelompok dan Negara secara berkepanjangan. Akibatnya, seseorang, keluarga, masyarakat dan bangsa diliputi rasa ketakutan, kecemasan dan ketidaknyamanan, bahkan terjadi banyak korban jiwa. Kebahagiaan pun akhirnya terenggut dari diri manusia.

Kalau kita teliti secara seksama, munculnya konflik atau tawuran itu penyebabnya lebih banyak karena dendam, masing-masing pihak tidak mau saling memaafkan. Masing-masing bersikukuh pada sikap yang kaku dan kebencian yang membara, karena harga dirinya pernah dilecehkan, disakiti dan diremehkan. Oleh karena harga dirinya merasa direndahkan, dengan segala cara mereka ingin membalas untuk melampiaskan rasa dendamnya.

Tetapi sayangnya, pihak lain pun melakukan hal yang sama. Karena semuanya gelap mata maka terjadilah konflik dan adu kekuatan. Bila konflik terjadi antar individu, maka kedua belah pihak akan terus memendam kebencian menjadi bara api, yang setiap waktu bisa memusnahkan kebahagiaan hidupnya.

Mengapa kita terlalu berat untuk saling memaafkan didalam hubungan antara umat manusia ini? Faktor utamanya karena selalu menuruti hawa nafsu. Mereka kurang memahami, betapa mulianya sifat pemaaf itu.

Dalam kisah disebutkan, suatu ketika seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW tentang akhlak yang mulia, maka beliau membacakan firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-A’raf [7]: 199,  “Jadilah engkau pemaaf dan perintahkan orang mengerjakan yang baik, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.”

Kemudian beliau bersabda, “engkau harus menjalin hubungan dengan orang yang memusuhimu, memberi kepada orang yang kikir kepadamu dan memaafkan orang yang menganiayamu.”   (HR.Ahmad, Al-Hakim dan Al-Baghawy).

Sabda Rasulullah itu mengandung pesan bahwa ketika memaafkan, kita tidak memikirkan besar kecilnya kesalahan, kita juga tidak mengingat-ingat lagi perbuatan orang yang telah menyakiti kita.  Terhadap orang yang menyakiti hati atau menganiaya kita harus kita maafkan. Segala rasa benci dan dendam harus kita lenyapkan.

Jika kita menyimpan dan memendam kemarahan, dendam, dan tidak mau memaafkan kesalahan orang lain, maka sebenarnya kita sedang membawa beban kebusukan dihati kita. Akan ada perasaan berat, tertekan, juga kegalauan menyelimuti hati kita. Dan ini adalah suatu penyakit hati.

Dalam beberapa referensi dijelaskan, kata maaf berasal dari bahasa Al-Qur’an  al-‘afwu’, yang berarti ’menghapus’, karena orang yang memaafkan itu menghapus bekas-bekas luka di hatinya. Bukanlah memaafkan namanya, apabila masih tersisa bekas luka itu di dalam hati, bila masih ada dendam yang membara. Menutup pintu maaf bagi orang lain justru menggerogoti diri sendiri dari dalam. Sedangkan membuka pintu maaf itu,  sama artinya menyembuhkan luka dalam hati.

Kesimpulannya, sikap suka memaafkan itu bisa menyehatkan jasmani dan rohani kita serta merupakan akhlak yang sangat mulia. Dan,  tentu saja membahagiakan! Firman Allah SWT : "...maka barang siapa yang memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat kepadanya), maka pahalanya atas tanggungan Allah."(Q.S.Asy-Syura [42]: 40).

Suparto 
#OneDayOnePost

Comments

Post a Comment