Skip to main content

Arung Jeram (2) Bekerjasama Menuju Titik Tujuan


Di dalam olahraga Arung jeram atau Rafting, setelah kucermati ternyata mengandung banyak filosofi dan pelajaran bagi kehidupan nyata. Pertama, tentang kerjasama. Arung jeram adalah olahraga alam bebas yang memadukan kecepatan dan kekompakan dalam bereaksi.
Sebagai olah raga kelompok, arung jeram sangat mengandalkan kekompakan tim secara keseluruhan, di bawah komando skipper. Kerja sama yang terpadu dan pengertian yang mendalam antar awak perahu, merupakan faktor utama yang menunjang keberhasilan melewati berbagai rintangan di sungai. Semua awak kapal harus bekerjasama di atas perahu agar perahu tetap pada arah/orientasi yang benar.
Pelajaran kedua, sikap hati-hati dan cermat. Cara duduk di perahu misalnya, tidak boleh sembarangan, tetapi harus dengan menyamping. Seperti selalu diingatkan oleh Skipper, duduk pada sisi perahu (baik sisi kiri maupun sisi kanan), kaki dalam posisi kuda-kuda pada lantai perahu, dimaksudkan sebagai pengatur keseimbangan badan selama pengarungan. Posisi duduk pun harus mudah untuk menggapai boat line. Jarak duduk dengan peserta lain juga mesti diatur agar tidak mengganggu pergerakan, baik untuk mendayung maupun saat menjalankan instruksi moving position atau perpindahan.
Peserta hendaknya selalu menyadari, kegiatan arung jeram tidak akan pernah lepas dari segala resiko dan bahaya; baik oleh faktor manusia, peralatan, maupun faktor alam yang menyertainya. Meski begitu, kita tidak perlu cemas, karena justru di sinilah letak salah satu kedahsyatan yang akan dirasakan saat bermain-main dengan air di sungai arus deras. Yang penting, sikap hati-hati dan cermat tetap dijaga.
Aku ingat Bupati Sragen, Agus Fatchur Rahman, yang pernah bercerita tentang salah satu pelajaran yang diperolehnya saat mengikuti Arung Jeram bersama para Pimpinan Satuan Kerja di Sungai Elo ini juga. Menurut Agus, ada  pesan moral yang bisa diambil dari kegiatan mendayung perahu.
Ketika mendayung,  Agus membayangkan Kabupaten Sragen itu seperti sebuah Bahtera atau kapal besar dan seluruh aparat yang ada (mulai dari Sekda, Pimpinan Satuan kerja, Camat, Lurah, semua PNS dan lain-lain) menjadi para pendayungnya. Kapal besar itu dikendalikan atau dipimpin oleh seorang Nahkoda bernama Bupati. Semua aparat itu adalah Anak Buah Kapal (ABK). Para ABK ini bekerja, bergerak sesuai bidang tugasnya masing-masing, saling koordinasi, dengan misi yang sama, bagaimana agar perahu bisa bergerak, melaju dengan baik sampai titik tujuan akhir dengan selamat.
Menurut dia, ketika berhadapan dengan kondisi nyata berupa tikungan, jeram/riam, batu dan lain-lain, asal kita kompak dan bersama-sama ternyata bisa melewati semua tantangan tersebut. “Persis kabupaten Sragen ini. Kalau kita tetap bekerjasama, tidak akan gampang terprovokasi oleh apapun, tentu kita akan bisa melakukan pencapaian titik harapan”, katanya.
Didalam satu kelompok, ia berpikir, kalau kita yang mendayung di sini terlalu menuruti para penonton di atas tebing, atau kelompok perahu lain yang berteriak-teriak menantang, mengganggu dan mengejek, atau terlalu terpesona dengan pemandangan orang mandi di pinggir sungai,  tentu kita tidak akan sampai tujuan di garis finish itu. Makanya kita harus tetap fokus dan bersemangat. Jangan sampai terlena di tengah jalan.
Atau ada kemungkinan kedua, jika ada diantara para Anak Buah Kapal itu malah melakukan penggembosan dari dalam, membocorkan kapal, atau berhenti  (mogok) tidak mau mendayung, maka akan membuat perjalanan kapal itu tidak seperti mimpi bayangan yang kita angankan bersama-sama.
“Jadi, pelajaran moralnya adalah bagaimana kita tetap  bersama dalam situasi seperti apapun. Sebagaimana halnya ketika kita mendayung perahu kabupaten Sragen. Dalam situasi airnya paling landai, tenang, dengan riam, atau di medan yang terjal, curam dan lain-lain kita harus tetap bersama-sama mendayung sampai dititik tujuan dan harapan”, ujar Bupati Sragen, Agus Fatchur Rahman.
Insiden “mengerikan” yang menimpa beberapa teman kami, menggambarkan bagaimana kelalaian sedikit saja bisa berakibat fatal. Seperti yang akan kuceritakan dalam tulisan besok……

Comments

Post a Comment