Skip to main content

Pengalaman Jadi Ketua RT (Bag. 2) Memimpin Dari Jarak Jauh



Oleh Suparto

Pada saat saya terpilih menjadi ketua RT, kami sekeluarga sudah menjadi warga setempat kurang lebih 15 tahun. Tetapi saya kurang tahu persis apa yang menjadi pertimbangan sebagian warga untuk memilih saya. Namun beberapa jam setelah pemilihan ketua RT (Pilkaret), muncul problem di lingkup keluarga kami yang tidak terpikirkan sebelumnya, yang tentunya juga akan berpengaruh kepada tugas sehari-hari. 
Ceritanya, ketika pemilihan ketua RT (Pilkaret)  berlangsung, kami sekeluarga sudah dua bulan “mengungsi” ke rumah orangtua yang berjarak sekitar satu kilometer. Kala itu, kami memang tengah merehab rumah, dibongkar secara total. Kami memperkirakan tujuh bulan baru selesai. Selama itu, kami numpang ke rumah orangtua. Setiap hari hanya beberapa jam saja kami menengok tukang dan melihat perkembangan pengerjaan bangunan rumah. Sehingga interaksi dengan warga tidak bisa sepenuh waktu. Jika ada kegiatan mendadak atau masalah penting saja, kami diberitahu oleh warga.
Munculnya problem “pemimpin tidak di tempat” ini ternyata pernah menjadi perbincangan beberapa warga sebelum pelaksanaan Pilkaret. Saat itu, ada yang bilang sambil bercanda, “kalau nanti yang terpilih orang yang tidak aktif berada di tempat bagaimana? Saya tidak bisa membayangkan….!” Yang dimaksud orang tersebut adalah diri saya. Dan ternyata benar, saya terpilih menjadi ketua RT, padahal tengah “mengungsi” di kampung lain.
Itu adalah problem pertama, memimpin warga dari jarak jauh, menjadi bahan pembicaraan warga. Saya tidak terlalu peduli dengan semua omongan orang. Saya berpikir positif saja. Mungkin mereka mau bilang, “…bagaimana bisa mengurus warga, sedangkan ketua RT-nya justru berkutat dan berjuang menyelesaikan kebutuhan keluarganya. Mestinya pemimpin rakyat berada di tengah mereka, untuk mengetahui denyut nadi kehidupannya…”.
Kami berusaha tetap sabar dan terus berdoa kepada Allah, mohon petunjuk dan kekuatan serta kesehatan lahir batin untuk menghadapi segala problem. Dua bulan berjalan, kami baru bisa menyusun anggota “kabinet” kepengurusan RT. Selanjutnya berkas tersebut kami kirim ke tingkat Kelurahan untuk mendapatkan pengesahan.
Seiring perjalanan waktu, saya mulai bisa menyesuaikan diri mengatur waktu untuk semua urusan. Ya ketua RT, kepala keluarga, sebagai PNS, dan kegiatan sosial lain seperti Takmir Masjid bisa berjalan menurut prioritas yang ada. Begitu juga dengan isteri, mulai berani tampil berbicara di depan kelompok ibu-ibu dalam pertemuan anggota PKK. Ini menjadi pengalaman pertama baginya.
Problem pertama teratasi. Warga tidak mempersoalkan kami berada di rumah orangtua, yang penting bisa mengatur waktu dan komunikasi lewat handphone tetap lancar. Justru problem lain yang terus muncul perlu mendapat perhatian serius. Terutama masalah konflik internal rumah tangga warga, serta perbedaan karakter dan persepsi setiap orang,  kalau tidak dipahami dan dikelola dengan bijak akan memicu ketegangan sosial. Itulah tantangan di tengah dinamika sosial dan kehidupan umat
 manusia. Terus berubah dan berubah…..

Comments