Skip to main content

Zaman Edan (3) : Serba Membingungkan



Serat Kalatidha meski ditulis pada awal abad 19, namun kalau kita cermati isinya menggambarkan kondisi Indonesia di abad 21 saat ini. Memang, selain sebagai pujangga Kraton Surakarta, Ranggawarsita juga dikenal sebagai peramal ulung, bahkan ada yang mengatakan sebagai seorang filsuf Nusantara. 

Pemikirannya cemerlang melintasi sekian zaman, kritikannya tajam bagai pisau operasi, dan ramalannya jitu karena berdasarkan analisis mata batinnya. 


Mari kita cermati isi salah satu bait Serat Kalatidha yang terdiri dari 12 bait itu.

Mangkya darajating praja, kawuryan wus sunyaturi
Rurah pabrehing ukara, karana tanpa palupi
Atilar tilastuti, sujana sarjana kelu
Kalulun Kalatidha, tidhem tandhaning dumadi
Ardayengrat dene karoban rubeda.

Beginilah keadaan negara, yang kian tak menentu
Rusak tatanan, karena sudah tak ada yang pantas ditiru
Aturan diterjang, para bijak dan cendekia malah terbawa arus
Larut dalam zaman keraguan, keadaan pun mencekam
Dunia pun dipenuhi beragam ancaman.
(Serat Kalatidha bait 1)

Coba bandingkan dengan kondisi negeri kita sekarang. Setiap hari kita disuguhi berita korupsi, tentang para oknum pejabat tinggi, anggota dewan hingga bupati yang menggarong uang rakyat. Mereka terdiri dari para cerdik cendekia yang ahli membuat aturan atau undang-undang. Namun mereka juga yang lihai melanggar aturan karena tahu celah-celah hukum yang dibuatnya. 

Pelanggaran yang dilakukan kemudian menyeret para oknum dihampir semua lini organisasi, profesi dan status tokoh di negeri ini. Mereka yang seharusnya sebagai tokoh panutan, kenyataannya malah menjadi otak dan pelaku kejahatan. (lihat tulisan saya edisi 12 dan 13 Februari 2016 HASIL KORUPSI ).            
  
Kenyataan tersebut menciptakan kondisi yang serba meragukan, membingungkan. Sulit menentukan pilihan.  Siapa lagi yang bisa dijadikan panutan? Banyak tokoh diharapkan memberi kesejukan dalam setiap tutur dan tindakannya serta dapat memberikan pencerahan dari perilaku kesehariannya. Namun mereka malah beramai-ramai mencari aman dibalik ketiak penguasa, sebagian menjadi artis, yang lain menjadi politisi. Mereka membuat sesak dan panas suasana.

Para pemimpin yang diharapkan memikirkan nasib rakyat malah sibuk dengan pencitraan diri untuk mengamankan posisi dan terpilih lagi pada Pemilu berikutnya. Sedangkan para penjilat di bawahnya terus mencari muka sambil mencari-cari celah, sikat sana sikut sini,  agar mendapatkan uang tambahan dari proyek-proyek siluman yang digarapnya. 

Suparto                                    

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

TANGGAP WACANA ATUR PAMBAGYA HARJA

CONTOH ATUR PANAMPI PASRAH TEMANTEN SARIMBIT ACARA NGUNDUH MANTU

Pidato Kocak Dai Gokil

ATUR PAMBAGYA HARJA WILUJENG

ATUR PASRAH BOYONG TEMANTEN KEKALIH

ATUR PANAMPI CALON TEMANTEN PUTRI BADE IJAB

Tanggap Wacana Basa Jawi dan Contoh Lamaran

ATUR PASRAH CALON TEMANTEN KAKUNG BADE IJAB ( Kanthi Prasaja ) )

Maaf, Ini Off The Record