اَلْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah.
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa. Ketakwaan bukan hanya tampak dalam ucapan, tetapi juga terlihat dari kesungguhan kita memperbaiki hati, niat, dan amal perbuatan.
Tidak terasa, kita sudah berada di sepuluh hari awal bulan Zulhijah, bulan yang di dalamnya terdapat hari-hari mulia dan ibadah agung, diantaranya ibadah kurban.
Ibadah Kurban bukan hanya tentang menyembelih kambing, sapi, atau unta. Kurban adalah simbol ketundukan seorang hamba kepada Allah SWT. Kurban mengajarkan keikhlasan, pengorbanan, kesabaran, dan kepatuhan sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.
Ibadah kurban adalah ritual tahunan yang datang bersama Hari Raya Iduladha. Ibadah ini merupakan perintah agung yang sarat dengan nilai tauhid, kepasrahan, dan kepedulian sosial. Kurban adalah simbol ketaatan total seorang hamba kepada Rabb-nya, sekaligus wujud syukur atas nikmat rezeki yang telah Allah limpahkan.
Allah SWT dengan tegas memerintahkan ibadah kurban dalam firman-Nya:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ [الكوثر (108): 2]
Artinya: “Maka salatlah engkau karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)
Ayat ini menunjukkan bahwa kurban merupakan ibadah yang sangat dekat kedudukannya dengan shalat, sebagai bentuk penghambaan dan ketaatan kepada Allah. Ibadah kurban adalah penyembelihan hewan, juga manifestasi ketundukan hati dan keikhlasan jiwa.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Allah juga menjelaskan bahwa ibadah kurban telah disyariatkan sejak umat-umat terdahulu:
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ اْلأَنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَالصَّابِرِينَ عَلَى مَا أَصَابَهُمْ وَالْمُقِيمِي الصَّلاَةِ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ [الحج (22): 34-35]
Artinya: “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka. Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh, yaitu orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. Al-Hajj: 34–35)
Dari ayat ini kita memahami bahwa kurban adalah bagian dari syiar Allah, yang menuntut keikhlasan, ketakwaan, dan kepedulian untuk berbagi kepada sesama.
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Kisah Nabi Ibrahim as menjadi teladan utama dalam ibadah kurban. Allah mengabadikannya dalam firman-Nya:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِينَ. فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ. وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَاإِبْرَاهِيمُ. قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ. إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاَءُ الْمُبِينُ. وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ [الصافات (37): 103-107]
Artinya: “Maka ketika anak itu telah sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’ Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, Kami pun memanggilnya: ‘Wahai Ibrahim! Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu.’ Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shaffat: 103–107).
Inilah puncak ketundukan dan keikhlasan. Kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi menyembelih ego, cinta dunia, dan keterikatan yang melalaikan dari Allah.
Allah juga menegaskan:
وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللهِ … [الحج (22): 36]
Artinya: “Dan telah Kami jadikan unta-unta itu sebagai bagian dari syiar Allah bagimu…” (QS. Al-Hajj: 36)
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Rasulullah Saw memberikan peringatan keras bagi mereka yang mampu tetapi enggan berkurban:
مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا.
Artinya: “Barangsiapa memiliki keluasan rezeki tetapi tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.”
Ini menunjukkan betapa besar penekanan syariat terhadap ibadah kurban bagi yang mampu.
Dalam hadis lain disebutkan:
قُلْتُ أَوْ قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ مَا هَذِهِ اْلأَضَاحِيُّ قَالَ سُنَّةُ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ قَالُوا مَا لَنَا مِنْهَا قَالَ بِكُلِّ شَعْرَةٍ حَسَنَةٌ
Artinya: “Kami bertanya: Wahai Rasulullah, apakah kurban itu? Beliau menjawab: Itu adalah sunnah ayah kalian, Ibrahim. Mereka bertanya: Apa yang kami peroleh darinya? Beliau menjawab: Pada setiap helai bulunya terdapat kebaikan.”
Bahkan Rasulullah juga bersabda:
كُلُّ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ ذَبْحٌ
Artinya: “Seluruh hari Tasyriq adalah waktu untuk menyembelih.”
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Maka janganlah kita ragu untuk berkurban. Jangan hanya melihat dari sisi harga atau kemampuan materi, tetapi lihatlah sebagai bentuk panggilan iman dan kesempatan mendekatkan diri kepada Allah. Di balik kurban terdapat pengampunan dosa, limpahan pahala, serta kebahagiaan berbagi dengan sesama.
Jika kita mampu, maka bersegeralah. Jadikan Iduladha sebagai momentum memperkuat ketakwaan, menumbuhkan keikhlasan, dan menebarkan manfaat bagi umat.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mampu berkurban dengan penuh keikhlasan dan menerima amal ibadah kita.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ بَلِّغْنَا يَوْمَ عَرَفَةَ وَعِيْدَ الْأَضْحَى وَنَحْنُ فِيْ أَحْسَنِ الْحَالِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةًوَقِنَا عَذَابَ النَّارِ..
Comments
Post a Comment