Skip to main content

Bijak Lingkungan Adalah Konsekuensi Iman

Berikut saya tampilkan tulisan seorang teman, namanya Ibudh.

Dia dikenal sebagai seorang aktivis lingkungan, pemerhati sosial, penyair jalanan dan esais. Buku karyanya berjudul "Membaca Negeri" merupakan kumpulan esai.

Ibudh saat ini menjabat sekjen Forum Lingkar Pena ( FLP) Solo Raya.
Ibudh. Saat membaca Puisi di acara Solo Muslim Fair

Pria kelahiran Sragen ini sekarang tinggal di Solo bersama istrinya, Hidayatul Hasanah, yang juga aktif menulis.

Selamat membaca, semoga bermanfaat.



Bijak Lingkungan Adalah Konsekuensi Iman

2 NOVEMBER · PUBLIK

Oleh: ibudh (Pelayan di #Rumah_Pemberadaban_Hijau )

Kerusakan lingkungan sudah nyata di depan mata. Ia butuh perhatian dan tindakan serius umat manusia. Konsep sekular yang hanya menyentuh aspek fisik semata tak mampu mengatasinya. Islam adalah jalan keluarnya, karena agama ini memiliki konsep yang mapan dan tegas tentang lingkungan: fisik dan spiritual tak dipisahkan.

Tapi fakta saat ini menunjukkan, kajian tentang lingkungan menurut perspektif al-Qur'an jarang ditemukan. Alhasil, mayoritas umat Islam berkepedulian rendah pada lingkungan.

Ulama salaf memang belum mengkaji lingkungan secara luas dan mendalam. Wajar, sebab di zaman mereka persoalan lingkungan belumlah seberapa dibanding persoalan hidup lainnya. Berbedalah sekarang, kerusakan lingkungan sudah amat sangat nyata di depan mata!

Tak boleh ditunda lagi, umat Islam harus memahami ajaran agamanya tentang lingkungan. Karena seharusnya merekalah yang terdepan dalam gerak langkah pelestarian.

"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah ...." (Ali Imran: 110).

Tulisan sederhana ini mudah-mudahan sedikit membantu kita dalam memahami ajaran Islam tentang lingkungan. Ada empat hal penting mengenai lingkungan yang disajikan di sini, yang seyogianya kita mengerti.

I.          Lingkungan Milik Allah swt
al-Qur'an memberitahu kita bahwa Allah swt-lah Pencipta jagad raya/lingkungan, dan secara mutlak memiliknya.

"Yang memiliki kerajaan langit dan bumi, tidak mempunyai anak, tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan(Nya), dan Dia menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuran-ukurannya dengan tepat." (al-Furqan: 2),

"Tidakkah kamu tahu bahwa Allah memiliki kerajaan langit dan bumi? Dan tidak ada bagimu pelindung dan penolong selain Allah." (al-Baqarah: 107).

Kendati menjadi Pemilik mutlaknya, Allah swt sama sekali tidak membutuhkan lingkungan. KepemilikanNya bersifat tanpa pamrih.

"MilikNya-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan Allah benar-benar Mahakaya, Maha Terpuji." (al-Hajj: 64),

"Milik Allah-lah apa yang di langit dan di bumi. Sesungguhnya Allah, Dia-lah yang Mahakaya, Maha Terpuji." (Luqman: 26),

"Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata, 'Allah mempunyai anak.' Mahasuci Dia, Dia-lah yang Mahakaya; milikNya-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Kamu tidak mempunyai alasan yang kuat tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan tentang Allah apa yang kamu tidak ketahui?" (Yunus: 68).

II.       Allah swt Pemeliharanya
Allah swt Maha Pemelihara lingkungan. Dalam al-Qur'an, pemeliharaanNya diungkapkan dengan term al-Hafiz dan al-Wakil.

Term al-Hafiz terdapat di dua tempat dan bermakna Pemelihara seutuh ciptaanNya.

".... Sesungguhnya Tuhanku Maha Pemelihara segala sesuatu." (Hud: 57),

 ".... Dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu." (Saba': 21).

Sedangkan term al-Wakil yang konteks kalimatnya bermakna Tuhan Pemelihara Lingkungan, terbagi dalam tiga makna.

Pertama, bermakna Pemelihara seluruh ciptaanNya.

"Itulah Allah, Tuhan kamu; tidak ada tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; Dia-lah Pemelihara segala sesuatu." (al-An'am: 102),

".... Sungguh, engkau hanyalah seorang pemberi peringatan, dan Allah pemelihara segala sesuatu." (Hud: 12), "Allah pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu." (az-Zumar: 62).

Kedua, bermakna Pemelihara Tunggal.

".... Cukuplah Allah yang menjadi pelindung." (an-Nisa': 81),

"Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Cukuplah Allah sebagai Pemeliharanya." (an-Nisa': 132),

".... MilikNya-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan cukuplah Allah sebagai pelindung." (an-Nisa': 171),

"Sesungguhnya (terhadap) hamba-hambaKu, engkau (Iblis) tidaklah dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhanmu sebagai penjaga." (al-Isra': 65),

"dan bertawakallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara." (al-Ahzaab: 3).

Ketiga, bermakna Pemelihara terbaik.

".... 'Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami, dan Dia sebaik-baik pelindung.'" (Ali Imran: 173).

Terdapat perbedaan pendapat tentang teknis pelaksanaan kemahapemeliharaan Allah swt terhadap lingkungan. Sebagian ulama memahami bahwa Dia melakukannya secara langsung. Sebagian lainnya mengatakan seperti dijelaskan di bawah ini.

Cara Allah swt memelihara lingkungan adalah dengan mencipta sunah lingkungan/hukum alam, yang terdiri dari dua divisi, yakni (1) niche ekologis setiap komponen lingkungan dan (2) daur energi.

1.          Niche Ekologis
Niche ekologis adalah fungsi atau peran suatu komponen lingkungan yang memengaruhi komponen lingkungan lainnya.

"Dan setiap umat memiliki kiblat yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebajikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkanmu semuanya. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." (al-Baqarah: 148).

Daya dukung lingkungan (kemampuan lingkungan untuk mendukung perikehidupan semua komponennya) akan optimal bila niche ekologis setiap komponen lingkungan berkerja dengan baik.

2.         Daur Energi
Wujud daur energi adalah rantai makanan dan jaring-jaring kehidupan.

"Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan." (az-Zukhruf: 32),

"(Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu, dan langit sebagai atap. Dan Dia-lah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui." (al-Baqarah: 22).

Setelah memahami cara Allah swt dalam memelihara lingkungan, orang beriman mestinya sadar untuk menggunakan niche ekologisnya dengan baik, yaitu dengan berperilaku bijak lingkungan.

"Dan kepada penduduk Madyan, Kami (utus) Syu'aib, saudara mereka sendiri. Dia berkata, 'Wahai kaumku! Sembahlah Allah. Tidak ada Tuhan(sesembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan jangan kamu merugikan orang sedikit pun. Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu orang beriman." (al-A'raf: 85).

III.     Posisi dan Peran Manusia dalam Lingkungan
Islam menjelaskan bahwa jagad raya beserta seluruh isinya adalah ciptaan dan milik Allah swt. Setiap ciptaan/makhluk itu memiliki kelebihan dan kekurangan sendiri-sendiri. Realitas ini sengaja Dia rancang agar terjadi hubungan timbal balik yang saling melengkapi.

"Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi, dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang kami luputkan di dalam Kitab, kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan." (al-An'am: 38).

Tegasnya, manusia bukan milik lingkungan, dan lingkungan juga bukan milik manusia. Keduanya sama-sama milik Allah swt. Manusia adalah bagian dari lingkungan yang memikili keistimewaan. Ia adalah makhluk yang dicipta paling sempurna (baca at-Tiin: 4) dan dibekali kemampuan mengelola lingkungan dengan tata aturan yang Dia wahyukan. Karena itu Dia menjadikannya khalifah: pengemban tugas mengelola lingkungan.

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, 'Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.' Mereka bertanya, 'Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memujiMu dan mensucikan namaMu?' Dia berfirman, 'Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.'" (al-Baqarah: 30).

IV.     Biang Kerusakan Lingkungan
Ada empat macam cara pandang manusia terhadap lingkungan. Ekosentris (menganggap manusia sebagai bagian sangat kecil dari lingkungan, sehingga harus tunduk padanya), transisi (keraguan antara ekosentris dan antroposentris), antroposentris (menganggap manusia sebagai pemilik mutlak lingkungan sehingga boleh mengeksploitasinya sesuka hati), holistik (menganggap manusia bagian dari lingkungan tapi punya kelebihan dan sadar untuk tidak bertindak sewenang-wenang --tapi yang dijadikan tujuan kearifan adalah lingkungan, bukan Allah swt).

Dari keempatnya, cara pandang antroposentrislah yang menjadi penyebab ideologis kerusakan lingkungan. Faham antroposentrisme menganggap manusia sebagai pusat kosmos: lingkungan diciptakan semata-mata untuk kepentingan manusia dan secara mutlak menjadi milik manusia. Sehingga penganut faham ini menghalalkan perilaku sewenang-wenang: eksploitatif dan destruktif, terhadap lingkungan.

"Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas, apabila melihat dirinya serba cukup." (al-'Alaq: 6-7).

Paham antroposentrisme yang sangat nyata bertentangan dengan ajaran Islam inilah yang menjadi penyebab mendasar, utama, dan terbesar, kerusakan lingkungan. Namun lucunya, banyak Muslim --sadar atau tidak-- menjadi penganutnya. (Semoga tulisan ini menjadi jalan tobat nasuha.)

 "Dan janganlah engkau berjalan di muka bumi dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung." (al-Isra': 37).

Akhirnya, dari keempat hal penting yang telah dipaparkan di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa berjiwa bijak lingkungan merupakan konsekuensi iman.

Sebagai Muslim, kita harus tampil terdepan dalam gerak langkah pelestarian lingkungan. Melestarikan lingkungan adalah ibadah yang harus dilakukan dengan penuh keikhlasan, tanpa pamrih.

Usaha pelestarian lingkungan seyogianya kita lakukan bukan saja agar manusia tidak tertimpa dampak buruk kerusakan lingkungan, melainkan demi lestarinya lingkungan itu sendiri. Begitulah cara kita mensyukuri nikmat Allah swt.

"(Allah) Yang Maha Pengasih. Yang telah mengajarkan al-Qur'an. Dia menciptakan manusia, mengajarnya pandai berbicara. Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan, dan tumbuhan dan pepohonan keduanya tunduk (kepadaNya). Dan langit telah ditinggikanNya dan Dia ciptakan keseimbangan, agar kamu jangan merusak keseimbangan itu. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu. Dan bumi telah dibentangkanNya untuk makhluk(Nya). Di dalamnya ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang, dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" (ar-Rahman: 1-13).

Wallahu a'lam.

(Kartasura, Kamis Legi 2 November 2017)

Daftar bacaan:
- al-Qur'an: Terjemah, Tajwid dan Tafsir Per Kata, Bandung, Jabal,
- Mujiyono Abdillah, Agama Ramah Lingkungan: Perspektif al-Qur'an, Jakarta, Paramadina, 2001
https://m.facebook.com/notes/ibudh/bijak-lingkungan-adalah-konsekuensi-iman/1502305253218584/?refid=21&_ft_=top_level_post_id.1502305253218584&__tn__=H-R

Comments

  1. Terima kasih banyak Pak Parto. Semoga tulisan ini jadi sentuhan lembut bagi hati bangsa Indonesia yang peka. Indonesia memiliki kearifan lokal yang luar biasa berharga. Namun sayangnya, generasi modern kini kurang tertarik meliriknya. Salah satu kearifan lokal itu adalah bagaimana leluhur kita berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Mereka belum seterdidik kita, wawasannya belum seluas kita, tapi mampu mengekspresikan kasih sayangnya kepada kita yang kala itu belum ada. Ya, ekspresi kasih sayang kepada generasi mendatang adalah (salah satunya) dengan menjaga kelestarian lingkungan. Bagaimana dengan kita kini? Masihkan kita berani bilang sayang kepada anak cucu sementara tiap hari mencemari lingkungan yang akan kita wariskan kepada mereka?

    Mari sadar bersama. Insya Allah kita bisa bersinergi melakukan gerak langkah konkret pendidikan dan pelestarian lingkungan. Kontak saya: 081329654654. Terima kasih. (ibudh)

    ReplyDelete
    Replies
    1. luar biasa mas ibudh. Semoga Allah memberkahi usaha panjenengan...

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Atur Pambagyaharja Sungkawa (Sripahan / LELAYU)

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.  Nuwun, kawula nuwun . Para pepunden sesepuh pinisepuh ingkang kula bekteni. Para asung pambela sungkawa, para rawuh kakung sunawana putri ingkang satuhu luhuring budi. Wonten madyaning panandang ing ari kalenggahan punika, kula minangka sulih sarira saking Ibu Sri Sumaringsih sakaluwarga kinen hangaturaken atur Pambagyaharja sakderengipun hangkating layon Almarhum Bapa Sukardono. Murwakani atur, sumangga panjenengan sedaya kula dherekaken manengku puja, raos syukur tansah konjuk wonten Ngarsa Dalem Allah Gusti Ingkang Maha Kawasa. Awit Panjenengan dalasan kula saget makempal wonten papan punika saperlu asung bela sungkawa menggah sedanipun Bapa Sukardono. Para asung pambela sungkawa ingkang pikantuk Rahmating Gusti. Ibu Sri Sumaringsih gotrah kulawangsa lumantar kula, ngaturaken Sugeng Rawuh, lan ngaturaken raos panuwun ingkang tanpa pepindan awit karawuhan panjenengan sedaya. Ugi ngaturaken agenging panuwun sedaya pambiyantu awujud p...

ATUR PANAMPI PASRAH TEMANTEN KAKUNG

Assalamu 'alaikum wr.wb. - Para Sesepuh-Pinisepuh ingkang dahat kinabekten. -Para Rawuh kakung sumawana putri ingkang kinurmatan. -Panjenenganipun  Bapa ………………..        minangka sulih sarira  saking  Bapa BUDI PRANOTO, S.Pd sekalian Ibu KUN MARYATI, S.Pd. ingkang tuhu kula kurmati. Kanthi ngonjukaken raos syukur dhumateng ALLAH SWT., Gusti Ingkang Maha Kawasa, kula minangka sulih salira saking panjenenganipun Bp. Haji SUDARNO, S.Sos  sekalian Ibu Hajah CIPTANTI DWI PRIYANTINI, S.Pd keparenga tumanggap atur menggah paring pangandikan pasrah temanten kakung. Ingkang sepisan , kula minangka sulih sarira Bapa Haji SUDARNO,S.Sos sekalian,dalasan sedaya kulawarga ngaturaken pambagya sugeng sarawuh panjenengan minangka Dhuta Saraya Pasrah saking Bapa BUDI PRANOTO,S.Pd sekalian dalasan sedaya panderek. Kaping kalih , menggah salam taklim Bp-Ibu BUDI  lumantar panjenengan, sampun katampi, dhawah sami-2, kanthi-atur wa'ala...

ATUR PASRAH BOYONG TEMANTEN KEKALIH

Salah satu rangkaian adat Jawa setelah melangsungkan resepsi pernikahan adalah, keluarga temanten perempuan memboyong kedua mempelai kepada keluarga orangtua mempelai laki-laki (besan).  Sebelum masuk rumah keluarga besan, diadakan acara “Atur Pasrah” dari keluarga mempelai perempuan, dan “Atur Panampi” dari keluarga besan. Berikut adalah tuladha (contoh) sederhana “Atur Pasrah” yang saya susun dan laksanakan. *** Assalamu ‘alaikum Wr.Wb. Bismillahirrahmanirrahim. Al-hamdu lillahi rabbil ‘alamin. * Para sesepuh pinisepuh ingkang dahat kinabekten ** Panjenenganipun Bp.Waluyo dalasan Ibu Sumarni ingkang kinurmatan *** P ara rawuh kakung putri ingkang bagya mulya . Kanti  ngunjukaken raos syukur dumateng Allah SWT, Gusti Ingkang Moho Agung. Sowan kula mriki dipun saroyo dening panjenenganipun Bapa Haji Supriyadi, S.Pd dalasan Ibu Hajah Lasmi ingkang pidalem wonten Plumbungan Indah RT.27/RW.08 Kelurahan Plumbungan, Kecamatan Karangmalang, Sragen, kepar...

CONTOH ATUR PANAMPI PASRAH TEMANTEN SARIMBIT ACARA NGUNDUH MANTU

Bp-Ibu Bambang Sutopo  Assalamu'alaikum wrwb. 1.      Para Sesepuh-Pinisepuh ingkang dahat kinabekten.. 2.      Panjenenganipun Bapa Suwardi minangka sulih sarira saking Bapa Gito Suwarno-Ibu Tuginem, ingkang tuhu kinurmatan. 3.      Para Rawuh kakung sumawana putri ingkang bagya mulya. Kanthi ngonjukaken raos syukur dhumateng Allah SWT - Gusti Ingkang Maha Agung, kula minangka talanging basa saking panjenenganipun Bp. Bambang Sutopo, S.Pd,  sekalian Ibu Jari, keparenga tumanggap atur menggah paring pangandikan pasrah saking kulawarga Bapa Gito Suwarno sekalian Ibu Tuginem. Ingkang sepisan , kula minangkani punapa ingkang dados kersanipun Bapa Bambang Sutopo sekalian dalasan sedaya kulawarga, ngaturaken pambagya sugeng ing sarawuh panjenengan minangka Dhuta Saraya Pasrah saking Bp Gito Suwarno sekalian Ibu Tuginem-sapendherek,  ingkang pidalem w onten ing   Dukuh Jenggrik,...

Atur Wangsulan Lamaran Calon Temanten

Meski tugas juru bicara untuk menyampaikan lamaran (pinangan) seperti yang saya tulis kemarin berlangsung 'glagepan' dan 'gobyoss', namun oleh beberapa teman,  saya dianggap 'sukses'.  "Bagus Pak. Sederhana dan 'cekak aos' apa yang menjadi inti," kata teman.  Tapi bagi saya pribadi, respon teman itu mungkin bisa diartikan lain. Sekedar untuk menyenangkan saya atau 'nyindir'. Namun tetap saya ucapkan terima kasih, karena memberi saya kesempatan untuk belajar dari pengalaman.  Betul. Beberapa hari setelah kejadian itu, saya diminta lagi untuk menjadi 'juru bicara' sebagai pihak yang harus menyampaikan jawaban/tanggapan atas lamaran di keluarga lain. Saya pun tak bisa mengelak. Karena waktunya sangat mendadak maka konsep saya tulis tangan dengan banyak coretan.  Seperti diketahui, setelah adanya lamaran dari keluarga pihak lelaki, biasannya diikuti dengan kunjungan balasan untuk  menyampaikan jawaban atau balasan. ...

Bukan Halusinasi ( Bag. 4 )

Malam ke empat. Suto memutuskan tidak akan tidur semalaman. Ia menyiapkan satu bungkus rokok kretek dan kopi panas untuk menemani bergadang. Ia berharap kejadian kemarin yang terus menghantui pikirannya tidak akan terulang lagi. Namun ketika ia terus membayangkan sesuatu yang ditakuti, pikirannya justru makin tegang. Tengah malam. Saat Suto mengisap rokok sambil sesekali minum kopi yang sudah mulai dingin, mendadak pikirannya seperti melayang. Dalam kondisi setengah sadar, ia mendengar lagi ketukan di pintu belakang. Ia mengucek-ngucek matanya dan memasang telinga, memastikan datangnya suara. Namun kali ini, ia memutuskan untuk tidak menggubris suara tersebut. Ia sempat menghitung, suara ketukan di malam itu sampai sembilan kali. Ia tetap duduk di kamar tidur, sambil terus merokok. Sayup-sayup ia masih mendengar suara ketukan itu, tapi dibiarkan. Aneh, suara itu menghilang dengan sendirinya. Suto pun lega. Akhirnya tertidur. *** Setelah ia mengambil keputusan ...

Bukan Halusinasi ( Bag. 7 )

Sesuai rencana, Guritno bersama perangkatnya mendatangi rumah Suto. Melihat kedatangan Guritno, puluhan warga yang berkerumun berebut menyalami Kepala Desa yang simpatik ini. Beberapa orang dari luar desa yang belum mengenalnya juga mendekat Guritno. “Selamat Siang, Pak Lurah..” beberapa orang menyapa. “Selamat Siang. Gimana kabarnya. Sehat semua kan?” Sapa Guritno. “ Nggih,  Pak Lurah…” Guritno langsung menuju lokasi sumur tua milik Suto . Ia segera me lo ngok ke dalam sumur seperti yang dilakukan warga. Ia berkali-kali melongok ke lubang sumur yang berkedalaman 15 meter. Sesaat kemudian, ia melihat ke sekeliling, mengamati puluhan rumpun pohon bambu yang tumbuh subur di pekarangan Suto . Beberapa orang yang menyaksikan gerak gerik Kepala Desa itu saling berpandangan dan berbisik satu sama lain. Mereka menerka apa yang akan dilakukan pemimpin desa itu. Diantara mereka ada yang memberanikan diri bertanya dan usul kepada Guritno. “Bagaimana, Pak. Apa b...

Pertanyaan Yang Membuat Orang Bisa Jadi Gila

Ilustrasi (foto google image) Ini kisah yang membuat saya seperti orang gila. Bayangkan, saat membaca kisah ini tingkah saya jadi aneh. Ketawa, cemberut, jengkel, dan pusing kepala jadi satu.   Untungnya, setelah membaca kisah ini saya tidak benar-benar jadi gila. Saya justru    mendapat inspirasi dan pencerahan.   Seperti dikisahkan Sulaiman Budiman (2011:45), pada waktu   istirahat makan siang, tampak serombongan karyawan tengah bingung memilih menu di sebuah lokasi tempat makan yang dipenuhi banyak pedagang dengan berbagai macam jenis makanan. Di lokasi itu ada lontong Cap Go Meh, nasi goreng gila, soto betawi gebrak, sop buntut Bang Kumis, es teler, gado-gado, soto mie Bogor, dan macam-macam hidangan lainnya. Setelah berputar-putar, akhirnya mereka memutuskan untuk mampir di sebuah warung yang tampak masih sepi pengunjungnya.   “Nah, kita makan di sini saja, tempatnya enak dan belum ada orang yang datang. Jadi kita bisa makan sambil n...

Orang Asing Yang Saya Kenal (Bag.3)

Selina, Gadis Volunteer. Senyum Selina   Oleh : Suparto Selina datang di Sragen sebagai volunteer (relawan asing) untuk melakukan kegiatan pendampingan pembelajaran bahasa Inggris di SMP Negeri 1 Gemolong. Bagaimana ceritanya Selina bisa bertugas cukup lama di Sragen Indonesia?   Ini lanjutan catatan harianku tentang gadis Jerman itu. ****** Sabtu siang , 29 September 2012. Suasana penuh ceria mewarnai SMP N 1 Gemolong, Sragen, ketika sekolah ini mendapat kunjungan 6 orang volunteer dari Jerman. Mereka adalah Selina Denise Trapp, Laura Schulze, Sophie Karina   Kaehler, Jonathan   Blumcke, Marcus Schnetter, dan Philipp Unbehaun. Kedatangan remaja Jerman ini dipandu petugas dari Dejavato Foundation , sebuah lembaga penyedia relawan asing ( volunteer ) yang berkantor di Semarang. Selina di hadapan para siswa SMP Salah satu diantara enam orang warga Jerman ini, yakni Selina Denise Trapp, terlihat paling lincah, familiar dan berbahasa Indones...

Tanggap Wacana Basa Jawi dan Contoh Lamaran

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi yang berpengaruh pada perubahan perilaku masyarakat, ternyata masih banyak orang tetap memegang teguh   dan ‘nguri-nguri’ (melestarikan) warisan ‘Budaya Jawa’. Salah satu warisan tersebut adalah ‘Tanggap Wacana Basa Jawi’ atau pidato bahasa jawa dalam acara-acara adat maupun ‘pasamuan’ (pertemuan) keluarga dan warga kampung, terutama   di ‘tlatah’ (daerah) Jawa Tengah dan Jawa Timur. Atau di berbagai daerah di Indonesia yang terdapat komunitas atau kelompok masyarakat ‘Jawa’. Bagi sebagian orang, meski mereka hidup di lingkungan masyarakat berbudaya Jawa, tanggap wacana basa jawi (pidato bahasa jawa) sering dianggap momok karena sulit pengetrapannya. Ketidakmampuan mereka bisa karena sudah ngga peduli dengan bubaya jawa atau ngga mau belajar, sehingga keadaan sekarang ini ibarat ‘Wong Jowo Ilang Jawane’ – orang Jawa sudah kehilangan jatidirinya sebagai orang Jawa. Namun bagi orang yang kebetulan di- tua -...