Skip to main content

Bukan Halusinasi (Bag.2)


Kampung Randu, sebuah perdukuhan di Desa/Kalurahan Kedaung, berada sekitar 20 kilometer dari ibukota Kabupaten. Di siang hari, jika cuaca cerah, Gunung Lawu yang menjulang tinggi di sebelah selatan, terlihat sangat indah.

Sungai Kricik yang membelah di tengah perdukuhan, telah membagi dukuh Randu menjadi dua wilayah geografis yang berbeda. Di sebelah selatan sungai terdiri dari area perkebunan, sedangkan di bagian utara, terhampar persawahan.

Perihal nama dukuh Randu, menurut cerita yang berkembang, konon di daerah ini dulunya merupakan kawasan hutan pohon Randu. Tetapi sekarang, setelah menjadi permukiman penduduk, jumlah pohon randu bisa dihitung dengan jari.

“Jaman penjajahan Belanda dulu, dukuh ini merupakan hutan Randu. Kompeni menanam pohon Randu untuk diambil kapasnya. Hasilnya diangkut ke negeri Belanda sana,” cerita Mbah Kromowiguno, ayah Suto yang menjadi sesepuh dukuh. Tapi mbah Kromo tidak ingat siapa orang pertama yang menghuni kawasan ini yang kemudian menjadi dukuh Randu.

“Waktu saya datang, sudah ada puluhan orang punya rumah di sini. Dulu daerah ini dikenal sangat angker. Tidak semua orang berani tinggal di sini,” lanjut Mbah Kromo.

“Banyak orang yang kesambet dhemit – kena gangguan setan. Termasuk Suto, anak saya itu, dulu sering sakit-sakitan. Tapi sekarang, setelah punya anak istri, Suto orangnya sehat dan rajin. Dia punya sawah dan ternak kambing.”

***
Hari ini, Suto sudah melupakan kejadian semalam, yakni misteri ketukan pintu di rumahnya. Sejak pagi, ia sudah berangkat ke sawah, mengecek pengairan dan membersihkan rumput yang tumbuh di sela-sela tanaman padi. Pulang dari sawah, Suto sekalian mencari makan ternak untuk dua ekor kambing miliknya.

Setelah seharian sibuk, jam delapan malam, ia sudah tidur. Namun, di tengah malam ia kembali tergagap, karena merasa dikejutkan dengan suara ketukan pintu belakang di rumahnya. Kali ini justru lebih keras dan berulang-ulang seperti tamu penting. Sambil menggerutu, Suto segera bangun dan langsung menuju ke pintu belakang dengan sikap lebih waspada.

“Siapa ya?” tanya Suto sebelum membuka pintu. Tidak ada jawaban dari luar rumah.

“Kamu siapa?” tanya Suto lagi dengan keras.

Ketika tidak ada jawaban, dengan hati-hati ia buka pintu. Sorot lampu senter langsung diarahkan ke seluruh arah area kebun di belakang rumah, tapi tidak menemukan orang yang dicari.  Ia pun segera masuk rumah dan menutup pintu dengan keras. Ia kembali ke kamar tidur. Tetapi  karena matanya sulit dipejamkan, ia duduk termangu di kursi sambil merokok.  Sekitar pukul 03.00 dini hari ia baru bisa tidur, hingga bangunnya agak kesiangan.

Ternyata, malam berikutnya, kejadian ketukan di pintu belakang itu terulang lagi. Suto sebenarnya tidak akan melayani suara itu. Tetapi suara ketukan itu seperti dilakukan oleh orang nekad karena makin keras. Ia menuju ke arah suara di belakang, namun kali ini ia tidak membukakan pintu. Ia hanya berdiri mematung di samping pintu, tanpa bicara apa pun. Kupingnya ditempelkan rapat ke daun pintu untuk memastikan ada suara ketukan lagi.

Dalam beberapa menit, tidak ada suara ketukan lagi. Namun mendadak datang angin yang menimbulkan gesekan ranting dan dedaunan di kebun. Desiran angin di tengah malam itu juga masuk ke sela-sela dinding rumah. Di saat yang bersamaan, samar-samar ia mendengar suara seperti ada benda yang jatuh kedalam sumur tua yang sudah dua tahun tidak digunakan itu.

Tiba-tiba Suto merasakan bulu kuduknya berdiri. Tengkuknya dingin dan merinding.

Dengan cepat ia kembali ke tempat tidur yang terpisah dengan ruang tidur isteri dan anaknya. Dengan hati yang diliputi rasa takut, Suto langsung tidur berselimutkan dua buah sarung untuk menutupi seluruh tubuh. Tapi karena tubuhnya terasa dingin seperti es, matanya sulit terpejam. 

Antara sadar dan tidak, ia melihat bayangan sosok hitam yang mendekat. Ia ingin menjerit. Tapi mulutnya seperti terkunci...

Bersambung

#OneDayOnePost
Suparto 

Comments

  1. Huwaaa..pak suto..teriakannya sudah kuwakili.

    Pandainyooolah Pak Prapto bikin org takut. 😱😱

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku sendiri juga takutlah..
      tapi aku Parto lho.. bukan Prapto...
      makasih ya..

      Delete
  2. Ceritanya makin horor ya pak...

    ReplyDelete
  3. Replies
    1. nulis yg begini ternyata banyak diganggu lelembut...

      Delete
  4. Sumurnya ditutup aja pak, jgn digubris klo ada yg ketok pintu.. Hiiiiii

    ReplyDelete
  5. Siapa sih yang ngetuk pintu, hantunya usil banget, hehe

    ReplyDelete
  6. Haduh... jadi uang ngetuk pintu itu siapa pak? Ndemit? Hiiii

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

TANGGAP WACANA ATUR PAMBAGYA HARJA

Pidato Kocak Dai Gokil

ATUR PASRAH BOYONG TEMANTEN KEKALIH

ATUR PASRAH CALON TEMANTEN KAKUNG BADE IJAB ( Kanthi Prasaja ) )

CONTOH ATUR PANAMPI PASRAH TEMANTEN SARIMBIT ACARA NGUNDUH MANTU

ATUR PANAMPI PASRAH CALON TEMANTEN BADE IJAB

Selamat Jalan, Novitasari

ATUR PAMBAGYA HARJA WILUJENG

Tanggap Wacana Basa Jawi dan Contoh Lamaran