Skip to main content

Ikhlas Itu Mudah


Kaiman, dikenal sebagai seorang pengusaha sukses. Disamping kaya raya, ia juga dikenal baik hati dan dermawan. Kaiman tak pernah menolak kedatangan teman, sanak saudara, dan beberapa orang yang meminta bantuan atau pertolongan  kepadanya. Sudah tak terhitung banyaknya bantuan diberikan kepada orang yang meminta kepadanya untuk berbagai keperluan.

Namun malang tak dapat ditolak, entah karena salah manajemen atau memang nasibnya lagi sial, mendadak usahanya bangkrut, gulung tikar. Berbagai uapaya dilakukan untuk menyelamatkan perusahaannya, tak berhasil. Bahkan ia harus menanggung hutang cukup besar. Kaiman kini ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah bangkrut dan jatuh miskin, masih terbelit dengan berbagai masalah.

Ditengah situasi kesusahan dan kesulitan serta jalan buntu, Kaiman teringat beberapa orang yang dulu pernah dibantunya. Ia berniat menemui mereka satu persatu untuk meminta bantuan, seperti dulu ia pernah membantunya.

Tetapi ternyata, tidak ada satu pun dari mereka yang tergerak untuk membantu. Bahkan saat dia bercerita mengenai masalah yang sedang dihadapinya, mereka cenderung cuek, acuh tak acuh, tidak peduli, dan menganggap itu bukanlah urusan mereka. Sungguh menyakitkan.

Sesampai di rumah, Kaiman merasa terpukul, kecewa, dan marah. Kaiman tidak habis pikir, mengapa mereka yang dulu merengek mohon bantuan dan telah dibantunya, sekarang tidak tahu bersyukur dan berterima kasih. Saat dia dalam kesulitan dan membutuhkan bantuan, mereka malah memperlakukannya seperti itu. Dan semakin dipikir, dia semakin kecewa dan marah. Keadaan ini sangat mengganggunya. Dia menjadi sulit tidur, gampang marah, dan tidak bisa berpikir secara jernih. Berhari-hari Kaiman  menjalani hidup yang tidak bahagia.

Begitulah Kaiman, dia orangnya baik, suka membantu orang lain, tetapi saat ini kebaikan Kaiman malah berakibat buruk. Dia merasa tidak bahagia, kecewa, dan marah. Kenapa bisa begitu?

Dalam pandangan seorang motivator, Andriewongso, orang seperti Kaiman telah salah menilai orang lain. Harapan Kaiman adalah orang yang telah dibantunya akan membalas budi baiknya. Namun kenyataannya tidak begitu. Dan ini sebenarnya salah Kaiman sendiri. Kedua, jika Kaiman ingin mendapat imbalan atas bantuannya, saat membantu, dia harusnya memberi pelajaran kepada mereka bagaimana caranya berterima kasih.

Ketiga, jika Kaiman tidak ingin dikecewakan orang lain maka berilah bantuan tanpa harapan atas imbalan apa pun. Karena perbuatan baik yang telah dilakukan janganlah kehilangan makna dan dikotori dengan keinginan untuk dibalas. Kalau tidak kesampaian, akan menimbulkan kecewa, marah, dan kebencian di hati.

Menurut Deassy M. Destiani (2014: 282), saat ada orang lain yang membutuhkan pertolongan maka bantulah tanpa harus memikirkan apa yang akan jadi balasan dari orang yang kita bantu. Inilah yang disebut Ikhlas. Karena jika kita membantu orang lain maka di saat kita mengalami kesulitan, pasti dengan mudahnya ada orang lain yang akan membantu kita meskipun orang itu bukanlah orang yang kita tolong dulu. Semudah itu sebenarnya beramal kepada sesama. 

Comments

  1. iya ikhlas itu sussah
    andaipun berharap berharap balasan hanya dari Allah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak. Kalau kita berbuat baik, kita hanya berharap balasan dari Allah. Semua Allah yang mengaturnya.

      Delete
  2. Ikhlas itu amalan yg mulia setara dengan jujur dan sabar

    ReplyDelete
  3. Ikhlas itu amalan yg mulia setara dengan jujur dan sabar

    ReplyDelete
    Replies
    1. Matur nuwun Mas Bejo. Semoga dengan ikhlas, jujur dan sabar, kita menjadi orang yg selalu bejo (beruntung) di dunia dan akhirat...

      Delete

Post a Comment