Skip to main content

Erwik : Dari Penyiar Menjadi Pengajar

Nama "Nimas Woro" hingga sekarang masih melekat di hati dan pikiran puluhan orang di wilayah Sragen dan sekitarnya.

Melalui studio Radio Buana Asri AM, sejak 8 tahun lalu suara "Nimas Woro" menyapa pendengar setia radio siaran yang cukup populer di Sragen ini.

"Nimas Woro" adalah nama panggilan di udara untuk wanita bernama asli Erwik Handayani. Dia seorang penyiar sekaligus reporter Radio Siaran milik Pemkab Sragen di saluran AM.

Kini, suara indah Erwik "Nimas Woro" mendadak hilang dari udara Sragen. Banyak pendengar menanyakan kabar dan keberadaan Erwik.

"Apa kabar dan dimanakah Mbak 'Nimas Woro' sekarang?" Begitu pertanyaan yang kerap muncul.

Untuk menjawab penasaran banyak orang, berikut sekilas cerita Erwik "Nimas Woro" ketika ngobrol dengan saya beberapa waktu lalu.


***
Gimana sih ceritanya, Erwik bisa menjadi penyiar dan reporter Radio Buana Asri AM Sragen?

Menjadi penyiar sebenarnya bukan cita-cita saya. Sejak masih kuliah di FKIP Bahasa Inggris UMS, obsesi saya jadi reporter. Hehehe...


Kenapa Reporter?


Reporter, bisa berpetualang menggali informasi dan menyajikan lewat informasi (berita) yang akurat dan terpercaya.  Hal ini terinpirasi saat saya magang di RRI Surakarta waktu semester 4 (2006). 


Tahun 2008 saya melamar menjadi penyiar dan reporter Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Divisi AM, tapi gagal diterima. 


Tahun 2009 saya melamar lagi. Alhamdulillah, saya mendapat pangggilan dan dinyatakan diterima di LPPL BUANA ASRI SRAGEN divisi AM sebagai REPORTER. 


Bagaimana kesan selama menjadi Penyiar atau Reporter?


Banyak hal yang berkesan sebagai penyiar. Dari kerja menjadi penyiar jadi tahu bagaimana kita berinteraksi terhadap Pendengar melalui beragam suara...


Kita jadi bisa memahami suara orang sakit, suara orang susah atau suara orang yang senang hatinya...


Ada lho beberapa Pendengar yang menyatakan bahwa suara saya itu empuk...


Ada lagi yang menyatakan suara saya tegas!


Tapi justru saya tidak "pede" dengan apa yang sudah dikatakan Pendengar itu...


Sedangkan pengalaman paling berkesan menjadi Reporter adalah ketika meliput kunjungan Presiden RI Bapak SBY di Sragen. 


"Saat itu, saya tengah hamil 4 bulan, tetapi dengan semangat, saya laksanakan tugas meliput kunjungan Presiden RI, Pak SBY. Waktu itu, acara beliau adalah Meresmikan Museum Situs Purbakala Sangiran di Kecamatan Kalijambe, dan Panen Raya Padi di Kecamatan Ngrampal," kenang Erwik. 

"Itu pengalaman mengesankan yang tidak terlupakan."

Kini, setelah menjalankan tugas selama 8 tahun 4 bulan, saya tinggalkan ruang penyiar, kantor dan orang-orang yang telah ikut menorehkan banyak hal dalam perjalanan hidup saya.


Terimakasih untuk semua Crew yang sudah membimbing saya dan bekerja sama selama ini...


Terutama pimpinan, selama ini banyak kritik dan saran yang kemudian harus saya benahi dari pekerjaan saya. Semua demi peningkatan kualitas diri saya. 


Hanya terima kasih yang bisa saya ungkapkan atas semuanya.


Saya mohon maaf bila selama bekerja ada yang kurang berkenan di hati kalian semua...


Sebenarnya saya sangat berat meninggalkan dunia broadcast ini. Tetapi mesti saya lakukan, karena ada tuntutan tugas baru yang tidak bisa saya abaikan. 


Kini saya jalani tugas baru sebagai pendidik di sebuah Madrasah Ibtidaiyah Terpadu (MIT). 


Kenapa harus meninggalkan dunia broadcast?

Ada kronologi ketika saya akhirnya hijrah memenuhi panggilan nurani.


*ALHAMDULILLAH 'ALA KULLI HAAL* Itulah Filosofi hidup saya.

Tidak ada yang perlu dirisaukan. Allah selalu tahu waktu terbaik dan kita butuhkan pada waktu yang tepat...hanya perlu menambah kesabaran untuk bisa meraih sukses itu...

Selalu ada keberuntungan ditengah kejujuran dan kesabaran dari-Nya...

Allah selalu memberikan yang terbaik untuk kita pada waktu yang tepat...

Tidak ada yang menyangka setelah 8,4 tahun di dunia radio....hingga hati sudah memanggil untuk mengajar...

Tetapi panggilan itu kembali harus kandas saat berulang kali lamaran mengajar yang saya kirimkan ditolak pihak sekolah...

Akhirnya entah karena apa... sebuah keajaiban datang...

Jumat, 8 September 2017 saya diterima mengajar di MIT (setara SD) AMANAH NGRAMPAL SRAGEN. Sedari dulu yang selalu saya harapkan adalah bisa mengajar anak SD sesuai disiplin ilmu saya di FKIP.

Anak SD adalah masa dimana mereka tidak bisa ber-kamuflase... mereka masih polos... tinggal kita asah dan poles untuk menjadikan insan penerus bangsa ini, dengan mindset yang bisa membedakan mana yang benar dan salah sesuai dengan hati nurani, yang beragama dan taat aturan negara.

Apa pandangan Anda tentang Pendidikan?

Setiap anak memiliki karakter yang berbeda. Anak juga memiliki kecerdasan yang beragam, tinggal bagaimana kita sebagai *pendidik*--------> mengasah, mengenali, menemukan dan memberikan Bimbingan+Arahan yg benar untuk menjadi generasi penerus yangg trengginas, beretika, berbudaya, dan beragama di tengah akhir zaman sekarang ini.


***


Itulah sekilas cerita wanita kelahiran 20 April 1986 ini. Putri sulung dari tiga bersaudara ini menjalani hidup apa adanya, seperti pesan kedua orang tuanya, Suparmin dan Yamti.

Penyuka warna hijau yang gemar masakan gado-gado atau lotek ini, bersama suaminya, Duwi Sugiri dan putri mungilnya, Zia Aydin Ipyana, sekarang tinggal di Nglebak RT.13 Sidoharjo, Sragen.

Selamat menjalankan tugas baru "Nimas Woro" eh, Erwik.... Semoga sukses dan berkah.

Suparto

Comments

Popular posts from this blog

TANGGAP WACANA ATUR PAMBAGYA HARJA

Pada rangkaian acara resepsi pernikahan, keluarga yang mempunyai hajat (punya kerja), berkewajiban menyampaikan sambutan (tanggap wacana) selamat datang kepada seluruh hadirin. Dalam tatacara resepsi adat Jawa disebut Atur Pambagya Harja, atau atur pambagya wilujeng. Dalam sambutan ini, orang yang punya kerja akan mewakilkan kepada orang tertentu yang ditunjuk, biasanya ketua RT/RW, atau orang yang dituakan di lingkungannya. Nah, ketika menjadi ketua RT, saya pernah mendapat tugas untuk menyampaikan pidato (tanggap wacana) tersebut. ****** Berikut contoh / tuladha atur pambagya harja yang pernah saya sampaikan…. Assalamu ‘alaikum Wr. Wb. -        Para Sesepuh Pinisepuh, ingkang satuhu kula bekteni -        Para Rawuh Kakung sumawana putri ingkang kinurmatan Sakderengipun kula matur menggah wigatosing sedya wonten kelenggahan punika, sumangga panjenengan sedaya kula derek-aken ngunjuk-aken raos syukur dumateng ngarsanipun Allah SWT, Gusti Ingkang Mah

CONTOH ATUR PANAMPI PASRAH TEMANTEN SARIMBIT ACARA NGUNDUH MANTU

Bp-Ibu Bambang Sutopo  Assalamu'alaikum wrwb. 1.      Para Sesepuh-Pinisepuh ingkang dahat kinabekten.. 2.      Panjenenganipun Bapa Suwardi minangka sulih sarira saking Bapa Gito Suwarno-Ibu Tuginem, ingkang tuhu kinurmatan. 3.      Para Rawuh kakung sumawana putri ingkang bagya mulya. Kanthi ngonjukaken raos syukur dhumateng Allah SWT - Gusti Ingkang Maha Agung, kula minangka talanging basa saking panjenenganipun Bp. Bambang Sutopo, S.Pd,  sekalian Ibu Jari, keparenga tumanggap atur menggah paring pangandikan pasrah saking kulawarga Bapa Gito Suwarno sekalian Ibu Tuginem. Ingkang sepisan , kula minangkani punapa ingkang dados kersanipun Bapa Bambang Sutopo sekalian dalasan sedaya kulawarga, ngaturaken pambagya sugeng ing sarawuh panjenengan minangka Dhuta Saraya Pasrah saking Bp Gito Suwarno sekalian Ibu Tuginem-sapendherek,  ingkang pidalem w onten ing   Dukuh Jenggrik,  Desa Purwosuman,  Kec. Sidoharjo, Kab Sragen. Kaping kalih , menggah salam taklim 

ATUR PASRAH BOYONG TEMANTEN KEKALIH

Salah satu rangkaian adat Jawa setelah melangsungkan resepsi pernikahan adalah, keluarga temanten perempuan memboyong kedua mempelai kepada keluarga orangtua mempelai laki-laki (besan).  Sebelum masuk rumah keluarga besan, diadakan acara “Atur Pasrah” dari keluarga mempelai perempuan, dan “Atur Panampi” dari keluarga besan. Berikut adalah tuladha (contoh) sederhana “Atur Pasrah” yang saya susun dan laksanakan. *** Assalamu ‘alaikum Wr.Wb. Bismillahirrahmanirrahim. Al-hamdu lillahi rabbil ‘alamin. * Para sesepuh pinisepuh ingkang dahat kinabekten ** Panjenenganipun Bp.Waluyo dalasan Ibu Sumarni ingkang kinurmatan *** P ara rawuh kakung putri ingkang bagya mulya . Kanti  ngunjukaken raos syukur dumateng Allah SWT, Gusti Ingkang Moho Agung. Sowan kula mriki dipun saroyo dening panjenenganipun Bapa Haji Supriyadi, S.Pd dalasan Ibu Hajah Lasmi ingkang pidalem wonten Plumbungan Indah RT.27/RW.08 Kelurahan Plumbungan, Kecamatan Karangmalang, Sragen, kepareng matur

Pidato Kocak Dai Gokil

Humor sebagai salah satu bumbu komunikasi dalam berpidato hingga kini masih diakui kehebatannya. Ketrampilan   menyelipkan humor-humor segar dalam berpidato atau ceramah,   menjadi daya pikat tersendiri bagi audien atau pendengarnya sehingga membuat mereka betah mengikuti acara sampai selesai. Buku saku berjudul “Pidato-pidato Kocak ala Pesantren” karya Ustad Nadzirin (Mbah Rien) ini mungkin bisa menjadi referensi bagi pembaca yang ingin menciptakan suasana segar dalam berpidato. Buku setebal   88 halaman yang diterbitkan oleh Mitra Gayatri Kediri (tanpa tahun) ini berisi contoh-contoh pidato penuh humor. Membaca buku yang menyajikan enam contoh pidato yang oleh penulisnya dimaksudkan untuk bekal dakwah   para dai gokil dan humoris ini saya ngakak abis .  Pengin tahu cuplikannya? Silahkan simak berikut ini. “Saudara dan saudari.  Baik eyang putra maupun eyang putri…Semua tanpa kecuali yang saya cintai… Meski kalian semua tidak merasa saya cintai…” “…..Allah tela

Atur Wangsulan Lamaran Calon Temanten

Meski tugas juru bicara untuk menyampaikan lamaran (pinangan) seperti yang saya tulis kemarin berlangsung 'glagepan' dan 'gobyoss', namun oleh beberapa teman,  saya dianggap 'sukses'.  "Bagus Pak. Sederhana dan 'cekak aos' apa yang menjadi inti," kata teman.  Tapi bagi saya pribadi, respon teman itu mungkin bisa diartikan lain. Sekedar untuk menyenangkan saya atau 'nyindir'. Namun tetap saya ucapkan terima kasih, karena memberi saya kesempatan untuk belajar dari pengalaman.  Betul. Beberapa hari setelah kejadian itu, saya diminta lagi untuk menjadi 'juru bicara' sebagai pihak yang harus menyampaikan jawaban/tanggapan atas lamaran di keluarga lain. Saya pun tak bisa mengelak. Karena waktunya sangat mendadak maka konsep saya tulis tangan dengan banyak coretan.  Seperti diketahui, setelah adanya lamaran dari keluarga pihak lelaki, biasannya diikuti dengan kunjungan balasan untuk  menyampaikan jawaban atau balasan.

ATUR PASRAH CALON TEMANTEN KAKUNG BADE IJAB ( Kanthi Prasaja ) )

Setelah dua kali mendapat mandat menjadi ‘talanging basa’ atau juru bicara untuk menyampaikan dan menerima ‘lamaran’ atau pinangan, dikesempatan lain ternyata saya ‘dipaksa’ lagi menjalani tugas untuk urusan adat Jawa. Kali ini, saya diminta salah satu keluarga untuk menjadi juru bicara ‘atur pasrah calon temanten kakung’ - pasrah calon mempelai pria, kepada calon besan menjelang acara ijab qabul. Permintaan tersebut saya jalani, meski, sekali lagi, dengan cara yang amat sederhana dan apa adanya. Pengetahuan dan pengalaman yang sangat minim tidak menghalangi saya untuk melaksanakan tugas tersebut sebagai bagian dari pengabdian di tengah masyarakat. ****** Berikut contoh atau tuladha apa yang saya sampaikan tersebut. Assalamu 'alaikum wr.wb. ·           *** Para Sesepuh-Pinisepuh ingkang dahat kinabekten.      *** Para Rawuh kakung sumawana putri ingkang kinurmatan. ·          *** Panjenenganipun Bapak Susilo ingkang hamikili Bapak Sukimin sek

Tanggap Wacana Basa Jawi dan Contoh Lamaran

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi yang berpengaruh pada perubahan perilaku masyarakat, ternyata masih banyak orang tetap memegang teguh   dan ‘nguri-nguri’ (melestarikan) warisan ‘Budaya Jawa’. Salah satu warisan tersebut adalah ‘Tanggap Wacana Basa Jawi’ atau pidato bahasa jawa dalam acara-acara adat maupun ‘pasamuan’ (pertemuan) keluarga dan warga kampung, terutama   di ‘tlatah’ (daerah) Jawa Tengah dan Jawa Timur. Atau di berbagai daerah di Indonesia yang terdapat komunitas atau kelompok masyarakat ‘Jawa’. Bagi sebagian orang, meski mereka hidup di lingkungan masyarakat berbudaya Jawa, tanggap wacana basa jawi (pidato bahasa jawa) sering dianggap momok karena sulit pengetrapannya. Ketidakmampuan mereka bisa karena sudah ngga peduli dengan bubaya jawa atau ngga mau belajar, sehingga keadaan sekarang ini ibarat ‘Wong Jowo Ilang Jawane’ – orang Jawa sudah kehilangan jatidirinya sebagai orang Jawa. Namun bagi orang yang kebetulan di- tua -kan di li

ATUR PAMBAGYA HARJA WILUJENG

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb. -       Para Sesepuh Pinisepuh, ingkang satuhu kula bekteni -       Para Rawuh Kakung sumawana putri ingkang kinurmatan Sakderengipun kula matur menggah wigatosing sedya wonten kelenggahan punika, sumangga panjenengan sedaya kula derek-aken ngunjuk-aken raos syukur dumateng ngarsanipun Gusti Ingkang Maha Kawasa, awit saking peparing ni’mat saha berkahipun, panjenengan dalasan kula saget makempal manunggal, wonten papan punika kanthi wilujeng mboten wonten alangan satunggal punapa. Para Rawuh Kakung Sumawana Putri ingkang minulya. Kula minangka talanging basa saking panjenenganipun Bapa Ignasius Sarono, S.Pd dalasan Ibu Dra. Christiana Sri Wahyuni Kustiasih, M.Pd , ingkang pidalem ing Plumbungan Indah Sragen, wonten kalenggahan punika kepareng matur : Sepisan , bilih Bapa Ibu Iganasius Sarono ngaturaken syukur dumateng ngarsanipun Gusti Ingakang Maha Kawasa, awit   saking Berkahi-pun, saha donga pangestu panjenengan sedaya, sampun kal

ATUR PANAMPI PASRAH CALON TEMANTEN BADE IJAB

Assalamu'alaikum wrwb. -    Para Sesepuh-Pinisepuh ingkang dahat kinabekten. -    Para Rawuh kakung sumawana putri ingkang kinurmatan. -    Panjenenganipun Bapak….                  ingkang hamikili Bapak Karjiyono, SE, MM – Ibu Rr. Erniani Djihad Sismiyati (alm) ingkang tuhu kinurmatan. Kanthi ngonjukaken raos syukur dhumateng Gusti Ingkang Maha Agung, kula minangka sulih salira saking panjenenganipun Bp. Haji Mulyono Raharjo, S.Pd, MM   sekalian Ibu Sri Sayekti, Sm,Hk keparenga tumanggap atur menggah paring pangandikan pasrah calon temanten kakung. Ingkang sepisan , kula minangkani Bapak Mulyono Raharjo sekalian, dalasan sedaya kulawarga ngaturaken pambagya sugeng ing sarawuh panjenengan minangka Dhuta Saraya Pasrah saking Bapak Karjiyono, sapendherek, ingkang pidalem wonten ing   Jombor Lor, RT.01/18, Kel. Sinduadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Ngayogyakarta Hadiningrat. Kaping kalih , menggah salam taklim Bp. Karjiyono sekalian lumantar panjenengan s