Skip to main content

Catatan Perjalanan (3) Belajar Menarik Perhatian


Juli Wantoro, In Action
Kota Pekalongan telah menorehkan catatan tentang seorang Inet seperti dalam dua tulisanku kemarin. Bernarkah dia begitu istimewa, sehingga menjadi bagian penting dalam cerita ini? Soal dia istimewa atau tidak didalam hatiku (ckckck…..), mungkin bisa diceritakan pada kesempatan lain saja. Sedangkan catatan kali ini tentang pelajaran penting dari penampilan tokoh lain, yakni Juli Wantoro yang kemarin kita singgung sekilas.

Satu hal yang kuamati dari seorang Juli sebagai pembicara adalah ucapannya yang nyleneh dan penampilannya terkesan  “eksentrik”. Ia ingin tampil beda dari kebiasaan para pembicara pada umumnya. Bicaranya tidak menggambarkan semangat yang menggebu, tapi ada diksi menarik dikaitkan dengan peristiwa aktual yang lagi ngetrend. Dia juga bicara blak-blakan soal masalah-masalah krusial di tengah kancah kenegaraan.

Penampilan dan gaya bicara yang sengaja dibayangkan seperti Karni Ilyas dalam acara ILC di TVOne dengan menunjuk-nunjuk nama seseorang yang dikenalnya di ruangan tersebut, juga mampu menarik perhatian peserta diskusi.

Soal materi yang ditulis dalam tayangan power point juga tak kalah uniknya. Bukan sekedar ilustrasi yang menggelitik, seperti kalimat “Ojo dipikir”, tapi justru keberaniannya mengangkat tema yang seolah-olah bertolak belakang dari substansi kajian utama.

Ketika hal-hal seperti itu kutanyakan kepadanya (saat dalam perjalanan pulang), Juli memberikan penjelasan menarik yang bisa dijadikan pelajaran berharga.

Pertama, apa yang dilakukannya itu adalah upaya untuk menaik perhatian orang. Hal-hal yang unik, berbeda dan tidak seperti biasanya pasti menarik.

Kedua, menciptakan hubungan batin yang sama. Sampaikan fakta-fakta persoalan yang menjadi perhatian dan keprihatinan bersama. Kalau sudah tercipta kondisi yang demikian akan mudah memasukkan materi.

Ketiga, sampaikan dua tiga point penting saja, tapi dikupas secara mendalam dan komprehensip. Tidak usah terlalu banyak mengungkap materi. Karena kemampuan seseorang menangkap pembicaraan itu terbatas. Yang diingat pasti hanya satu dua hal penting saja. 

"Nah, itu yang kita sampaikan dan tekankan," katanya.

***

Wah, betul juga ya. Hal ini juga berlaku untuk dunia kepenulisan. Kalau begitu, belajar ah…

Comments

  1. Wah, seistimewa apakah diriku Pak? Hehe..
    Keren, ilmunya emang bisa diterapkan di dunia kepenulisan....

    ReplyDelete
  2. Bapak terlalu merendah ah..justru bapak yang pandai merangkai kata. Tulisan bapak bagus. Saya suka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih yo Na. Pokoke aku masih perlu banyak belajar terus.

      Delete

Post a Comment