Skip to main content

Bukan Halusinasi ( Bag. 1 )

Tengah malam yang dingin itu telah menyirep seluruh penghuni kampung Randu. Mereka lelap dalam tidur berselimut sepi, menikmati mimpinya masing-masing. Namun  tidak bagi Suto.  Lelaki paroh baya yang sehari-hari bekerja sebagai petani kecil ini mendadak terbangun oleh suara ketukan pintu belakang di ruang dapurnya. Sebenarnya lelaki kurus ini enggan beranjak bangun dari tempat tidurnya. Badan Suto kurang sehat lantaran kemarin kehujanan saat berada di sawah. Tetapi karena pintu itu seperti didorong-dorong oleh seseorang, ia akhirnya bangun juga.

Ia tak langsung berdiri. Sembari mengusap-usap kedua matanya, diambilnya lampu senter yang selalu ditaruh di bawah bantal. Dengan langkah gontai ia berjalan menuju pintu belakang. Tanpa pikir panjang, dibukanya pintu. Sementara isterinya, Poni, dan seorang anak perempuannya, Yani  yang berumur lima belas tahun, tetap tidur nyenyak.

Setelah pintu terbuka, ia keluar rumah. Dengan hati-hati ia melihat ke kanan dan ke kiri. Lampu senter disorotkan ke seluruh penjuru kebun, termasuk ke sumur tua yang berada di belakang rumahnya. Namun yang ada hanya kegelapan dan suara jangkrik mengerik serta belalang malam. Ia tidak melihat orang yang mengetuk-ketuk pintu itu.

Ora ono opo-opo…” gumamnya.

Setelah beberapa saat tertegun, ia kembali masuk rumah. Pintu belakang itu ditutup kembali lebih rapat dan dikunci dengan menyilangkan kayu. Ia pun melanjutkan tidur.

***

Sekitar pukul 05.00 Suto bangun pagi. Badannya masih terasa berat. Ia duduk termangu, tak segera beranjak dari tempat tidur. Rupanya kejadian yang dialami semalam masih menggangu pikiran. Berbagai pertanyaan menggelayut dibenaknya.

Siapa yang mengetuk pintu malam-malam itu? Mengapa mengetuk pintu belakang, dan ada urusan apa? Kenapa orang yang mengetuk pintu itu menghilang? 

Ah, embuh-lah… Mau setan, dhemit, gendruwo apa maling terserah….” gerutu Suto mengagetkan Poni, yang tengah memasak di dapur.

“Ada apa to Pak?” tanya Poni

Ora opo-opo,” jawab Suto singkat sambil berjalan keluar rumah.

Ora opo-opo kok ngomong sendiri. Seperti orang gemblung…” sahut Poni ketus.

“Ibu ngomong apa?”

“Udah, sana. Katanya mau ke sawah….”

***
Bersambung

#OneDayOnePost
Suparto 

Comments

  1. Hemm... Horor ni sepertinya...

    Lanjutkan pak parto..

    ReplyDelete
  2. Cerita horor? Wuduh...wedi rek.

    ReplyDelete
  3. Saya bantu doa, biar mudah ngelanjutinnya pak.
    Penulisan kata yg benar apa ya? Paroh atau paruh?

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih doanya. saya biar kuat melanjutkan cerita ini. soalnya banyak gangguan, baik yg halus maupun yg kasar.
      makasih. yg betul paruh baya. meski paruh juga bisa berarti 'cucuk' burung itu...

      Delete
  4. Replies
    1. mohon doanya ya. ini mau lanjutin cerita udah mulai ada gangguan ...
      seperti ada suara apa gitu....

      Delete
  5. Takutnya yang muncul makhluk halus hehe

    ReplyDelete
  6. Bagus pak

    Suka. Ditunggu kelanjutannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak. tapi ini harus melawan banyak gangguan. hal2 misteri bermunculan...

      Delete
    2. iya mbak. tapi ini harus melawan banyak gangguan. hal2 misteri bermunculan...

      Delete
  7. Wah, genre horor nih...., serem kalau bacanya malam-malam :D

    ReplyDelete

Post a Comment