Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2016

Pelatpulpen FLP Soloraya : Berharap Menjadi Penulis Handal

Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Soloraya, Ahad (29/5) mengadakan kegiatan pelatihan kepenulisan dan perekrutan (Pelatpulpen) Angkatan 10. Acara yang berlangsung di aula Kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah Surakarta itu diikuti 75 orang peserta. Menurut ketua FLP Soloraya, Opik Oman, Pelatpulpen kali ini cukup istimewa. Pertama, pesertanya ternyata tidak hanya berasal dari daerah Soloraya, tetapi juga dari luar. “Disamping dari Solo, Wonogiri, Sragen, Klaten, Karanganyar, Sukoharjo dan Boyolali, juga ada dua orang peserta dari Purworejo. Jadi ini sesuatu yang luar biasa,” kata Opik. Keistimewaan kedua, peserta Pelatpulpen mendapatkan kartu anggota Perpustakaan Daerah Surakarta.   Pelatpulpen angkatan 10 diisi pelatihan kepenulisan oleh tiga orang penulis. Pertama, Opik Oman sendiri yang terkenal dengan karya buku-buku fotokopian. Kedua, Dr. Siti Isnaniah, M.Pd (esais yang dosen IAIN Surakarta) dan ketiga, Afifah Afra, sekjen FLP Pusat dan seorang novelis yang telah melahirk

Radio Buana Asri Sragen Raih Predikat Penyiaran Terbaik Jateng

Piala Anugerah Penyiaran 2016             Radio Buana Asri Sragen berhasil meraih Anugerah Penyiaran Jawa Tengah sebagai Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Terbaik Tahun 2016 untuk kategori bidang kelembagaan.  Penetapan sebagai predikat terbaik diumumkan saat berlangsung Malam Anugerah Penyiaran 2016, Jumat malam (27/5)  di Pelataran Gedung Lawang Sewu yang berada di Kompleks Tugu Muda Semarang.            Acara Malam Anugerah Penyiaran yang diselenggarakan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jateng itu dikemas dalam tampilan gebyar sangat meriah dengan suguhan aneka hiburan dan pentas budaya. Malam Anugerah Penyiaran dihadiri Staf Ahli Kementerian Kominfo Bidang Komunikasi dan Media Massa, Henry Subiakto, Ketua dan Anggota Komisi Penyiran Indonesia (KPI) Pusat, Yudhariksawan dan Amirudin, Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo serta Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jateng Sri Puryono. Staf Ahli Kemenkominfo, Ketua KPI Pusat dan Gubernur Jateng dalam kesempatan te

Catatan Hari Jadi Sragen (Bag.2) : Kesadaran Sejarah Rendah?

Hari Jadi ke-270 Kabupaten Sragen yang jatuh pada tanggal 27 Mei 2016, seperti yang sudah berlangsung beberapa tahun, diperingati secara khusus oleh Pemerintah Kabupaten Sragen beserta warganya dengan berbagai kegiatan. Namun dalam catatan ini, saya ingin menyinggung kesadaran sejarah tentang Hari Jadi Sragen. Hal ini dapat kita perhatikan ketika tanggal 26 Mei malam, hampir semua warga di seluruh wilayah Rukun Tetangga (RT) yang berjumlah lebih dari 6000 RT, berkumpul mengadakan tirakatan. Malam tirakatan sebenarnya diadakan untuk menjadi media refleksi dan wujud rasa syukur kepada Allah, diisi dengan berbagai acara. Diantaranya, doa bersama, pemotongan nasi tumpeng , pembacaan riwayat singkat sejarah Sragen, pembacaan sambutan Bupati, sarasehan dan hiburan. Malam tirakatan diharapkan menjadi momen penting yang menggambarkan kebersamaan seluruh warga serta rasa kecintaan dan handarbeni (rasa memiliki) terhadap Sragen. Hanya Tahu Sekilas Meskipun hampir semua warga

Catatan Hari Jadi Sragen (Bag.1)

Prosesi Tumpeng Agung Puncak peringatan Hari Jadi ke-270 Kabupaten Sragen Tahun 2016, yang jatuh pada hari Jumat, 27 Mei berlangsung meriah. Pukul tujuh pagi, prosesi Kirab Ageng Tumpeng Agung Sukowati dan 270 buah tumpeng pengiring yang melambangkan usia Kabupaten Sragen dikirab dari Pendapa Rumah Dinas Bupati Somanegaran menuju Alun-alun Sasana Langen Putra. Di belakang tumpeng raksasa berbentuk gunungan tersebut,   terlihat puluhan orang putri pagar ayu yang membawa tumpeng dengan ukuran kecil, diikuti rombongan Bupati Kusdinar Untung Yuni Sukowati dan Wakil Bupati Dedi Endriyatno, anggota Forum Pimpinan Daerah, pejabat structural seluruh jajaran dinas, para camat, dan kepala desa/lurah. Para pengiring itu, yang pria berseragam baju surjan dan memakai ‘ iket’ di kepala, bersarung dan celana komprang ala prajurit Mataran. Sedangkan yang wanita berseragam baju lurik dan kebaya. Sementara ribuan masyarakat menyambut kirab di sepanjang jalan yang dilewati. Bar

Radio Buana Asri Sragen Masuk Nominasi Lembaga Penyiaran Terbaik Jateng 2016

Tim LPPL Buana Asri bersama Dewan Juri Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Radio Buana Asri Sragen masuk nominasi Calon Lembaga Penyiaran Terbaik Bidang Kelembagaan ‘Anugerah Penyiaran Jawa Tengah Tahun 2016’. Untuk menentukan predikat terbaik, Tim Radio Buana Asri, Ahad  (22/5) menjalani Uji Presentasi di hadapan Dewan Juri Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah di Semarang. Dewan juri berasal dari unsur independen, akademisi dan KPID. Presentasi disampaikan oleh anggota Dewan Pengawas LPPL Radio Radio Buana Asri Sragen, Suparto, didampingi tiga orang anggota tim, masing-masing Husbandiyah Hadiwarni (anggota Dewan Pengawas), Edy Harjanto (Dirut), dan Rara Anggita (penyiar). Dalam presentasinya, Suparto memaparkan berbagai hal terkait keberadaan dan peran LPPL Radio Buana Asri Sragen. Diantaranya tentang kelembagaan dan manajemen, program siaran, aspek teknis serta networking . Soal lain yang dipaparkan adalah keunggulan dan spesifikasi yang dimiliki Radio

Bukan Halusinasi ( Bag. 12 )

foto : google image Hampir satu bulan keberadaan sumur pak Suto menggegerkan warga dukuh Randu.   Meski sekarang kerumunan orang berangsur menghilang, namun sumber keramaian itu hingga kini masih dibicarakan banyak orang. Dalam berbagai kesempatan, soal “misteri sumur pak Suto” tetap jadi topik hangat obrolan warung kopi. Bahkan, sebuah Tabloid “Denyut” mengangkat fenomena langka di dukuh Randu menjadi laporan khusus. Judulnya, “Fenomena Sumur Pak Suto : Kontroversi Antara I lusi, Halusinasi, dan Misteri”. Kini pandangan orang diarahkan kepada sosok Suto untuk menguak “misteri sumur pak Suto” yang menggegerkan itu.  Tetapi, benarkah hanya lelaki sederhana ini saja yang harus dipermasalahkan? Adakah tokoh lain dibalik semua ini? Apa yang sebenarnya terjadi? *** Flashback - I Suto adalah anak tunggal Kromowiguna, salah seorang sesepuh – orang yang di- tua -kan di dukuh Randu. “Jaman penjajahan Belanda dulu, dukuh ini adalah kawasan hutan Randu. Kompeni mena

Bukan Halusinasi ( Bag. 11 )

Setelah aksi Tim SAR di dasar sumur, kerumunan orang di sekitar sumur milik Suto memang berangsur hilang. Tetapi persoalan misteri sumur Suto tidak berhenti sampai di sini. Kardi, salah seorang warga setempat, mengajak tiga temannya ke rumah Mbah Reso Sentul   yang dikenal sebagai sesepuh , orang yang paling dituakan di dukuh Randu. Meski usia Mbah Reso Sentul kini lebih 90 tahun tapi fisiknya masih terlihat sehat. Daya ingatan masih kuat dan bicaranya juga jelas. Rumah Mbah Reso yang berada di ujung kampung, amat sederhana. Hanya berukuran sekitar 4 x 5 meter dan berdinding bambu yang sudah usang. Di rumah, mbah Reso ditemani cucunya (suami isteri) yang mencukupi segala kebutuhannya. Sedangkan isteri Mbah Reso   sudah meninggal puluhan tahun lalu.   “Kulo nuwun Mbah Reso,” kata Kardi bersama ketiga temannya. “ Monggo ,” jawab Mbah Reso beranjak dari kursi menemui tamunya. Ia masih kuat berjalan sendiri tanpa penopang tongkat. Di rumah Mbah Reso hanya ada dua