Skip to main content

Posts

Showing posts with the label seni

Sang Otodidak

tak kenal lelah  terus bereksperimen

Gitarmu

Getar gitarmu Indah menyentuh

Band Perkim Park Sragen Menghibur Masyarakat Umum

Jagat musik di Bumi Sukowati - Sragen - kini disemarakkan dengan hadirnya Band Perkim Park. Kelompok musik bentukan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kabupaten Sragen ini sering tampil dalam berbagai acara. "Band Perkim Park yang di Launching 22 Agustus 2017, semua personilnya Staf Dinas Perkim. Beberapa kali kami tampil untuk menghibur masyarakat umum yang tengah menikmati suasana Car Free Day di area Taman Krido Anggo Sragen.  Kami juga pernah diundang tampil di Kantor Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Karanganyar," kata Kepala Dinas Perkim Sragen, Zubaidi, saat menemani personilnya tampil di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sragen, Sabtu (23/12/) dalam acara Resepsi Hari Ibu 2017. Band Perkim Park mengiringi joget para pejabat Sragen di acara Hari Ibu 2017 "Sementara kami fokus membawakan lagu-lagu Koes Plus . Kebetulan penggemarnya di Sragen lumayan banyak. Kalau pas manggung di Teater Arena  Taman Krido Anggo, silahkan  request...

Srawung Lesung Agar Tetap Jumengglung

Lesung jumengglung, sru imbal-imbalan Lesung jumengglung, maneter mangungkung Ngumandhang ngebaki sak jroning pradesan Thok-thok thek, thok-thok gung Thok-thok thek, thok-thek thok gung Thok-thok thek, thok-thok gung thok-thok thek, thok-thek thok gung *** Itulah Gendhing/lagu berjudul Lesung Jumengglung karya Ki Narto Sabdo,  yang terus Mangungkung memenuhi area Sanggar Seni Serambi Sukowati' Kampung Sragen Dok, Sragen Wetan, Sragen dalam pagelaran Festival Srawung Lesung, Pesta Musik Lesung dan Ketoprak Lesung, Sabtu malam (25/11/2017). Acara yang diselenggarakan oleh Sanggar Seni Serambi Sukowati Sragen bekerjasama dengan Direkrorat Kesenian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tersebut diikuti tujuh kelompok kesenian lesung. Peserta dari Tangkil  Pagelaran dimulai pukul 15.30 dengan tampilnya Reog Krida Taruna dari Gondang, disusul Rebana Lesung Walisongo. Usai Mangrib, dilanjutkan dengan penampilan kelompok kesenian L...

ASYIKNYA NONTON PERTUNJUKAN PANTOMIM

Nonton pertunjukan Pantomim tunggal oleh seniman Andy Sri Wahyudi, Rabu malam (25/10/2017) di Pendopo Sanggar Seni Serambi Sukowati Sragen, cukup mengasyikkan. Pertunjukan Pantomim yang bertajuk "I Hate My Self" itu menyuguhkan empat lakon. Yakni. "Pertemuan Seusai Hujan" , "Dilarang Berburu Burung, Apalagi Burung yang Sedang Pacaran" , "Boneka yang Tidak Lucu dan Berisik" , dan "Kamu Tak Pernah Tahu perasaanku" . Setting dan artistik lokasi atau panggung sederhana yang terkesan awut-awutan garapan Yudi Becak, membuat penonton yang duduk lesehan terasa menyatu dengan sang Aktor sekaligus sutradara yang berasal dari Bengkel Mime Theater Yogya ini. Adegan "Pertemuan Seusai Hujan" Adegan demi adegan ditampilkan Andy dengan apik, dan tentu saja kocak. Pada penampilan pertama dan kedua, Andy membawakan karyanya dengan dominasi gerak tubuh dan mimik, hanya sesekali muncul suara dari mulutnya. Sedangkan penampilan pada la...

REOG PONOROGO DI RESEPSI PERNIKAHAN

Acara resepsi pernikahan yang diselenggarakan keluarga Iptu Yulianto, SH/Anik Rifiati, warga Plumbungan Indah, Sragen, Ahad (17/9/2017) cukup unik. Saat acara di Gedung Sasana Manggala Sukowati (SMS), dimeriahkan dengan atraksi Seni Reog Ponorogo. Yang menarik, para penerima tamu (among tamu) lelaki juga berpakaian ala Warok Ponorogo sehingga menambah kental nuansa Pororagan . Usai acara di gedung, penampilan Reog ini berlanjut sore hari, dengan keliling kampung dan atraksi khusus di dua Lapangan Volly setempat yang ditonton ratusan warga. Keluarga Iptu Yulianto, SH/Anik Rifiati menikahkan putrinya, Bripda Coot Yerzi Serla Sifindyo, SH dengan Brigadir Andi Nur Oktavia, SH putra dari H. Sukiman/Hj.Darminah, warga Dukuh Kepoh, Desa Wonokerso, Kedawung, Sragen. Itulah cara keluarga Iptu Yulianto, SH/Anik Rifiati melestarikan seni budaya asal mereka, Ponorogo, Jawa Timur, sekaligus bisa menghibur warga, tempat mereka tinggal sekarang. Suparto  

PENDAPA PRAWIROJAYAN AKHIRNYA TERJUAL

Rumah kuno dengan Pendapanya yang megah itu sudah berdiri lebih dari satu abad. Keberadaan Pendapa   tersebut bahkan telah menyatu dengan masyarakat. Warga bebas memanfaatkan untuk kepentingan umum, terutama untuk gladen (latihan) berbagai jenis seni dan menjadi tempat berkumpulnya   banyak kalangan. Pendapa itu dulu oleh Den Bei, pemilik rumah, dinamakan Prawirojayan. Tapi beberapa orang menyebutnya sebagai Pendapa Kamardikan. Sebelum meninggal dunia, Den Bei berpesan kepada anak cucunya agar menjaga dan merawat Pendapa sehingga tetap bisa memberikan manfaat bagi seluruh keluarga dan masyarakat. Namun setelah sekian tahun Den Bei meninggal dunia, seiring dengan perubahan zaman, pola pikir dan perilaku anak cucunya ikut tergerus.   Mereka ingin mengikuti tren dunia modern, dan itu butuh biaya. Sayangnya, pikiran mereka cupet , dangkal. Pendapa agung, harta warisan leluhur yang seharusnya dijaga, dirawat dan dilestarikan sebagai monument sejarah trah kelu...

DIBALIK KEINDAHAN

Seni adalah keindahan Yang memantulkan pesona Yang dapat dinikmati jiwa dan rasa Meski kadang sulit dimengerti Apa makna dibalik keindahan Suparto  # Pesona

Ada Apa Dengan Serambi Sukowati Sragen (Part.2)

-       Angkat Tema-tema Aktual - Komplek Serambi Sukowati berada di tengah kampung. Tepatnya di Jalan Dr. Wahidin No.9 Kampung Sragen Dok RT. 17/RW.06 Sragen Wetan. Pada hari-hari biasa, komplek   serambi Sukowati ini terlihat sepi. Tapi ketika berlangsung kegiatan latihan maupun pentas seni, kawasan ini terasa hidup.  Saat mau pentas Sandiwara misalnya, para punggawa Sanggar Seni sibuk mengatur tempat, tata letak, tata panggung, tata lampu, perangkat music, dan berbagai kelengkapan lainnya.   Begitu juga untuk kegiatan pentas seni lainnya. “Meski dengan fasilitas seadanya, kami berusaha untuk menyuguhkan tampilan yang maksimal dan berkualitas, sekaligus menjadi hiburan segar bagi masyarakat. Teman-teman seniman itu punya semangat yang luar biasa.” Mbah Pine Wiyatno, ketua Sanggar Seni Serambi Sukowati, menjelaskan. " Mbah Pine" Wityatno Pentas seni Seraambi Sukowati banyak mengangkat tema-tema aktual, realitas sos...

Ada Apa Dengan Serambi Sukowati Sragen (Part.1)

~Seperti Orang Bermata Satu di Negeri Buta~ Nama Serambi Sukowati sudah puluhan tahun dikenal sebagai ajang latihan dan pentas seni di kota Sragen. Di komplek Serambi Sukowati, berdiri dua bangunan rumah pendopo, yakni Pendopo Pangrawit dan Pendopo Limasan . Ada satu lagi bangunan yang tidak begitu besar, namanya “Kandang Kebo”. Agus Fatchur Rahman, mantan Bupati Sragen 2011-2016 yang rumahnya di wilayah Sragen Wetan dijadikan markas Serambi Sukowati menceritakan, Pendopo itu dibangun sekitar 15 tahun   lalu, saat dirinya masih menjabat sebagai Wakil Bupati.  Tempat ini menjadi arena ekspresi dan eksplorasi kesenian para seniman Sragen bernama Komunitas Kerabat Serambi Sukowati. Kini komunitas itu telah menjadi sebuah Sanggar Seni sebagai wahana pengembangan berbagai kesenian. Apa dan bagaimana sebenarnya keberadaan Serambi Sukowati dan harapan ke depan? Berikut sekilas penuturan Agus Farchur Rahman,  sang pemilik dan penggagasnya, saat menyaksikan pe...

Wayang Cokekan Ungkap Sejarah dan Realitas Sosial di Sragen

Sanggar Seni Serambi Sukowati Sragen, Rabu malam (21/6/2017) kembali menggelar acara Wungon. Kali ini menampilkan Wayang Cokekan dengan lakon "Ndaru Ing Bumi Sukowati." Wayang Cokekan dimainkan dalang Ki Joko Zenden dari Ngrampal dengan waranggana Nyi Ninik dari Pilangsari. Pagelaran Wayang kreatif Cokekan ini menjadi tontonan menarik karena berkolaborasi dengan Ketoprak Serambi Sukowati. Sejak pukul setengah sepuluh malam hingga dini hari menjelang makan sahur, puluhan penonton bertahan untuk menikmati suguhan hiburan kocak tapi sarat dengan pesan moral. Wayang Cokekan mungkin hanya dikenal di Kabupaten Sragen yang dijuluki sebagai tlatah Sukowati ini. Wayang yang ditampilkan menggambarkan karakter tokoh-tokoh dalam lakon dengan wujud yang lucu. Begitu juga gamelan yang ditabuh para niyaga grup karawitan selalu menyuguhkan gendhing-gendhing Cokekan gaya Sragenan. Lakon "Ndaru Ing Bumi Sukowati" bercerita tentang perjuangan Pangeran Mangkubumi melawan ...

Kisah Di Balik Novel “Ketika Mas Gagah Pergi”

Ratusan hadirin yang memadati ruang seminar masjid Nurul Huda UNS Solo, Ahad (18/12/2016) siang itu seperti terhipnotis oleh suara lantang seorang wanita berjilbab bernama Helvy Tiana Rosa. Semua hadirin diam menyimak, karena tak ingin kehilangan satu kata pun ketika wanita berusia 46 tahun ini mengisahkan proses kreatif lahirnya karya novel berjudul “Ketika Mas Gagah Pergi”. “Bagaimana awalnya Bunda Helvy bisa menciptakan tokoh utama Mas Gagah dan Gita, membangun konflik dan kisah pergulatan batin didalamnya, sehingga mampu menggugah kesadaran bagi para pembaca?” Tanya seorang peserta acara Bedah Novel dan pemutaran film Ketika Mas Gagah Pergi. Helvy pun bercerita panjang lebar dengan lancar, seperti memutar   kaset rekaman perjalanan yang dialami lebih dari dua puluh tahun lalu. “Novel ‘Ketika Mas Gagah Pergi’ (KMGP) awalnya saya tulis dalam bentuk cerita pendek (cerpen) untuk memenuhi tugas   sang dosen ketika kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia ...