Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Sejarah

PERISTIWA G30S-PKI DAN SISI GELAP SEJARAH INDONESIA

Peristiwa tragedi Gerakan 30 Sepetember atau dikenal dengan sebutan G30S-PKI, terjadi tanggal 30 September 1965, lebih dari setengah abad yang lalu. Namun sampai sekarang masih menyisakan misteri bagi banyak pihak. Dalam perisitiwa tersebut, beberapa perwira tinggi militer Indonesia diculik dan dibunuh dalam suatu usaha kudeta (pengambilan kekuasaan) yang kemudian dituduhkan kepada anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Seperti kita saksikan dalam sebuah film “Pengkhiantan G 30 S-PKI”. Film ini mengisahkan betapa sadisnya para anggota gerakan 30 September tersebut menculik, menyiksa, dan membunuh para jenderal, yang kemudian dimasukkan ke dalam sebuah sumur di Lubang Buaya. Terlepas dari siapa yang benar dan salah, namun hingga saat ini, nilai kebenaran sejarah September berdarah tersebut masih selalu ramai dipertanyakan dan diperdebatkan. Peristiwa ini pun menjadi sisi gelap dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia.   Perstiwa tragedi G 30 S-PKI telah memunculkan ...

Sumpah Pemuda

Hari ini, Minggu, 28 Oktober 2018 diperingati 90 Tahun Sumpah Pemuda.   Sumpah Pemuda  adalah satu tonggak utama dalam sejarah  pergerakan kemerdekaan Indonesia . Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara  Indonesia . Yang dimaksud dengan "Sumpah Pemuda" adalah keputusan  Kongres Pemuda Kedua  yang diselenggarakan dua hari, 27-28 Oktober 1928 di  Batavia  (Jakarta). Keputusan ini menegaskan cita-cita akan ada "tanah air Indonesia", "bangsa Indonesia", dan "bahasa Indonesia". Keputusan ini juga diharapkan menjadi asas bagi setiap "perkumpulan kebangsaan Indonesia" dan agar "disiarkan dalam segala surat kabar dan dibacakan di muka rapat perkumpulan-perkumpulan". Istilah "Sumpah Pemuda" sendiri tidak muncul dalam putusan kongres tersebut, melainkan diberikan setelahnya. Berikut ini adalah bunyi tiga keputusan kongres tersebut sebagaimana tercantum ...

Penculikan Serentak Dalam Peristiwa G30S

Tujuh kelompok pasukan yang bertugas menculik para perwira tinggi militer TNI-AD bergerak secara serentak menuju tujuh titik kediaman sasaran. Satu pasukan menuju kediaman Jenderal A.H Nasution, dan pasukan lain ke kediaman Mayjen A.Yani, Mayjen S.Parman, Mayjen TNI Suprapto, Mayjen TNI MT.Haryono, Brigjen TNI Sutojo S., serta kediaman Brigjen TNI D.I.Pandjaitan. Pasukan yang bertugas menculik Mayjen TNI MT.Haryono dipimpin Serma Bungkus. Setibanya di rumah sasaran di jalan Prambanan 8 Jakarta, Serma Bungkus memberitahu istri MT.Haryono bahwa suaminya dipanggil presiden. Istri MT. Haryono membangunkan suaminya di kamarnya. Namun Haryono menaruh curiga, dan melalui istrinya, dia meminta agar kembali lagi sekitar pukul 08.00. Serma Bungkus memaksa agar beliau berangkat malam ini juga. Karena menyadari sesuatu yang tidak wajar, beliau meminta kepada istri dan anak-anaknya pindah ke kamar sebelah. Sementara itu Serma Bungkus dan beberapa anggota penculik berteriak-teriak meminta agar...

Penculikan Jenderal

Setelah semua pasukan penculik dipersiapkan dan terkondisikan dengan baik, mereka segera pergi melaksanakan tugasnya masing-masing. Baca... Kronologi... Pasukan di bawah pimpinan Pelda Djajurup dengan berkendaraan truk berangkat dari Lubang Buaya sekitar jam 03.00 menuju ke kediaman Jenderal A.H.Nasution di jalan Teuku Umar 40 Jakarta. Ketika pasukan penculik melewati kediaman Dr. Leimena yang berdekatan dengan rumah Jenderal A.H.Nasution, yaitu di jalan Teuku Umar36, mereka membunuh pegawai yang bertugas di rumah Dr. Leimena, yaitu Ajun Inspektur Polisi Karel Satsuit Tubun. Istri A.H.Nasution ketika mengetahui ada sejumlah orang bersenjata masuk secara paksa ke dalam rumah, segera mengunci pintu kamar dan memberitahu suaminya tentang adanya orang-orang yang mungkin bermaksud tidak baik. Tapi Nasution kurang yakin akan keterangan istrinya, dan segera membuka pintu kamar. Ketika melihat pintu dibuka, anggota penculik segera melepaskan tembakan ke arahnya, dan seketika itu beli ...

Kronologi Menjelang Peristiwa G30S

Peristiwa berdarah dalam aksi bersenjata yang dikenal dengan Gerakan 30 September (G30S) di Jakarta ini, diperkirakan terjadi pukul 00.00, tanggal 30 September 1965. Pada versi yang lain dimulai pada tanggal 1 Oktober 1965 sekitar pukul 01.30 (Herman Dwi Sucipto, 2014). Pada awal peristiwa tersebut, Letnan Kolonel Inf. Untung dengan diikuti Sjam, Pomo, Brigjen TNI Supardjo dan Kolonel Inf. A. Latief tiba di kawasan Lubang Buaya. Ia memberikan perintah pelaksanaan kepada semua komandan pasukan agar segera berangkat menuju ke sasaran masing- masing yang telah ditetapkan. Adapun perintah yang diberikan kepada pasukan-pasukan dalam Gerakan 30 September ini adalah sebagai berikut : 1. Pasukan Pasopati  Tugas Pasukan Pasopati adalah menculik para Jenderal Pimpinan TNI-AD dan membawanya ke Lubang Buaya. Kekuatan bersenjata yang tergabung dalam Pasukan Pasopati terdiri atas satu Batalyon Infantri, minus dari Brigadir Kolonel Inf. A. Latief, satu Kompi Cakrabirawa dari Batalyon pi...

Gerakan 30S-PKI Dalam Siaran RRI

Gedung RRI Pusat Hari ini, tanggal 30 September 2018, kita coba buka lembaran sejarah kelam bangsa Indonesia ketika 53 tahun lalu terjadi pembunuhan enam perwira tinggi militer yang dikenal sebagai peristiwa Gerakan 30S-PKI.  Tulisan ini tidak bermaksud mengungkit-ungkit borok bangsa, namun untuk mengingatkan kita semua, kemudian diambil pelajaran dan hikmahnya agar pertiwa itu tidak terulang lagi. Dalam tulisan ini saya ingin menyampaikan sisi lain tentang peristiwa berdarah itu dalam siaran Radio Republik Indonesia (RRI) pusat Jakarta berdasarkan buku Herman Dwi Sucipto (2014) berjudul “Mengurai Kabut Pekat Dalang G30S Antara Fakta dan Rekayasa.” Mengenai  beberapa catatan tentang buku tersebut telah saya tulis setahun yang lalu. Lihat… MISTERI DALANG G30S-PKI *** Dalam peristiwa pembunuhan yang terjadi pada tanggal 30 September sampai 1 Oktober 1965, enam perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam suatu usaha yang di...

272 Tahun Kabupaten Sragen

Hari ini, 27 Mei 2018, Kabupaten Sragen berusia 272 tahun. Hari Jadi Sragen ke-272 mengangkat tema "Guyub Rukun, Kerjo Tekun, Nyawiji Bekti Kanggo Bumi Sukowati".  Berikut sekilas sejarah perjalanan panjang Kabupaten Sragen yang dikenal dengan julukan Bumi Sukowati.   Menurut Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Sragen Nomor 4 Tahun 1987, Hari Jadi Kabupaten Sragen ditetapkan pada hari Selasa Pon, tanggal 27 Mei 1746. Tanggal dan waktu tersebut adalah dari hasil penelitian serta kajian pada fakta sejarah, ketika Pangeran Mangkubumi yang kemudian hari menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono ke I, menancapkan tonggak pertama melakukan perlawanan terhadap Belanda menuju bangsa yang berdaulat dengan membentuk suatu pemerintahan lokal di   Desa Pandak Karangnongko masuk tlatah Sukowati. Proses dan Kronologi Pangeran Mangkubumi adik dari Sunan Paku Buwono II di Mataram sangat membenci Kolonialis Belanda. Apalagi setelah Belanda banyak mengintervensi Mataram sebagai ...

Tirakatan Hari Jadi Sragen : Generasi Muda Perlu Belajar Sejarah

Hari Jadi ke-272 Kabupaten Sragen yang jatuh pada tanggal 27 Mei 2018, diperingati secara khusus oleh Pemerintah Kabupaten Sragen beserta warganya dengan berbagai kegiatan. Yang terlihat menonjol, pada tanggal 26 Mei malam, hampir semua warga di seluruh wilayah Rukun Tetangga (RT) yang berjumlah lebih dari 6000 RT, berkumpul mengadakan tirakatan. Malam tirakatan sebenarnya diadakan untuk menjadi media refleksi dan wujud rasa syukur kepada Allah, diisi dengan berbagai acara. Diantaranya, doa bersama, pemotongan nasi tumpeng, pembacaan riwayat singkat sejarah Sragen, pembacaan sambutan Bupati, sarasehan dan hiburan. Malam tirakatan diharapkan menjadi   momen penting yang menggambarkan kebersamaan seluruh warga serta rasa kecintaan dan handarbeni (rasa memiliki) terhadap Sragen. Meskipun hampir semua warga terlibat dalam perayaan tersebut, tetapi bagi sebagian besar warga Sragen, termasuk para pejabat, pendidik dan tokoh masyarakat,   kalau ditanya hakikat (substansi)...

PERTEMPURAN TERHEBAT DALAM SEJARAH DEKOLONISASI

Tanggal 10 November diperingati segenap bangsa Indonesia sebagai Hari Pahlawan. Peringatan ini untuk mengenang jasa para pahlawan dari segala lapisan yang dengan gigih berjuang dan bertempur habis-habisan sampai titik darah terakhir dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Hari Pahlawan yang kita peringati sekarang ini didasarkan pada peristiwa pertempuran terhebat dalam sejarah dekolonisasi dunia, yakni "Pertempuran 10 November 1945" di Surabaya, Jawa Timur. Sebuah peristiwa yang memperlihatkan kepada dunia, betapa segenap Rakyat Indonesia dari berbagai lapisan bergerak bersama, melebur menjadi satu dan berikrar : menyerahkan seluruh jiwa raganya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia! Pertempuran Surabaya merupakan peristiwa sejarah perang antara pihak tentara Indonesia dan pasukan Britania Raya. Peristiwa besar ini terjadi pada tanggal 10 November 1945 di Kota Surabaya, Jawa Timur. Pertempuran ini adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan a...