Orang bijaksana tidak pernah duduk meratapi kegagalannya, tetapi dengan gembira hati dia mencari jalan bagaimana memulihkan kembali kerugian yang dideritanya. - Shakespear - Ada kejadian, seseorang mengalami kecelakaan yang tidak terlalu berat, mengakibatkan luka fisik pada bagian wajahnya. Akibat luka fisik tersebut membuat dirinya merasa malu, takut bercermin atau berinteraksi dengan orang lain. Dia bahkan menarik diri dari kehidupan masyarakat dan menutup diri. P adahal, luka fisik itu sebenarnya bisa disembuhkan dan pulih kembali. Luka fisik itu lebih mudah disembuhkan! Bagaimana dengan luka emosional? Luka emosional lebih menyakitkan! Anda tidak dapat melihatnya, tidak dapat merabanya, tetapi ia dapat membuat perut keroncongan dan hati berdebar. Tidak ada bukti keberadaannya, tapi ia dapat menimbulkan rasa pusing, mual, insomnia, serangan jantung, gangguan pencernaan, bahkan stres dan depresi. Ia lebih dalam dari luka-l...
1. Mencari Kebahagiaan Melalui Pemikiran Para Tokoh Sejak zaman dahulu, kebahagiaan menjadi salah satu persoalan penting yang dipikirkan manusia. Para filsuf, pemimpin spiritual, ilmuwan, dan tokoh masyarakat berusaha memahami apa yang membuat kehidupan menjadi baik dan layak dijalani. Sebagian menekankan pentingnya kebajikan dan karakter. Sebagian membahas ketenangan batin. Ada pula yang menyoroti hubungan antarmanusia, rasa syukur, tujuan hidup, dan kemampuan menghadapi kesulitan. Kita tidak harus menerima seluruh pemikiran seorang tokoh secara mutlak. Kita dapat mempelajarinya secara kritis, mengambil pelajaran yang bermanfaat, dan menempatkannya sesuai dengan nilai-nilai yang kita yakini. Berikut beberapa pemikiran penting mengenai kebahagiaan yang dapat menjadi bahan refleksi. Aristoteles: Bahagia Melalui Kehidupan yang Baik Aristoteles (384–322 SM) Filsafat kebajikan dan kehidupan yang berkembang dengan baik Aristoteles merupakan salah satu filsuf Yunani yang memberikan perhatian...