Skip to main content

Posts

https://supartoparto.blogspot.com/2018/03/cara-menghindari-hidup-ruwet.html?m=1

Buang Jauh Luka Emosional Anda

Orang bijaksana tidak pernah duduk   meratapi kegagalannya, tetapi dengan gembira hati dia mencari jalan bagaimana memulihkan kembali kerugian yang dideritanya.   - Shakespear -  Ada kejadian, seseorang mengalami kecelakaan yang tidak terlalu berat, mengakibatkan luka fisik pada bagian wajahnya. Akibat luka fisik tersebut membuat dirinya merasa malu, takut bercermin atau berinteraksi dengan orang lain. Dia bahkan menarik diri dari kehidupan masyarakat dan menutup diri.   P adahal, luka fisik itu sebenarnya bisa disembuhkan dan pulih kembali. Luka fisik itu lebih mudah disembuhkan! Bagaimana dengan luka emosional?  Luka  emosional lebih menyakitkan!   Anda tidak dapat melihatnya, tidak  dapat merabanya, tetapi ia dapat membuat perut keroncongan dan hati berdebar. Tidak ada bukti keberadaannya, tapi ia dapat menimbulkan rasa pusing, mual, insomnia, serangan jantung, gangguan pencernaan, bahkan stres dan depresi.  Ia lebih dalam dari luka-l...
Recent posts
  Mengatasi Penurunan Semangat Ibadah di Akhir Ramadan. Momen penghujung bulan suci sering kali menjadi ujian terberat bagi setiap Muslim karena konsentrasi mulai terpecah antara urusan ukhrawi dan kesibukan duniawi.  Banyak yang terjebak dalam rasa malas yang merugikan.  Futur adalah kondisi menurunnya semangat, kendor, atau malas dalam beribadah dan melakukan ketaatan. Padahal sebelumnya rajin dan bersemangat. Fenomena berkurangnya shaf di masjid berbanding terbalik dengan keramaian di pusat perbelanjaan merupakan pemandangan yang jamak ditemui di tengah masyarakat.  Pahami cara atasi penurunan semangat ibadah di akhir Ramadan secara mendalam menjadi kunci utama untuk memastikan sepuluh malam terakhir tetap diisi dengan ruku’, sujud, dan tilawah yang berkualitas demi meraih kemuliaan Lailatul Qadar. Strategi Spiritual Mengatasi Futur Secara psikologis, tubuh manusia cenderung mengalami kelelahan setelah dua puluh hari berpuasa. Di sisi lain, tekanan sosial untuk me...

Jalan Menuju Bahagia ( Bag. 3 )

Mencari Kebahagiaan Melalui Pemikiran Para Tokoh Sejak zaman dahulu, kebahagiaan menjadi salah satu persoalan penting yang dipikirkan manusia. Para filsuf, pemimpin spiritual, ilmuwan, dan tokoh masyarakat berusaha memahami apa yang membuat kehidupan menjadi baik dan layak dijalani. Sebagian menekankan pentingnya kebajikan dan karakter. Sebagian membahas ketenangan batin. Ada pula yang menyoroti hubungan antarmanusia, rasa syukur, tujuan hidup, dan kemampuan menghadapi kesulitan. Kita tidak harus menerima seluruh pemikiran seorang tokoh secara mutlak. Kita dapat mempelajarinya secara kritis, mengambil pelajaran yang bermanfaat, dan menempatkannya sesuai dengan nilai-nilai yang kita yakini. Berikut beberapa pemikiran penting mengenai kebahagiaan yang dapat menjadi bahan refleksi. 1. Aristoteles: Bahagia Melalui Kehidupan yang Baik Aristoteles (384–322 SM) Filsafat kebajikan dan kehidupan yang berkembang dengan baik Aristoteles merupakan salah satu filsuf Yunani yang memberikan perhatian...

Jalan Menuju Bahagia (Bag.2)

    APA ITU BAHAGIA? 1 . Memahami Arti Kebahagiaan Bahagia merupakan kata yang sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat luas. Hampir setiap orang mengenal kata bahagia, menginginkannya, dan berusaha meraihnya. Namun, ketika ditanya apa sebenarnya arti kebahagiaan, jawaban setiap orang mungkin berbeda-beda. Bagi seorang petani, kebahagiaan bisa hadir ketika tanaman yang dirawat selama berbulan-bulan menghasilkan panen yang melimpah. Bagi seorang pedagang, kebahagiaan terasa ketika usahanya berkembang dan mampu mencukupi kebutuhan keluarga. Bagi orang tua, kebahagiaan mungkin terletak pada keberhasilan mendidik anak-anaknya menjadi pribadi yang saleh, mandiri, dan bertanggung jawab. Sementara itu, bagi seseorang yang sedang sakit, kebahagiaan bisa sesederhana merasakan tubuh yang kembali sehat. Bagi orang yang lama merantau, kebahagiaan dapat berupa kesempatan pulang ke kampung halaman dan berkumpul bersama keluarga. Dari berbagai gambaran tersebut, kita dapat memahami bahwa...

Jalan Menuju Bahagia (Bag.1)

1. Mencari Kebahagiaan dalam Kehidupan Setiap manusia pada dasarnya ingin hidup bahagia. Tidak ada orang yang dengan sengaja menginginkan hidupnya dipenuhi kesedihan, kegelisahan, kekecewaan, dan penderitaan. Sejak kecil hingga memasuki usia senja, manusia terus berusaha mencari sesuatu yang diyakini dapat mendatangkan kebahagiaan. Ada orang yang bekerja keras untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik. Ada yang berjuang membangun karier, meraih jabatan, dan memperoleh penghargaan. Ada pula yang mencurahkan seluruh tenaga dan pikirannya untuk membangun keluarga yang harmonis, mendidik anak-anak, serta memberikan kehidupan yang layak bagi orang-orang yang dicintainya. Semua itu merupakan bagian dari ikhtiar manusia dalam menjalani kehidupan. Namun, muncul sebuah pertanyaan yang patut kita renungkan: apakah semua yang kita kejar benar-benar menjamin kebahagiaan. Kita mungkin pernah menyaksikan seseorang yang memiliki kekayaan melimpah, tetapi hidupnya dipenuhi kegelisahan. Ada orang y...