Skip to main content

Halal Bihalal dan Hari Kartini




Inti kegiatan Halal bihalal yang selama ini berjalan adalah saling memaafkan (islah) untuk membersihkan hati dari kesalahan dan mempererat silaturahmi, khususnya setelah bulan Ramadan dan Idul fitri. 

Tradisi khas Indonesia ini bertujuan menyambung hubungan yang renggang dan menciptakan keharmonisan sosial. 

Ungkapan yang sering muncul, Taqabbalallahu minna wa minkum.  Minal 'aidin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin. 

Sebenarnya saling memaafkan itu tidak harus dilakukan di bulan Syawal setelah Ramadhan. Yang terbaik, ketika orang merasa bersalah kepada orang lain, ya segera minta maaf. 

...

Kegiatan Halal bihalal yang dirangkaikan dengan peringatan Hari Kartini sebagai momentum mempererat silaturahmi sekaligus meneguhkan peran perempuan dalam keluarga, masyarakat, dan pembangunan bangsa.

Semangat Halal bihalal dan Hari Kartini menjadi pengingat pentingnya menjaga persatuan serta meningkatkan kontribusi perempuan di berbagai bidang. 

“Momentum yang tepat untuk mempererat kebersamaan memperkuat silaturahmi, dan meneladani semangat Kartini yang terus relevan hingga saat ini."

Kegiatan ini menjadi inspirasi bagi seluruh anggota untuk terus berkarya dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Semangat Kartini harus terus hidup melalui karya nyata, kepedulian sosial, dan kontribusi perempuan dalam mendukung pembangunan bangsa.

Semoga momentum Halal Bihalal ini semakin mempererat tali silaturahmi, memperkuat kebersamaan, serta menumbuhkan semangat baru dalam pengabdian kepada masyarakat.

Raden Ajeng Kartini memandang sikap saling memaafkan sebagai bentuk kedewasaan mental, kerendahan hati, dan kekuatan jiwa yang sangat penting, terutama dalam konteks perjuangan dan kemanusiaan.

Kartini menunjukkan sikap pemaaf dengan mengesampingkan egonya, contohnya ketika ia menerima takdir dan mematuhi kehendak orang tua untuk menikah, meskipun bertentangan dengan impian pribadinya. 

Memaafkan untuk Kedamaian: 

Sikap memaafkan dianggap sebagai cara untuk melepaskan diri dari beban benci dan dendam, sehingga hati menjadi tenang dan bisa fokus pada hal-hal yang lebih positif dan konstruktif.

Dalam pemikiran Kartini, sikap pemaaf adalah salah satu nilai pendidikan karakter yang penting, di samping toleransi, kepedulian, dan keteguhan hati.

Saling memaafkan menjadi landasan untuk membangun persatuan yang kokoh dalam masyarakat.

Bagi Kartini, memaafkan bukanlah tanda kelemahan, melainkan wujud kekuatan untuk berdamai dengan keadaan dan diri sendiri demi mencapai kemajuan yang lebih besar.

Pandangan R.A. Kartini mengenai sikap saling memaafkan berakar pada nilai-nilai kemanusiaan, kelapangan hati, serta kedamaian yang melampaui ego pribadi.

Pentingnya Kelapangan Hati: Kartini menekankan pentingnya membersihkan hati dan merendahkan ego untuk membuka ruang saling memaafkan.

Memaafkan sebagai Kekuatan (Bukan Kelemahan): Sebagai bentuk kemurahan hati dan belas kasih, yang merupakan cara untuk berdamai dengan diri sendiri dan hidup bahagia.

Dalam situasi yang sulit atau penuh konflik, Kartini mengutamakan kesabaran dan sikap pemaaf. Hal ini tercermin dari keteguhan hatinya dalam menghadapi rintangan.

Sikap saling memaafkan sering dikaitkan dengan semangat persatuan, untuk kembali ke fitrah.

Contoh Tindakan Nyata: Kartini menunjukkan sikap ini dalam kehidupan nyatanya, salah satunya dengan mengesampingkan ego dan mematuhi orang tua, meskipun dalam situasi yang menantang. 

Singkatnya, bagi Kartini, memaafkan adalah bentuk kedewasaan jiwa dan kekuatan mental yang memungkinkan seseorang untuk melangkah maju, mengatasi perbedaan, dan menciptakan harmoni dalam masyarakat. 

Contoh: 

Surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar, 23 Agustus 1900.

“Aku akan mengajari anak-anakku, baik laki-laki maupun perempuan untuk saling menghormati sebagai sesama dan membesarkan mereka dengan perlakuan sama, sesuai dengan bakat mereka masing-masing.”

Surat RA Kartini kepada Ny. Abendanon 15 Juli 1902

“… dan kami yakin seyakin-yakinnya bahwa air mata kami, yang kini nampaknya mengalir sia-sia itu akan ikut menumbuhkan benih yang akan mekar menjadi bungaS-bunga yang akan menyehatkan generasi-generasi mendatang.”

Kartini juga menulis kepada Stella, "Agama itu akan menurunkan Rahmat kepada manusia, supaya bisa silaturahim ke segala makhluk Allah."

Comments

Popular posts from this blog

ATUR PASRAH BOYONG TEMANTEN KEKALIH

Salah satu rangkaian adat Jawa setelah melangsungkan resepsi pernikahan adalah, keluarga temanten perempuan memboyong kedua mempelai kepada keluarga orangtua mempelai laki-laki (besan).  Sebelum masuk rumah keluarga besan, diadakan acara “Atur Pasrah” dari keluarga mempelai perempuan, dan “Atur Panampi” dari keluarga besan. Berikut adalah tuladha (contoh) sederhana “Atur Pasrah” yang saya susun dan laksanakan. *** Assalamu ‘alaikum Wr.Wb. Bismillahirrahmanirrahim. Al-hamdu lillahi rabbil ‘alamin. * Para sesepuh pinisepuh ingkang dahat kinabekten ** Panjenenganipun Bp.Waluyo dalasan Ibu Sumarni ingkang kinurmatan *** P ara rawuh kakung putri ingkang bagya mulya . Kanti  ngunjukaken raos syukur dumateng Allah SWT, Gusti Ingkang Moho Agung. Sowan kula mriki dipun saroyo dening panjenenganipun Bapa Haji Supriyadi, S.Pd dalasan Ibu Hajah Lasmi ingkang pidalem wonten Plumbungan Indah RT.27/RW.08 Kelurahan Plumbungan, Kecamatan Karangmalang, Sragen, kepar...

TANGGAP WACANA ATUR PAMBAGYA HARJA

Pada rangkaian acara resepsi pernikahan, keluarga yang mempunyai hajat (punya kerja), berkewajiban menyampaikan sambutan (tanggap wacana) selamat datang kepada seluruh hadirin. Dalam tatacara resepsi adat Jawa disebut Atur Pambagya Harja, atau atur pambagya wilujeng. Dalam sambutan ini, orang yang punya kerja akan mewakilkan kepada orang tertentu yang ditunjuk, biasanya ketua RT/RW, atau orang yang dituakan di lingkungannya. Nah, ketika menjadi ketua RT, saya pernah mendapat tugas untuk menyampaikan pidato (tanggap wacana) tersebut. ****** Berikut contoh / tuladha atur pambagya harja yang pernah saya sampaikan…. Assalamu ‘alaikum Wr. Wb. -        Para Sesepuh Pinisepuh, ingkang satuhu kula bekteni -        Para Rawuh Kakung sumawana putri ingkang kinurmatan Sakderengipun kula matur menggah wigatosing sedya wonten kelenggahan punika, sumangga panjenengan sedaya kula derek-aken ngunjuk-aken ra...

ATUR PANAMPI PASRAH TEMANTEN KAKUNG

Assalamu 'alaikum wr.wb. - Para Sesepuh-Pinisepuh ingkang dahat kinabekten. -Para Rawuh kakung sumawana putri ingkang kinurmatan. -Panjenenganipun  Bapa ………………..        minangka sulih sarira  saking  Bapa BUDI PRANOTO, S.Pd sekalian Ibu KUN MARYATI, S.Pd. ingkang tuhu kula kurmati. Kanthi ngonjukaken raos syukur dhumateng ALLAH SWT., Gusti Ingkang Maha Kawasa, kula minangka sulih salira saking panjenenganipun Bp. Haji SUDARNO, S.Sos  sekalian Ibu Hajah CIPTANTI DWI PRIYANTINI, S.Pd keparenga tumanggap atur menggah paring pangandikan pasrah temanten kakung. Ingkang sepisan , kula minangka sulih sarira Bapa Haji SUDARNO,S.Sos sekalian,dalasan sedaya kulawarga ngaturaken pambagya sugeng sarawuh panjenengan minangka Dhuta Saraya Pasrah saking Bapa BUDI PRANOTO,S.Pd sekalian dalasan sedaya panderek. Kaping kalih , menggah salam taklim Bp-Ibu BUDI  lumantar panjenengan, sampun katampi, dhawah sami-2, kanthi-atur wa'ala...

No Comment

Sebuah mobil lawas, jenis  Colt Station berwarna putih itu sudah semingguan terparkir di pinggir jalan di sebelah barat kampung saya.  Kendaraan itu menarik perhatian setiap orang yang melihatnya lantaran di body -nya ada tulisan “No Comment” cukup besar berwarna merah. Saya tidak tahu siapa pemilik mobil itu. Saya mau nanya tetangga, sepertinya terpengaruh tulisan di body mobil "No Comment" yang artinya, "tidak ada komentar" atau "malas komen"   atau "ngga mau komentar"   atau sejenisnya. "Kalau saya nanya, jangan-jangan nanti dijawab No Comment," pikir saya ragu. Sebenarnya saya pengin tahu maksud atau alasan pemiliknya memberi lebel mobilnya dengan kalimat aneh itu. *** Saya jadi ingat zaman Orde Baru dulu, kalimat itu sangat populer di kalangan pejabat pemerintahan atau militer ketika berhadapan dengan wartawan.    Waktu itu tidak sembarangan pejabat boleh memberikan keterangan kepada wartawan at...

Pesan Asmara Seorang Pengamen

Wulan Action  Wulan, wanita berusia 54 tahun itu terus menyusuri jalanan kampung. Ia tak menghiraukan terik mentari yang membakar tubuh mungilnya. Peluh keringat berleleran menghapus bedak dan gincu di wajahnya. Dengan senyum yang selalu tersungging dibibirnya, ia berhenti di depan setiap rumah yang dilaluinya.   Dengan memainkan alat musik “Bas Betot” sederhana, berupa kotak papan kayu dilengkapi karet ban dalam  sepeda yang berfungsi sebagai dawai pada gitar, ia dendangkan lagu-lagu Jawa Campursari.  Suara emas Wulan yang berpadu dengan “bas betot” dan ketipak-ketipuk dari kotak yang dipukulnya, melahirkan musik yang indah. Uang receh senilai seratus duaratus rupiah pun diterima dari setiap penghuni rumah. Itulah Wulan, pengamen tradisional kelas kampung yang kini masih bertahan. Wulan adalah pengamen jalanan yang tetap bertahan ditengah kerasnya perjuangan hidup. Profesi ini dijalaninya demi mempertahankan biduk rumah tangga dengan kondisi yang me...

CONTOH ATUR PANAMPI PASRAH TEMANTEN SARIMBIT ACARA NGUNDUH MANTU

Bp-Ibu Bambang Sutopo  Assalamu'alaikum wrwb. 1.      Para Sesepuh-Pinisepuh ingkang dahat kinabekten.. 2.      Panjenenganipun Bapa Suwardi minangka sulih sarira saking Bapa Gito Suwarno-Ibu Tuginem, ingkang tuhu kinurmatan. 3.      Para Rawuh kakung sumawana putri ingkang bagya mulya. Kanthi ngonjukaken raos syukur dhumateng Allah SWT - Gusti Ingkang Maha Agung, kula minangka talanging basa saking panjenenganipun Bp. Bambang Sutopo, S.Pd,  sekalian Ibu Jari, keparenga tumanggap atur menggah paring pangandikan pasrah saking kulawarga Bapa Gito Suwarno sekalian Ibu Tuginem. Ingkang sepisan , kula minangkani punapa ingkang dados kersanipun Bapa Bambang Sutopo sekalian dalasan sedaya kulawarga, ngaturaken pambagya sugeng ing sarawuh panjenengan minangka Dhuta Saraya Pasrah saking Bp Gito Suwarno sekalian Ibu Tuginem-sapendherek,  ingkang pidalem w onten ing   Dukuh Jenggrik,...

Atur Pambagyaharja Sungkawa (Sripahan / LELAYU)

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.  Nuwun, kawula nuwun . Para pepunden sesepuh pinisepuh ingkang kula bekteni. Para asung pambela sungkawa, para rawuh kakung sunawana putri ingkang satuhu luhuring budi. Wonten madyaning panandang ing ari kalenggahan punika, kula minangka sulih sarira saking Ibu Sri Sumaringsih sakaluwarga kinen hangaturaken atur Pambagyaharja sakderengipun hangkating layon Almarhum Bapa Sukardono. Murwakani atur, sumangga panjenengan sedaya kula dherekaken manengku puja, raos syukur tansah konjuk wonten Ngarsa Dalem Allah Gusti Ingkang Maha Kawasa. Awit Panjenengan dalasan kula saget makempal wonten papan punika saperlu asung bela sungkawa menggah sedanipun Bapa Sukardono. Para asung pambela sungkawa ingkang pikantuk Rahmating Gusti. Ibu Sri Sumaringsih gotrah kulawangsa lumantar kula, ngaturaken Sugeng Rawuh, lan ngaturaken raos panuwun ingkang tanpa pepindan awit karawuhan panjenengan sedaya. Ugi ngaturaken agenging panuwun sedaya pambiyantu awujud p...

ATUR PASRAH CALON TEMANTEN KAKUNG BADE IJAB ( Kanthi Prasaja ) )

Setelah dua kali mendapat mandat menjadi ‘talanging basa’ atau juru bicara untuk menyampaikan dan menerima ‘lamaran’ atau pinangan, dikesempatan lain ternyata saya ‘dipaksa’ lagi menjalani tugas untuk urusan adat Jawa. Kali ini, saya diminta salah satu keluarga untuk menjadi juru bicara ‘atur pasrah calon temanten kakung’ - pasrah calon mempelai pria, kepada calon besan menjelang acara ijab qabul. Permintaan tersebut saya jalani, meski, sekali lagi, dengan cara yang amat sederhana dan apa adanya. Pengetahuan dan pengalaman yang sangat minim tidak menghalangi saya untuk melaksanakan tugas tersebut sebagai bagian dari pengabdian di tengah masyarakat. ****** Berikut contoh atau tuladha apa yang saya sampaikan tersebut. Assalamu 'alaikum wr.wb. ·           *** Para Sesepuh-Pinisepuh ingkang dahat kinabekten.      *** Para Rawuh kakung sumawana putri ingkang kinurmatan. ·          *** Pan...

PERISTIWA G30S-PKI DAN SISI GELAP SEJARAH INDONESIA

Oleh : Suparto Peristiwa tragedi Gerakan 30 Sepetember atau dikenal dengan sebutan G30S-PKI, terjadi tanggal 30 September 1965, lebih dari setengah abad yang lalu. Namun sampai sekarang masih menyisakan misteri bagi banyak pihak. Dalam perisitiwa tersebut, beberapa perwira tinggi militer Indonesia diculik dan dibunuh dalam suatu usaha kudeta (pengambilan kekuasaan) yang kemudian dituduhkan kepada anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Seperti kita saksikan dalam sebuah film “Pengkhiantan G 30 S-PKI”. Film ini mengisahkan betapa sadisnya para anggota gerakan 30 September tersebut menculik, menyiksa, dan membunuh para jenderal, yang kemudian dimasukkan ke dalam sebuah sumur di Lubang Buaya. Terlepas dari siapa yang benar dan salah, namun hingga saat ini, nilai kebenaran sejarah September berdarah tersebut masih selalu ramai dipertanyakan dan diperdebatkan. Peristiwa ini pun menjadi sisi gelap dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia.   Perstiwa tragedi G 30 S-PKI tel...

Deparpolisasi (Bag.5) : Buku ‘Nylekit’ Tentang Politisi

  Oleh : Suparto   Berbicara soal Deparpolisasi, saya teringat salah satu buku koleksi saya. Judulnya, menurut saya, cukup ‘nylekit’ dan ‘provokatif’, yakni : Kalau Mau Bahagia Jangan Jadi Politisi . Buku yang terbit Tahun 2009 ini masih relevan kita baca. Penulisnya, Arvan Pradiansyah, adalah seorang pembicara publik, kolumnis , dan beberapa karya bukunya menjadi bestseller. Baru membaca judulnya saja, saya langsung berkesimpulan bahwa penulisnya sedang marah atau jengkel dengan perilaku politisi, dan mengajak pembaca untuk menjauhi politik. Istilah yang lagi hangat sekarang, ia bisa dikategorikan melakukan gerakan ‘deparpolisasi’. Tetapi setelah saya membaca halaman demi halaman, walaupun kesimpulan saya sebagian ada benarnya, saya menemukan banyak pemahaman tentang politik dalam arti luas. Kapasitas keilmuan dan pengalaman Arvan yang pernah menjadi dosen FISIP UI puluhan tahun, konsultan sumber daya manusia dan berbagai jabatan lain, memang layak menulis tentang politi...