Skip to main content

Posts

Showing posts with the label FIKSI

Aku Ingin Seorang Teman

 - Puisi Karya Eka Budianta -  Aku ingin seorang teman  Yang senyumnya bertahan dalam gemuruh kota dan sunyi desa  Aku ingin seorang teman  yang tidak putus asa di musim kemarau dan tidak sombong di musim hujan Aku ingin seorang teman yang nafasnya tetap teratur dalam keributan dan keheningan. Aku ingin seorang teman yang bisa memisahkan urusan pribadi dan kepentingan banyak orang. Kalau boleh aku ingin seorang teman... Yang tetap berpikir jernih di dalam keruhnya zaman. Yang sanggup mendengar pujian maupun ejekan Yang tetap punya harapan pada saat orang lain ketakutan Yang tetap bersih dan sehat pada saat semua jadi jorok dan sakit -sakitan. Tapi aku tahu semua teman bisa pergi Untuk sementara atau selamanya. Seorang teman bisa berkelit Bisa jadi pikun atau pura-pura-lupa. Sementara aku sendiri juga bisa mati Sebelum rumah persahabatan Selesai kubangun untuknya. Karena itu aku ingin seorang teman Yang bersedia tinggal di hati kecilku dan memberiku ruang di da...

Manipulasi Demokrasi

  Dari desa ke kota mereka mengumbar retorika  Bicara tentang demokrasi lokal yang disebut Pilkada Memilih pemimpin sejati di daerah tanpa perantara  Mengumbar janji sampai mulutnya berbusa  Menggalang dukungan dengan membeli suara Katanya untuk mengantarkan rakyat hidup sejahtera Mewujudkan impian negeri damai penuh harmoni Tapi apa yang terjadi Jauh panggang dari api Pilkada hanya menjadi ajang pertaruhan ambisi politik  Dari segelintir elit untuk meraih kekuasaan Menjadi target dan pemanasan  Bagi pertarungan politik lanjutan pada pemilu nasional Nafsu keserakahan menutup hati nurani dan akal sehatnya Rela memanipulasi kedaulatan rakyat demi kepentingan kelompok sesaat Tak peduli rakyat menjadi korban atau tergadai harga dirinya 

Dunia Absurd Danarto

Danarto, selama ini dikenal sebagai seorang sastrawan sufi. Karya-karyanya selalu mengajak kepada pembaca untuk masuk ke dalam dunia “lain” yang bukan dunia kita sehari-hari.  Dunia lain yang diciptakan Danarto itu, bukan dunia riil tetapi juga bukan dunia yang sepenuhnya abstrak. Antara fana dan baka.  Pembaca dibawa ke suasana dunia antara, yang dalam istilah filsafat Jawa dikenal “ sonya ruri” . Yang mengambang, sunyi, mengerikan, dimana sosok manusia itu tidak jelas identitasnya, asal-usulnya, dan status kehidupannya. Atau masuk ke dunia yang “absurd”, aneh-aneh, dan tidak masuk akal. Seperti interaksi dengan dunia Malaikat, kadal, kodok, zat asam, Bekakrak, wewe, Hamlet, tokoh wayang Abimanyu dan lainnya yang sering terlihat “absurd”. Tetapi dalam kumpulan cerpennya berjudul Berhala (2017) ini, Danarto agak menggeser dunia anehnya. Agak, karena dunia “sonya ruri” itu tidak sepenuhnya ditinggalkan oleh Danarto.  Dalam 14 judul cerpen, keseluruhan 228 halaman,...

Gatotkaca Menjadi Incaran Penguasa Astina

Penampilan dan kiprah satria Pringgodani, Raden Gatotkaca, kini sering viral di media. Kehadiran tokoh yang memiliki otot kawat balung wesi  ini dalam berbagai kesempatan selalu disambut hangat dan dielu-elukan warga. Selain berwajah tampan dan simpatik, Gatotkaca dikenal sebagai senapati andalan kubu Pandawa. Dia paling ditakuti musuh karena kekuatan fisik dan kemampuan bersaltoria di angkasa. Ketenaran Gatotkaca ternyata membuat Raja Astina, Prabu Duryudana, meradang. Dia panas hatinya. Tak rela kalau kehebatan tokoh ini akan menenggelamkan kejayaan dan mengancam penguasa kerajaan Astina. "Dia harus disingkirkan!" kata Duryudana dihadapan para penasihat dan senapati yang diundang ke Istana. "Betul Prabu. Kita harus melenyapkan Gatotkaca agar tidak menjadi slilit di negeri kita. Jelas dia itu ambisinya ingin menjatuhkan wibawa dan kekuasaan  Paduka,"  sahut penasihat Astina, Patih Sengkuni. "Bagaimana caranya?" tanya Duryudana. "Serahka...

Negeri Martabak

Ambisi kekuasaan yang tak terkendali  Membuat orang kehilangan kesadaran diri Segala cara dilakukan untuk mendapatkannya Tak peduli dengan aturan dan norma yang ada Kesana kemari mengumbar janji Sekadar basa-basi yang sudah basi Mulut berbusa melempar kontroversi Mencipta kebingungan dan panasnya situasi Akibat ulah segelintir orang yang mabuk kekuasaan Membuat bangsa ini tak lagi  punya martabat dan harga diri Seperti martabak yang mudah dibolak-balik seenaknya Menjadi santapan empuk para perusak negeri Suparto 

Mengelak Dari Tumpukan Manusia

Peradaban manusia kembali ke titik terendah Mereka seperti berada pada tumpukan manusia yang saling bergulat Pergulatan di dalam tumpukan manusia Terjebak dalam situasi yang mengerikan Tak ada lagi ruang untuk akal sehat Semua menjadi gila, beringas dan gelap mata Apapun dilakukan untuk menyelamatkan diri dari cengkeraman maut Berdalih pertahanan diri dari segala ancaman Mereka saling sikut, saling tendang dan saling injak Terbunuh atau membunuh Tidak perduli siapa pun Persetan dengan semua aturan Semua bingung dan tak berdaya Bagaimana mengelak dari situasi yang tak menentu

Membingungkan

Sejarah menyematkan peran mereka Sebagai pewaris Nabi untuk menjaga kemurnian risalah agama Pemikiran dan ketegasan sikap mengejawantahkan ilmunya Yang harus berhadapan dengan tirani kekuasaan Hingga berujung masuk penjara dan kematian Menjadi teladan bagi umat dan rujukan dunia Zaman telah berubah Sebagian mereka kini membingungkan umat Mereka tampil mentereng di stasiun televisi Membungkus pesan ayat suci Menghadirkan tawa sebagai hiburan Atau menjadi sumber berita di media masa Mengumbar dalil sebagai ahli   agama Tetapi sejatinya sekadar cari sensasi Agar bisa seperti selebriti Menggapai ketenaran dan meraup pundi-pundi Sementara di tempat lain Demi meraih kedudukan sesaat Mereka rela jadi tukang stempel penguasa Kebijakan apapun dari sang majikan Dikemas dengan dalil agama untuk membelanya Menjejalkan opini yang mereka buat Meski berisi kemungkaran, penyesatan dan kebusukan  Membingungkan! Suparto  Ilustras...

Politik : Antara Butuh dan Busuk

Meski kau muak dengan politik Walau politi k kau hujat dan laknat Kau sumpah serapah sampai muntah Maki-maki hingga mulutmu berbusa Ingin membuang politik ke keranjang sampah Tetapi p olitik tetap sebuah keniscayaan Politik tetap dibutuhkan Agar konflik kepentingan d apat diselesaikan tanpa kekerasan Kita perlu partai politik Bukan karena semua orang baik Justru karena semua orang   tidak seperti yang kita harapkan Politik adalah seni untuk hidup bersama Hidup dengan orang-orang yang bukan pilihan kita Dengan orang-orang yang tak punya ikatan dengan kita Dengan lawan daripada kawan Politik diperlukan Agar kita dapatkan kepastian Tentang siapa yang memberi perintah Siapa yang membuat hukum dan peraturan Serta siapa yang harus menjalankannya Tanpa politik Tak akan ada hukum yang berlaku Tak kan ada kekuatan yang bisa memaksa orang untuk mematuhinya Tanpa kekuatan hukum yang memaksa Akan terjadi kesewenang-wenanga...

Balada Negeri Membingungkan

Berlimpah kekayaan tersimpan di Negeri ini.  Keelokan alamnya begitu mempesona.  Dengan semua anugerah itu, mestinya seluruh penduduknya,   merasakan sejahtera lahir batin. Bahkan bisa dinikmati   dari generasi ke generasi.  Orang Jawa bilang, “Gemah Ripah Loh Jinawi. Tata tentrem kerta raharja.” Para pemegang kendali dan aparat negaranya juga hebat-hebat.  Mereka berpendidikan tinggi, berderet gelar disandangnya, dan memiliki keahlian hampir semua bidang. Namun sebuah ironi kini terjadi. Sebagian anak negeri yang hebat, yang dipercaya memegang amanat.  Yang diberikan jabatan terhormat dengan fasilitas berlipat-lipat.  Malah berpikiran sesat, bersekongkol dan memainkan siasat jahat.  Dengan siasat Siluman , mereka merusak dan menghancurkan negeri ini. Korupsi pun menyebar ke seluruh negeri. Berkembang biak tak berhenti.  Korupsi merajalela dan membudaya, di hampir semua strata.  Lahirlah generasi k...

Jawaban Terbaik

Ketika sederet keinginan kauperjuangkan Segenap angan jadi obsesi Semua asa jadi mimpi  Segala usaha kaulakukan Namun tak semua jadi kenyataan   Kini muncul keraguan dihatimu Rasa bimbang menyeret diri Sebuah tanya terus menggelora Tentang keagungan dan kuasa-Nya Kemahamurahan dan kasih sayang-Nya Masih adakah harapan dan keadilan Jangan putus asa kawan Semua yang kau alami dan terjadi Apa yang kauterima kini  Yang nampak memalukan  Terasa menyesakkan hati Bukanlah sebuah kutukan Itu adalah jawaban terbaik  Jalan yang diberikan Tuhan    Yang akan membawamu Ke tempat yang kauidamkan  Suparto  

SILUMAN DULU DAN SEKARANG

Waktu kecil dulu aku takut dengan Siluman Cerita khayal yang sangat menyeramkan Tentang makhluk halus anggota Jin dan Setan Menampakkan diri sebagai manusia atau hewan piaraan Suka keluar malam gentayangan Di pinggir jembatan, rumah kosong dan kuburan Atau bersembunyi di balik rimbun pepohonan Tak semua orang bisa menyaksikan Bikin orang merinding ketakutan Sekarang cerita Siluman bukan lagi khayalan Siluman kini muncul dalam kenyataan Melekat pada oknum yang tak memiliki perasaan Mengeruk uang rakyat   lewat dana titipan Masuk pintu birokrasi   pemerintahan Tersembunyi dalam anggaran pembangunan Disusun pada angka-angka tipuan Diolah para pelaksana lapangan Untuk amankan kebijakan Namun sulit dipertanggungjawabkan Strategi Siluman dijalankan Untuk membangun sekolahan Memperbaiki jalan dan jembatan Membantu rakyat yang kelaparan Disahkan dalam sidang tahunan Dasar hukum pun diterbitkan Tapi semua hanyalah sulapan ...

BENTOR

Sabtu siang, awal bulan… Jarum jam sudah menunjuk angka 13.45, tetapi Bus Pariwisata yang sudah siap di halaman kantor kami sejak dua jam lalu belum juga berangkat. Beberapa teman mulai resah dan menumpahkan kekesalannya. “Ini sudah molor dua jam lho , ” ungkap Bentor . “Iya nih. Yang ditunggu siapa to...?” sahut Jorono . “Jadi berangkat ngga ini..?” “Tinggal aja yang telat…!" Teriak Bentor. “Tolong sabar dikit ya. Ini ada teman yang belum datang. Kita tunggu sebentar, dia sudah dalam perjalanan dari rumah , ” kata pimpinan rombongan, menenangkan kegelisahan anggotanya. Mendengar berbagai celotehan itu, aku memilih diam. Kalau ikut berkomentar, rasanya sia-sia. Apalagi, yang suka berkoar-koar itu memang dikenal sebagai orang-orang yang suka debat kusir. Mereka ngga mau kalah dan mengalah. Dan, suara-suara menyakitkan yang muncul menjelang keberangkatan rombongan itu, ternyata juga terjadi saat kami dalam perjalanan. Segala hal yang sebenarnya biasa s...