Skip to main content

Posts

Showing posts with the label LITERASI

KISAH CINTA DALAM NOVEL TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WICJK

  Novel "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck" karya HAMKA ini bercerita tentang kisah romantis antara sosok Zainuddin dengan wanita pujaan hatinya bernama Hayati. Keduanya ingin membangun rumah tangga sebagai suami istri, tapi terhalang oleh adat Minangkabau dan berakhir memilukan. Zainuddin berdarah Minang, tapi lahir di Makassar. Pemuda ini dianggap orang asing dan tidak berhak menikahi gadis Minangkabau karena dianggap manusia yang tidak jelas asal usulnya. Adalah Azis, seorang pemuda dari keluarga kaya dan secara adat berhak, akhirnya berhasil menikahi Hayati. Melihat kenyataan ini, hati Zainuddin terpukul hebat. Dia sedih berkepanjangan, sakit dan hampir bunuh diri. Kisah cinta Zainuddin dan Hayati banyak terungkap dalam surat-menyurat yang terkirim diantara keduanya. Kalimat-kalimat indah yang terangkai pada surat-surat itu membuat emosi kita ikut larut dalam kisah kasih dua insan tersebut. Ketika cinta Zainuddin ditolak oleh Hayati (karena terpaksa mengikuti kehendak kelu...

Selamat Jalan NH Dini

Kabar duka datang dari dunia sastra Indonesia. Seorang sastrawan senior, NH Dini meninggal dunia, di Rumah Sakit Elisabet, Kota Semarang, Selasa (4/12/2018) setelah mengalami kecelakakan lalulintas di jalan tol Tembalang, Semarang. NH Dini yang bernama lengkap Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin lahir di Semarang, pada 29 Februari 1936. NH Dini menulis berbagai genre sastra, yaitu puisi, cerita pendek, drama, dan novel. Namun dia lebih dikenal sebagai novelis. Puluhan karya  novel telah dilahirkan, dan beberapa judul di antaranya sangat populer hingga sekarang, antara lain, "Pada Sebuah Kapal" (1972), "La Barka" (1975), "Namaku Hiroko" (1977), "Orang-orang Tran" (1983), "Pertemuan Dua Hati" (1986), dan “Hati yang Damai” (1998). NH Dini pernah meraih penghargaan SEA Write Award di bidang sastra dari Pemerintah Thailand.  Namanya tercatat sebagai salah satu dari enam satrawan Indonesia yang mendunia bersama Pramoedya Ananta Toe...

Literasi Berkeadaban : Membangun Budaya Ilmu Yang Beradab

Judul di atas disampaikan oleh Dr. Adian Husaini, MA ketika menjadi pembicara pada Seminar Nasional yang mengusung tema "Literasi Berkeadaban : Menguatkan Jati Diri Bangsa Di Era Digital". Seminar ini dalam rangkaian Milad ke-21 Forum Lingkar Pena (FLP) berlangsung di  Kampus UNS Solo, Ahad (25/2/2018). Adian mengutip salah satu definisi "literasi"  sebagai "kemampuan individu untuk membaca, menulis, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat." Menurut Adian, definisi "literasi" tersebut semakna dengan definisi Budaya Ilmu" yang digagas oleh pakar pendidikan Islam Internasional, Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud, yang menyebutkan, "Budaya ilmu antara lain bermaksud  kewujudan satu keadaan yang setiap lapisan masyarakat melibatkan diri, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam kegiatan keilmuan bagi setiap kesempatan. Budaya ilmu juga merujuk kepada kewujudan s...

Seminar Nasional Milad 21 FLP : Tantangan Mewujudkan Literasi Berkeadaban

Puncak rangkaian peringatan Milad ke-21 Forum Lingkar Pena (FLP) diisi dengan Seminar Nasional yang mengusung tema "Literasi Berkeadaban : Menguatkan Jati Diri Bangsa Di Era Digital." Kegiatan yang berlangsung di Gedung F FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Ahad (25/2/2018) ini menghadirkan dua pembicara. Mereka adalah Dr. Adian Husaini,MA (Ketua Program Doktor Pendidikan Islam Univeritas Ibn Khaldun Bogor) dan M. Irfan Hidayatullah, M. Hum (Ketua dewan Pertimbangan FLP Pusat). Seminar Nasional dibuka oleh Ketua Umum Badan Pengurus Pusat (BPP) FLP, Afifah Afra. Dalam paparannya, Adian Husaini mengupas persoalan membangun budaya ilmu yang beradab. Sedangkan M. Irfan Hidayatullah memaparkan tentang masa depan literasi berkeadaban di era digital. Sebelum acara seminar dimulai, ditampilhkan Musikalisasi Puisi Karya Afifah Afra berjudul "Tragedi Bumi" yang diikuti dengan atraksi seni Melukis Pasir. Sekitar dua ratus orang yang hadir mengikuti s...

AFIFAH AFRA PIMPIN FLP PERIODE 2017-2021

Alhamdulillah. Musyawarah Nasional (Munas) ke-4 Forum Lingkar Pena (FLP) yang berlangsung di Bandung, 3-5 November 2017, akhirnya menetapkan Afifah Afra yang bernama asli Yeni Mulaty sebagai Ketua Umum FLP periode 2017-2021 menggantikan Sinta Yudisia. Seperti dilansir beberapa media,   Afifah terpilih berdasarkan perolehan suara, setelah musyawarah belum bisa menghasilkan keputusan. Afifah unggul dari dua calon ketua umum lainnya, yaitu Yanuardi Syukur dan Ganjar Widhiyoga. Berdasarkan hasil perolehan suara delegasi Munas ke-4 FLP, Afifah Afra memperoleh 160 suara, Yanuardi Syukur 44 suara, dan Ganjar Widhiyoga 18 Suara. Dalam pidato pertamanya setelah diresmikan sebagai ketua umum, penulis produktif yang tinggal di Kota Solo ini menyatakan ingin melakukan tiga hal. Pertama, membuat program "Pulang ke Rumah". "Kita ingin FLP jadi rumah kita. Maka salah satu target di pengurusan yang akan datang, kita akan buat program "Pulang ke Rumah". Kita aka...

BERBICARA DAN KETRAMPILAN BERBAHASA

Berbicara mempunyai peranan sosial yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Beribicara merupakan alat komunikasi tatap muka, dan saluran komunikasi lisan lainnya yang sangat vital. Kemampuan berbicara seseorang turut menentukan kesuksesan kariernya. Di satu pihak berbicara merupakan suatu daya pemersatu yang ampuh yang cenderung mempersatukan kelompok-kelompok sosial. Di pihak lain, berbicara dapat pula bertindak sebagai suatu daya pemecah-belah, yang cenderung mempertajam perbedaan-perbedaan antara kelompok-kelompok sosial. Demikianlah berbicara dapat membuahkan kutub konstruktif maupun kutub destruktif. Dengan perkataan lain, berbicara dapat mendatangkan damai , menumbuhkan cinta, dan dapat pula menimbulkan perang , menumbuhkan benci, tergantung kepada kondisi dan situasi.  Di sini, kita lebih menitikberatkan pembicaraan pada segi konstruktifnya saja. Kita harus sadar bahwa neraka yang paling mencekam dalam kehidupan adalah tiadanya kemerdekaan berbicara, sepe...

Meluruskan Peran Siti Rahmani “Ini Budi”

Siti Rahmani Rauf. (Sumber foto: Google Image) Informasi atas meninggalnya Siti Rahmani Rauf yang diberitakan sebagai penyusun buku “Ini Budi” pertama kali saya peroleh dari seorang teman melalui WhatsApp (WA) Group flpsoloraya.com, Rabu (11/5/2016) sekitar pukul 14.30. Info itu berbunyi : Inna lillahi wa inna ilaihi rooji'uun. Telah wafat tadi malam Selasa10 Mei 2016 pkl. 21.20 WIB Ibu Siti Rahmani Rauf di usia 96 thn. Almarhumah adalah penyusun buku belajar membaca *_"Ini Budi"..._* Beliau adalah pahlawan kita utk bisa membaca dan menulis WA / SMS hari ini. Semoga almarhumah husnul khotimah. Di bawah tulisan tersebut disertakan sebuah foto Siti Rahmani Rauf dengan latarbelakang salah satu karyanya. Tanpa berpikir panjang informasi itu langsung saya sebar melalui WA Group One Day One Post (ODOP)-2. Informasi itu mendapat respon luar biasa dari teman-teman anggota ODOP. Bahkan anggota ODOP asal Bandung, Nychken Gilang Bedy Setiawan, langsung meny...

Kartini (Bag.4) : Dibalik Kontroversi

Buku LETTERS from KARTINI (foto: www.google.co.id) Setelah memperingati Hari Kartini tanggal 21 April, apa yang dapat kita ambil hikmahnya? Beragam pendapat dan kesan bisa muncul sesuai pemahaman, analisis, persepsi, dan kepentingan masing-masing orang. Beberapa hal berikut ini barangkali menggambarkan sekilas tentang bagaimana kita melihat sosok Kartini dalam era kekinian. Pertama , sebagian besar orang Indonesia masih mempercayai sosok Kartini sebagai seorang wanita pejuang karera secara formal Pemerintah Indonesia (1964) telah mentapkan sebagai Pahlawan Nasional. Hari kelahiranya, 21 April, pun dicatat dalam sejarah Indonesia sebagai Hari Kartini dan diperingati melalui upacara dan berbagai kegiatan yang lain. Namun, menurut saya, pengakuan itu baru sebatas formal seremonial. Pemerintah memang telah menerbitkan buku sejarah Kartini yang diajarkan di sekolah, foto-foto Kartini banyak dipajang di ruang-ruang kelas, berbagai kegiatan dilakukan, dan upacara resmi disel5eng...

Kartini (Bag.3) : Tak Sekedar Berganti Baju

Tanggal 21 April, bagi bangsa Indonesia, terutama kaum wanita, menjadi momen istimewa karena diperingati sebagai Hari Kartini. Tak ketinggalan bagi warga Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Beberapa sekolahan dan kantor pemerintah, menyelengarakan upacara peringatan hari kelahiran salah satu tokoh wanita Indonesia yang lahir di Jepara ini. Upacara peringatan Hari Kartini ke - 137 tahun 2016 tingkat Kabupaten Sragen berlangsung semarak di halaman kantor Bupati Sragen, Kamis (21/04). Sejak pukul tujuh pagi, ratusan karyawati terlihat anggun mengenakan pakaian kebaya berwarna-warni sudah siap mengikuti upacara. Selain perwakilan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), peserta upacara juga berasal dari   organisasi wanita, pramuka, serta siswa. Yang terlihat agak istimewa, upacara yang dipimpin langsung oleh Bupati Sragen, Agus Fatchur Rahman ini, semua petugas upacara,   mulai dari perwira dan komandan upacara, komandan peleton, pembaca riwayat Kartini, ajudan inspektur upac...