Skip to main content

Posts

Zaman Edan (Bagian 1) Siapa Sosok Ranggawarsita

Mendengar atau membaca ungkapan ‘Zaman Edan’,   ingatan kita langsung tertuju pada sosok Raden Ngabehi Ranggawarsita ( lidah orang Jawa biasanya mengucap Ronggowarsito ). Pujangga   Keraton Surakarta (1802-1873) ini terkenal dengan salah satu karyanya berjudul   ‘ Serat Kalatidha’ yang berarti ‘Zaman Keraguan’.  Di dalam Serat Kalatidha yang terdiri dari 12 bait syair tersebut,   terdapat sebuah bait yang hingga sekarang masih relevan untuk dibicarakan.  Bunyi syair tersebut adalah : Amenangi Zaman Edan Ewuh aya ing pambudi Melu edan nora tahan Yen tan melu anglakoni Boya keduman melik Kaliren wekasanipun Ndilalah kersa Allah Begja begjane wong kang lali Luwih begja wong kang eling lan waspada. Maknanya: Menyaksikan Zaman Edan (Gila) Serba susah dalam bertindak (serba ragu-ragu) Ikut edan tidak akan tahan Tapi kalau tidak ikut edan Tidak akan mendapat bagian Kelaparan pada akhirnya Namun telah menjadi kehendak All...

Analogi Di Dalam Al-Qur’an

Seperti yang saya tulis di edisi 21 Januari 2016, berjudul :  pesan-al-quran-tentang-ilmu-pengetahuan bahwa di dalam Al-Qur’an termuat berbagai informasi tentang seluruh bidang kehidupan dan ilmu pengetahuan. Mulai dari penciptaan alam semesta, keberadaan gugusan bintang, pengaturan tata surya dan apa yang terjadi di alam semesta. Al-Qur’an juga menerangkan tentang sejarah kehidupan masa lampau, proses terjadinya janin manusia dan perkembangannya, karakter seseorang, tata cara beribadah yang benar, petunjuk hidup berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara, serta seluruh rahasia kejadian di jagad raya ini. Selain apa yang kita sebutkan di atas, masih banyak lagi hal-hal menarik dari Firman Allah di dalam Al-Qur’an. Misalnya tentang sifat orang-orang kafir (orang yang tidak beriman kepada Allah). Untuk memperjelas dan mempertajam gambaran perilaku orang kafir dan akibat yang ditimbulkannya, Allah menggunakan kiasan atau analogi. Berikut kita nukil beberapa contoh. Di dalam...

Valentine Nan Sepi

Alhamdulillah. Perayaan Hari Valentine di Indonesia tahun ini berlangsung sepi. Hanya beberapa gelintir orang saja yang masih memperingatinya. Itupun kelihatan ngga semangat. Keadaan tahun ini jauh lebih sepi dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Gencarnya suara penolakan terhadap peringatan Hari Valentine yang digelontorkan berbagai pihak melalui berbagai situs, media sosial dan media lainnya menunjukkan hasil yang signifikan. Hal ini memberikan pelajaran, bahwa kita tidak boleh berhenti untuk terus mengajak kepada jalan yang benar dan menolak kebatilan. Lambat laun orang akan mengerti. Sepinya perayaan Valentine tahun ini tidak lepas dari Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI)   Pusat tahun lalu yang kemudian diikuti Fatwa MUI Daerah-daerah   yang dengan tegas melarang kegiatan tersebut. Berbekal dengan fatwa MUI itu, di berbagai daerah di Indonesia, Pemerintah Kabupaten/Kota setempat melalui surat resmi juga melarang kegiatan perayaan Valen...

Balada Cinta Di Kalijodo Jakarta

Gara-gara ada yang akan memusnahkannya Nama Kalijodo jadi topik dunia maya dan media massa Mengalahkan kisah misteri kematian Mirna Menindih kontroversi pemuja LGBT dan pendukungnya Menenggelamkan kasus korupsi yang menggurita Meminggirkan lakon terorisme yang tak ada habisnya Mengalihkan perhatian para pengelola Negara Mengagetkan politisi di gedung Senayan sana Kalijodo hanyalah kampung kumuh di Jakarta Utara Tempat pelacuran kelas menengah berada Sarang para penjudi dan preman merajalela Berdiri lebih setengah abad lama nya Meski tak setenar Gang Dolly Surabaya Kalijodo adalah lokalisasi pelacuran tertua di Jakarta Kawasan prostitusi murah bergaya mewah Ribuan pelacur menggantungkan hidupnya Para penjudi berkhayal cepat kaya G ermo dan preman menikmati hasilnya Di antara remang-remang malam Ditingkah kerlap-kerlip lampu dan musik disko dangdut koplo Ratusan wanita seksi menjajakan cinta sesaat Pamer tonjolan ...

Hasil Korupsi Untuk WIL ?

Saya mencermati pemberitaan dalam minggu ini, soal korupsi masih menjadi isu penting yang diangkat oleh beberapa media. Diantaranya, pertama, Indonesia Corruption Watch (ICW) yang sejak 2013 secara intens memantau persidangan kasus korupsi,   mencatat bahwa aktor korupsi didominasi pejabat publik. Yang mencengangkan, pada tahun 2015 saja, ada 225 pejabat di Daerah (Provinsi, Kabupaten dan Kota) terlibat korupsi. Ini meningkat   dari tahun 2014 (171 pejabat) dan tahun 2013 (141 pejabat). Kedua ,   Majelis Hakim Pengadilan Tinggi DKI Jakarta memperberat masa hukuman Ketua DPRD Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur non aktif, Fuad Amin Imron, dari 8 tahun menjadi 13 tahun penjara.   Tak hanya menambah, putusan itu juga menyatakan menyita sebagian besar aset mantan Bupati Bangkalan dua periode ini, berupa 70 tanah, rumah, kondominium, belasan mobil serta uang Rp 250 miliar. Ketiga, menurut hasil survey KPK, mayoritas Koruptor (pria) menghabiskan uang hasil k...

Putus Regenerasi Korupsi

Padamu Negeri aku bersaksi Engkau Negeri Subur Makmur - Gemah Ripah Loh Jinawi Berlimpah kekayaan tersimpan di Bumi Pertiwi Cukup untuk sejahterakan seluruh anak Negeri Dari generasi ke generasi Tetapi kini ada bangsaku yang hebat Dipercaya memegang amanat Jabatan terhormat dengan fasilitas berlipat-lipat Malah timbul pikiran sesat Mereka oknum Politisi dan Birokrat Bikin mufakat di hotel bertingkat Dengan dalih angkat derajat rakyat Sejatinya hanya siasat jahat Dana pembangunan dimanipulasi Kekayaan alam Negeri digerogoti Jatah rakyat masuk kantong pribadi Lewat jalan kolusi - korupsi Mereka menumpuk kekayaan Tapi hidupnya merasa kekurangan Yang dipikir hanya cari keuntungan Untuk bekal tujuh keturunan Korupsi merasuk ke semua lini Semua kepentingan pun terbeli Berbagai celah dimasuki Minta Undang-Undang KPK di revisi Agar kewenangan KPK bisa dikebiri Biar kejahatannya tetap tersembunyi Ketika korupsi menyebar ke selu...

Menyimak Kembali Peran Pers

Ada pernyataan menarik disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat menghadiri puncak acara Hari Pers Nasional (HPN), yang berlangsung di Pantai Mandalika, Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Selasa (9/2/2016). Jokowi menyatakan, sebagai salah satu pilar demokrasi di Indonesia, pers diharapkan turut berperan dalam membangun optimisme publik. Hal tersebut dibutuhkan bukan hanya untuk membangun kepercayaan, tetapi juga untuk meningkatkan produktivitas masyarakat.  Jokowi melihat, pers memiliki peran sebagai kontrol sosial. Terkadang pers dapat menjadi seperti jamu yang pahit, tetapi menyehatkan. Namun di sisi lain ada juga sajian pers yang bisa mengganggu akal sehat. Salah satunya pemberitaan yang bukan membangun optimisme, tetapi pesimisme. Banyak yang terjebak pada berita sensasional. Apalagi ditambah komentar pengamat makin ramai. Jokowi mencontohkan beberapa judul berita yang akan merugikan Indonesia di tengah kompetisi...