Skip to main content

Posts

Hideyoshi (2) Strategi Meraih Keberuntungan

STRATEGI HIDEYOSHI Apa yang menarik dari buku Strategi Hideyoshi? Dalam catatan sejarah Jepang, nama Hideyoshi (lengkapnya Toyotomi Hideyoshi) adalah tokoh luar biasa hebatnya dalam mencapai puncak prestasi. Ia lahir dari keluarga petani miskin, hidup penuh kepahitan, pernah menjadi gelandangan, wajahnya jelek dan tubuhnya pendek (ada yang menyebut seperti monyet).  Namun   kemalangan hidupnya itu tak menjadikannya meratapi nasib yang membelitnya. Kemiskinan yang melilitnya ia ubah menjadi keberuntungan dengan mengandalkan otak daripada tubuh, mementingkan akal daripada senjata, menggunakan strategi daripada tombak . Sejarah membuktikan, ia kemudian mampu meraih puncak karier gemilang;   menjadi wakil kaisar bukan berdasarkan garis keturunan, melainkan dari kecerdikan otak. Perjuangan Hideyoshi dalam meraih prestasi - dari petani miskin bisa menjadi wakil kaisar - itu mengundang kekaguman banyak orang. Tak sedikit warga Jepang, terutama kalangan bawah, ingin...

Hideyoshi (1) Samurai Tanpa Pedang

Di antara ratusan buku yang berada di rak terbuka rumahku, ada dua buah buku tebal   yang menjadi salah satu favoritku (selain Al-Qur’an tentunya). Buku yang sudah dua tahun menghuni ruang tamu itu, kutaruh di tempat strategis agar sewaktu-waktu bisa dengan mudah kuraih. Maklum, buku-buku itu hanya kupajang begitu saja, tidak mengikuti aturan seperti di perpustakaan. Kedua buku itu adalah, pertama, berjudul “The SWORDLESS SAMURAI – Pemimpin Legendaris Jepang Abad XVI.”   Buku kedua, judulnya “STRATEGI HIDEYOSHI – Another Story Of The Swordless Samurai.”  Buku itu sudah kubaca beberapa kali, sehingga sering tergeletak di atas meja atau di kamar tidur. Apa keistimewaan buku tersebut sehingga seolah-olah aku mengabaikan buku-buku karya orang Indonesia yang tidak kalah hebatnya? Sebenarnya tidak terlalu istimewa. Bahkan banyak buku yang lahir dari anak bangsa Indonesia lebih bagus. Namun, seperti halnya beberapa buku lain yang   sudah kubaca, aku merasakan da...

Deparpolisasi (Bag.6) : Kita Butuh Politisi

Tulisan terakhir tentang deparpolisasi kali ini, saya sampaikan gambaran mengenai peran penting politisi.  Seperti ditulis dalam buku berjudul “Kalau Mau Bahagia Jangan Jadi Politisi”, Arvan Pradiansyah (2009), melontarkan pertanyaan menarik : ‘Sebuah Dunia Tanpa Politisi, Mungkinkah?’. Pernahkah kita membayangkan sebuah dunia tanpa politisi? Dunia seperti apakah yang ada dalam bayangan kita? Sebuah dunia yang tenteram, damai, dan bahagia? Ataukah sebuah dunia yang boleh jadi lebih buruk daripada yang kita rasakan sekarang? Pertanyaan inilah yang sering hadir di kepala kita, apalagi dalam situasi pemilihan umum. Menjelang pemilu legislatif, misalnya, kehidupan kita terasa lebih sumpek dan sesak. Bayangkan, ke mana pun kita pergi, pandangan kita senantiasa tertumbuk pada berbagai poster dan spanduk dari begitu banyak orang yang tidak kita kenal – dan juga tidak mengenal kita – yang menawarkan janji-janji surga. Ketika ingin santai dan menikmati siaran radio dan televisi, k...

Deparpolisasi (Bag.5) : Buku ‘Nylekit’ Tentang Politisi

Berbicara soal Deparpolisasi, saya teringat salah satu buku koleksi saya. Judulnya, menurut saya, cukup ‘nylekit’ dan ‘provokatif’, yakni : Kalau Mau Bahagia Jangan Jadi Politisi. Buku yang terbit Tahun 2009 ini masih relevan kita baca. Penulisnya, Arvan Pradiansyah, adalah seorang pembicara publik, kolumnis , dan beberapa karya bukunya menjadi bestseller. Baru membaca judulnya saja, saya langsung berkesimpulan bahwa penulisnya sedang marah atau jengkel dengan perilaku politisi, dan mengajak pembaca untuk menjauhi politik. Istilah yang lagi hangat sekarang, ia bisa dikategorikan melakukan gerakan ‘deparpolisasi’. Tetapi setelah saya membaca halaman demi halaman, walaupun kesimpulan saya sebagian ada benarnya, saya menemukan banyak pemahaman tentang politik dalam arti luas. Kapasitas keilmuan dan pengalaman Arvan yang pernah menjadi dosen FISIP UI puluhan tahun, konsultan sumber daya manusia dan berbagai jabatan lain, memang layak menulis tentang politik. Ia tidak hanya mengkri...

Deparpolisasi (Bag.4) : Perilaku Politisi : Antara Merpati dan Ular

Beberapa tahun lalu, saya diajak seorang teman menghadiri Reuni Akbar 40 Tahun FISIP UNDIP Semarang. Dalam acara tersebut, disamping bisa bertemu dengan banyak teman yang sudah lama berpisah, yang paling berkesan bagi saya adalah Orasi Sri Sultan Hamengkubowono X. Orasi Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang berjudul ’Etika Politik’ waktu itu membuat ratusan hadirin terkesima. Dengan semangat tinggi, Sri Sultan secara terbuka ”membelejeti” perilaku para politisi. Untuk melengkapi tiga tulisan saya tentang Deparpolisasi dan menambah wawasan tentang dunia perpolitikan, berikut saya sampaikan beberapa point isi orasi Sri Sultan Hamengkubowono X tersebut. ***** Mengawali orasinya, Sultan mengutip pernyataan Filosof Immanuel Kant yang menyindir politisi. Menurut   Emmanuel Kant, ada dua watak binatang yang terselip di setiap insan politik, yakni merpati dan ular. Politisi memiliki watak merpati yang lembut dan penuh kemuliaan dalam memperjuangkan idealisme. Tet...