Skip to main content

Posts

Bukan Halusinasi ( Bag. 10 )

sumber foto : google image Hari ini, pergulatan batin dan emosi ratusan manusia yang diguncang oleh sebuah misteri memasuki titik klimaks. Pukul tujuh pagi orang-orang yang sudah kehilangan akal sehat itu terlihat lalu-lalang dan berdesakan memadati setiap sudut pekarangan rumah Suto. Mereka ingin menyaksikan anggota Tim SAR yang turun ke dasar sumur, dan menanti apa yang akan terjadi dengan aksi itu. Puluhan personil kepolisian terpaksa membuat pagar betis untuk mencegah warga merangsek ke dekat bibir sumur. Sementara Suto sendiri hanya mematung dan termangu di teras rumah. Raut wajah Suto tampak tegang. Pandangan matanya menatap tajam ke arah kerumunan orang. “Pak, masuk. Nggak enak dilihat orang,” istrinya merayu. Suto diam membisu seakan tak mendengar apa pun, termasuk suara gaduh dan bising di sekitarnya. Istri yang sering   bingung dengan sikap suaminya itu, kembali masuk rumah untuk menemani mertua dan anak gadisnya. Dua orang anggota Tim SAR berpakai...

Bukan Halusinasi ( Bag. 9 )

Misteri (sumber foto: google image) Koran “Warta Baru” yang memuat berita berjudul “Misteri Sumur Pak Suto Makin Gelap” banyak dicari orang. Mereka berharap mendapatkan informasi yang lengkap dan jelas mengenai misteri dibalik sumur milik Suto. Gondo, pemuda desa setempat langsung menangkap peluang bisnis. Disamping menggerakkan warga untuk berjualan makan minum dan camilan, ia pun berani memborong Koran dari agen untuk dijual kepada para pengunjung sumur di pekarangan Suto. “Koran, Koran, Koran. Berita hangat dan lengkap. Berita tentang sumur pak Suto paling hangat dan lengkap. Ayo silahkan. Monggo. Monggo . Jangan ketinggalan berita..!!”  Dalam waktu singkat, setumpuk Koran ludes dibeli warga yang berkerumun di seputar sumur Suto. Dalam beberapa jam, warga yang semula berjubel di seputar sumur menyebar ke beberapa tempat, bergerombol untuk   ikut menyimak berita hangat seperti yang dikoar-koarkan Gondo. Tapi banyak yang kecewa karena tidak mendapatkan inf...

Bukan Halusinasi ( Bag. 8 )

“Ini fenomena aneh. Nggak masuk akal !!” kata Guritno di ruang kerjanya, saat ditanya wartawan surat kabar “Warta Baru” bernama Wartono, soal keberadaan sumur milik Suto yang kini makin banyak dikunjungi orang dari berbagai daerah. “Fenomena aneh dan nggak masuk akal. Maksudnya gimana, Pak?” “Semua jadi aneh dan nggak masuk akal!” “Kok semua, yang dimaksud siapa?” “Suto dan masyarakat. Termasuk Anda juga!” “Maaf. Saya atau pertanyaan saya yang dianggap aneh?” kata Wartono agak tersinggung. “Nggak, ah. Kalau soal Anda, ini hanya guyon saja…” Guritno menetralisir pernyataan terakhirnya karena seolah dianggap serius dan menyudutkan profesi wartawan. “ Monggo mas, diminum dulu,” dengan santai Guritno menyilahkan wartawan tersebut untuk menikmati air mineral dan caminal yang tersedia di atas meja. Suasana kembali cair.  Meski hanya sebagai kepala desa, Guritno terlihat sangat tenang menghadapi berondongan pertanyaan wartawan. Tidak seperti kepala desa ...

Meluruskan Peran Siti Rahmani “Ini Budi”

Siti Rahmani Rauf. (Sumber foto: Google Image) Informasi atas meninggalnya Siti Rahmani Rauf yang diberitakan sebagai penyusun buku “Ini Budi” pertama kali saya peroleh dari seorang teman melalui WhatsApp (WA) Group flpsoloraya.com, Rabu (11/5/2016) sekitar pukul 14.30. Info itu berbunyi : Inna lillahi wa inna ilaihi rooji'uun. Telah wafat tadi malam Selasa10 Mei 2016 pkl. 21.20 WIB Ibu Siti Rahmani Rauf di usia 96 thn. Almarhumah adalah penyusun buku belajar membaca *_"Ini Budi"..._* Beliau adalah pahlawan kita utk bisa membaca dan menulis WA / SMS hari ini. Semoga almarhumah husnul khotimah. Di bawah tulisan tersebut disertakan sebuah foto Siti Rahmani Rauf dengan latarbelakang salah satu karyanya. Tanpa berpikir panjang informasi itu langsung saya sebar melalui WA Group One Day One Post (ODOP)-2. Informasi itu mendapat respon luar biasa dari teman-teman anggota ODOP. Bahkan anggota ODOP asal Bandung, Nychken Gilang Bedy Setiawan, langsung meny...

Bukan Halusinasi ( Bag. 7 )

Sesuai rencana, Guritno bersama perangkatnya mendatangi rumah Suto. Melihat kedatangan Guritno, puluhan warga yang berkerumun itu berebut menyalami Kepala Desa yang simpatik itu. Beberapa orang dari luar desa yang belum mengenalnya juga mendekat Guritno. “Selamat Siang Pak Lurah..” beberapa orang menyapa. “Selamat Siang. Gimana kabarnya. Sehat semua kan.?” Sapa Guritno. “ Nggih Pak Lurah…” Guritno langsung menuju lokasi sumur tua milik Suto . Ia segera me lo ngok ke dalam sumur seperti yang dilakukan warga. Ia berkali-kali melongok ke lubang sumur yang berkedalaman 15 meter. Sesaat kemudian, ia melihat ke sekeliling, mengamati puluhan rumpun pohon bambu yang tumbuh subur di pekarangan Suto . Beberapa orang yang menyaksikan gerak gerik Kepala Desa itu saling berpandangan dan berbisik satu sama lain. Mereka menerka apa yang akan dilakukan pemimpin desa itu. Diantara mereka ada yang memberanikan diri bertanya dan usul kepada Guritno. “Bagaimana pak.. Apa bet...

Bukan Halusinasi ( Bag. 6 )

Kabar misteri sumur tua di pekarangan Suto sampai di telinga Guritno, Kepala Desa setempat.  Setelah men erima laporan dari perangkat Desa dan banyak mendengar cerita dari warga, siang itu  Guritno menggelar pertemuan khusus. Pertemuan diikuti semua perangkat desa, mulai dari Sekretaris Desa (Carik) beserta Kepala Urusan, Kepala Seksi dan Kepala Dusun atau Kebayan. “Bapak-bapak yang saya hormati. Hari ini kita adakan pertemuan untuk menyikapi kejadian di lingkungan rumah Pak Suto. Karena ini menyangkut keamanan wilayah kita,” kata Guritno membuka rapat. “Berdasarkan laporan lisan Bapak-bapak Perangkat Desa dan cerita warga serta pemberitaan koran, kita harus segera mengantisipasi jangan sampai menimbulkan dampak negatif, bukan hanya bagi keluarga pak Suto, tapi juga masyarakat sekitar dan keamanan Desa kita,” Guritno melanjutkan. Kepala Desa yang baru menjabat tiga tahun ini memimpin rapat tidak bertele-tele.   Ia   paparkan kronologi kejadian berdasar...