Skip to main content

Posts

AYO NGAJI

Yuk, kita aktif ke majlis (tempat) pengajian. Di tempat ini, kita mendapat siraman rohani, diingatkan tentang kebesaran Allah, mengenai hakikat hidup, perihal bagaimana beramal shaleh, serta cara meraih kebahagiaan di dunia dan di akherat. Di majlis pengajian, kita dapatkan berbagai ilmu (pengertian) yang benar mengenai cara-cara yang benar, agar langkah yang kita tempuh tidak sia-sia. Di sini pula kita peroleh petunjuk jalan yang terang, sehingga kita menjadi tenang dan tabah dalam menghadapi berbagai tantangan dan cobaan yang menghadang. Tentang keutamaan majlis pengajian, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa sallam bersabda : “ Hai Abu Dzar, jika engkau pergi untuk mempelajari satu ayat dari kitab Allah, maka itu lebih baik bagimu daripada kamu shalat 100 rakaat. Jika engkau pergi lalu mempelajari satu bab ilmu yang dapat diamalkan, itu lebih baik bagimu dibandingkan kamu shalat 1000 rakaat .” (HR. Ibnu Majah). Dengan ilmu yang kita peroleh di majlis pengajian, ibadah me...

Pelajaran dari Ibadah Qurban dan Haji

Peringatan Idul Adha baru saja berlalu. Dua Ibadah utama, Haji dan Qurban, telah dilaksanakan. Lantas, apa saja pelajaran yang bisa kita ambil dari ibadah qurban dan haji tersebut? Dari sekian banyak pelajaran, seperti diungkapkan Ustadz Rumaysho (2015), ada   beberapa hal yang dapat kita petik. 1- Belajar untuk ikhlas Dari ibadah qurban, yang dituntut adalah keikhlasan dan ketakwaan, Itulah yang dapat menggapai ridha Allah. Daging dan darah itu bukanlah yang dituntut, namun dari keikhlasan dalam berqurban. Allah Ta’ala berfirman, لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ “ Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya .” (QS. Al Hajj [22]: 37) Untuk ibadah haji pun demikian, kita diperintahkan untuk ikhlas, bukan cari gelar dan sanjungan. Dari Abu Hurairah, bahwa ia mendengar Nabi SAW bersabda, مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَ...

40 TAHUN JADI FOTOGRAFER KELILING

Namanya Sugino. Kakek berusia 72 tahun ini gerakannya terlihat lincah, bahkan untuk lari sekalipun. Penglihatan matanya masih tajam menatap dan mengincar berbagai obyek. Kamera yang terus dipegangnya, siap membidik sasaran yang diinginkan. Itulah sekilas, sosok  pria yang akrab dipanggil Gino Foto ini.  Dia termasuk manusia langka, karena di usia 72 tahun, masih menekuni profesinya sebagai Fotografer Keliling yang sudah dijalani 40 tahun. Luar biasa! *** Pak Gino bersama istrinya, Hartini, tinggal di Dukuh Ngundaan RT.2, Desa Glonggong, Kecamatan Gondang, Kabupaten Sragen. Dari ketiga anaknya yang sudah berumah tangga,   kini dikaruniai delapan cucu.  Ketika ditanya bagaimana awal mula dia menekuni dunia fotografer, Pak Gino bercerita banyak.  "Pada awal berumah tangga,  saya dikenal sebagai tukang sewa speaker (pengeras suara), terutama untuk orang yang punya hajatan. Waktu itu dengan perangkat sangat sederhana, power- nya kecil karena...

Aksi Damai Dari Sragen Untuk Rohingya

Tindakan brutal militer Myanmar terhadap wrga muslim di Rohingya memantik simpati umat Islam seluruh dunia, tak terkecuali di Sragen, Jawa Tengah. Sebagai wujud kepedulian terhadap nasib tragis yang dialami warga muslim di Rohingya, Kamis (7/9/2017) ribuan siswa sekolah di lingkungan Birrul Walidain (dari PAUD, TK, SD dan SMP) dan Darul Ihsan Muhammadiyah Sragen menggelar aksi damai penggalangan dana. Aksi yang dipusatkan di komplek Masjid Raya Al-Falah itu berhasil menghimpun dana sebesar lebih dari Rp. 40.187.200,-. Dana yang terkumpul selanjutnya disumbangkan untuk membantu warga Muslim Rohingya melalui LAZISMU (Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah). Koordinator Aksi Bela Muslim Rohingya, Umar Khoironi, dalam orasinya menyampaikan, sampai saat ini penindasan terhadap etnis Rohingya masih terus berlangsung. Muslim yang minoritas di negara itu, diperlakukan tidak adil dan disiksa di luar batas kemanusiaan. “Penindasan dan pembunuhan massal terhadap musli...

ANAK PENJAGA SEKOLAH DAPAT HADIAH SEPEDA MOTOR

Elang Jodi Ichap Permana , 12 tahun, siswa kelas 6 SD Negeri Sumberejo, Kecamatan Plupuh, Sragen, berhasil meraih hadiah utama berupa sebuah Sepeda Motor merk Honda Beat dalam kegiatan ‘Jalan Sehat’ yang berlangsung Ahad pagi (3/9/2017). Jalan sehat dengan start dan finish di GOR Diponegoro itu diselenggarakan untuk memperingati HUT ke-11 PD BPR BKK dan BKK Kabupaten Sragen. Hadiah diserahkan langsung oleh Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati, saat menghadiri acara tersebut. Namun karena Elang masih siswa SD, maka sepeda motor diserahkan kepada ayah Elang, yakni Joko Purnomo. Elang tercatat sebagai nasabah Simpanan Pelajar (Simpel) PD BPR BKK Karangmalang. Sedangkan ayahnya, Joko Purnomo,   sehari-hari bekerja sebagai Pegawai Tidak Tetap Penjaga SMKN-1 Plupuh. Usai menerima hadiah Sepeda Motor Beat, Joko yang memiliki tiga putra ini merasa bersyukur dan kegirangan karena baru kali ini memiliki motor baru. “Selama ini sepeda motor yang saya miliki lawas...

QURBAN : PUNCAK PENCAPAIAN KEIMANAN

Syariat penyembelihan hewan qurban di Hari Raya Idul Adha merupakan wujud puncak pencapaian ketauhidan/keimanan, sekaligus puncak pencapaian ketaatan dan puncak peribadatan serta puncak rasa syukur nikmat dan kepasrahan total kepada Allah SWT. Rangkaian peristiwa tersebut dijalani oleh Nabi Ibrahim AS, Ismail AS dan Siti Hajar yang diabadikan dalam Al-Qur'an. Kini, umat Islam diharapkan mengikuti jejak tersebut sebagai uswah hasanah, teladan yang baik dalam menjalani dan menyikapi kehidupan.  Demikian pesan Ustadz Drs. H. Sururi, ketika menyampaikan khutbah Shalat Idul Adha 1438 H, di lapangan Teguhan, Kelurahan Plumbungan, Kecamatan Karangmalang, Sragen,  Jum'at (1/9/2017). Shalat Idul Adha yang diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Plumbungan bekerjasama dengan Takmir Masjid Juanda Teguhan dan Pimpinan Ranting Aisyiah Plumbungan tersebut diikuti ribuan umat Islam.  Menurut Ustadz Sururi, ada tiga sikap Ibrahim AS yang perlu kita teladani. Pert...

PENDAPA PRAWIROJAYAN AKHIRNYA TERJUAL

Rumah kuno dengan Pendapanya yang megah itu sudah berdiri lebih dari satu abad. Keberadaan Pendapa   tersebut bahkan telah menyatu dengan masyarakat. Warga bebas memanfaatkan untuk kepentingan umum, terutama untuk gladen (latihan) berbagai jenis seni dan menjadi tempat berkumpulnya   banyak kalangan. Pendapa itu dulu oleh Den Bei, pemilik rumah, dinamakan Prawirojayan. Tapi beberapa orang menyebutnya sebagai Pendapa Kamardikan. Sebelum meninggal dunia, Den Bei berpesan kepada anak cucunya agar menjaga dan merawat Pendapa sehingga tetap bisa memberikan manfaat bagi seluruh keluarga dan masyarakat. Namun setelah sekian tahun Den Bei meninggal dunia, seiring dengan perubahan zaman, pola pikir dan perilaku anak cucunya ikut tergerus.   Mereka ingin mengikuti tren dunia modern, dan itu butuh biaya. Sayangnya, pikiran mereka cupet , dangkal. Pendapa agung, harta warisan leluhur yang seharusnya dijaga, dirawat dan dilestarikan sebagai monument sejarah trah kelu...