Skip to main content

Jalan Menuju Bahagia (Bag.2)

 

 APA ITU BAHAGIA?

1. Memahami Arti Kebahagiaan

Bahagia merupakan kata yang sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat luas. Hampir setiap orang mengenal kata bahagia, menginginkannya, dan berusaha meraihnya. Namun, ketika ditanya apa sebenarnya arti kebahagiaan, jawaban setiap orang mungkin berbeda-beda.

Bagi seorang petani, kebahagiaan bisa hadir ketika tanaman yang dirawat selama berbulan-bulan menghasilkan panen yang melimpah. Bagi seorang pedagang, kebahagiaan terasa ketika usahanya berkembang dan mampu mencukupi kebutuhan keluarga. Bagi orang tua, kebahagiaan mungkin terletak pada keberhasilan mendidik anak-anaknya menjadi pribadi yang saleh, mandiri, dan bertanggung jawab.

Sementara itu, bagi seseorang yang sedang sakit, kebahagiaan bisa sesederhana merasakan tubuh yang kembali sehat. Bagi orang yang lama merantau, kebahagiaan dapat berupa kesempatan pulang ke kampung halaman dan berkumpul bersama keluarga.

Dari berbagai gambaran tersebut, kita dapat memahami bahwa kebahagiaan tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar dan luar biasa. Ia dapat muncul melalui keberhasilan, pertemuan, kesembuhan, ketenteraman, bahkan melalui hal-hal sederhana yang sering kali luput dari perhatian.

Kebahagiaan juga tidak selalu berarti tertawa, tersenyum, atau menunjukkan wajah yang ceria. Ada kebahagiaan yang hadir dalam keheningan, ketika seseorang duduk sendiri setelah menyelesaikan pekerjaannya, merenungkan perjalanan hidup, dan merasakan ketenteraman dalam hati.

Dengan demikian, kebahagiaan dapat dipahami sebagai keadaan ketika seseorang merasakan adanya kebaikan, kepuasan, ketenteraman, atau makna dalam kehidupannya. Kebahagiaan mencakup perasaan yang menyenangkan, penilaian seseorang terhadap kehidupannya, serta keyakinan bahwa apa yang dijalaninya mempunyai arti.

Namun, kebahagiaan bukanlah keadaan yang selalu sama sepanjang waktu. Perasaan manusia dapat berubah. Hari ini seseorang merasa gembira, esok mungkin menghadapi kesedihan. Perubahan tersebut merupakan bagian yang wajar dari kehidupan.

Yang terpenting bukanlah bagaimana membuat diri selalu merasa senang, melainkan bagaimana membangun kehidupan yang tetap bermakna di tengah berbagai perubahan.

2. Bahagia Tidak Selalu Berarti Senang

Dalam percakapan sehari-hari, kata senang dan bahagia sering digunakan secara bergantian. Padahal, keduanya dapat memiliki nuansa makna yang berbeda.

Senang biasanya berkaitan dengan perasaan positif yang muncul karena suatu kejadian, pengalaman, atau keadaan tertentu. Mendapat hadiah membuat kita senang. Makan makanan kesukaan membuat kita senang. Bertemu teman lama juga dapat menimbulkan rasa senang.

Perasaan tersebut tentu penting. Manusia membutuhkan kegembiraan dan pengalaman menyenangkan untuk menyegarkan pikiran serta menjalani kehidupan dengan lebih baik.

Akan tetapi, kebahagiaan dapat mempunyai makna yang lebih luas daripada sekadar kesenangan sesaat. Kebahagiaan juga berkaitan dengan kepuasan terhadap kehidupan, hubungan yang bermakna, tujuan yang diperjuangkan, serta nilai-nilai yang diyakini.

Bayangkan seorang ayah yang bekerja keras setiap hari. Ia harus bangun pagi, berangkat ketika udara masih dingin, menghadapi kemacetan, menyelesaikan pekerjaan, dan pulang dalam keadaan lelah.

Secara fisik, ia mungkin tidak selalu merasa senang. Ada saat-saat ketika pekerjaannya terasa berat. Namun, ketika melihat anak-anaknya dapat belajar dengan baik dan keluarganya hidup dalam kecukupan, ia merasakan kepuasan yang mendalam.

Pengorbanan tersebut tidak selalu menyenangkan, tetapi dapat memberikan kebahagiaan karena memiliki makna.

Demikian pula seseorang yang merawat orang tuanya yang telah lanjut usia. Ia mungkin harus mengurangi waktu istirahat dan mengesampingkan sebagian kepentingan pribadi. Meskipun tidak mudah, ia dapat merasakan ketenteraman karena mampu menjalankan tanggung jawab dan membalas sebagian kasih sayang orang tuanya.

Dari sini kita belajar bahwa tidak semua yang menyenangkan membawa kebahagiaan jangka panjang, dan tidak semua yang terasa berat menjauhkan kita dari kebahagiaan.

Ada kesenangan yang perlu dibatasi karena dapat merugikan diri sendiri. Sebaliknya, ada perjuangan yang perlu dijalani meskipun membutuhkan kesabaran dan pengorbanan.

Kebijaksanaan hidup terletak pada kemampuan membedakan keduanya.

Kesenangan membuat kita menikmati suatu pengalaman, sedangkan kebahagiaan juga berkaitan dengan bagaimana kita memaknai keseluruhan perjalanan hidup.


3. Kebahagiaan Lahir dan Batin

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia mempunyai kebutuhan lahiriah dan batiniah. Keduanya perlu mendapatkan perhatian secara seimbang.

Kebutuhan lahiriah berkaitan dengan hal-hal yang menunjang kehidupan fisik dan sosial, seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, kesehatan, pekerjaan, penghasilan, serta lingkungan yang aman.

Kebutuhan tersebut tidak boleh diremehkan. Seseorang yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar tentu menghadapi beban kehidupan yang nyata. Karena itu, usaha untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi, memperoleh pekerjaan yang layak, dan membangun lingkungan yang sehat merupakan bagian penting dari upaya meningkatkan kualitas hidup.

Namun, kebutuhan manusia tidak berhenti pada perkara lahiriah.

Manusia juga membutuhkan ketenteraman, kasih sayang, penghargaan, hubungan yang sehat, rasa memiliki, dan keyakinan bahwa hidupnya mempunyai makna.

Seseorang mungkin tinggal di rumah yang megah, tetapi merasa kesepian karena tidak mempunyai hubungan yang hangat dengan keluarganya. Sebaliknya, keluarga yang tinggal di rumah sederhana dapat merasakan kedekatan karena terbiasa saling mendengarkan, menghormati, dan membantu.

Contoh tersebut bukan berarti bahwa kemiskinan menjadikan seseorang lebih bahagia atau kekayaan membuat seseorang kurang bahagia. Keduanya tidak dapat disimpulkan demikian. Kesejahteraan materi tetap penting, tetapi tidak dengan sendirinya menjamin terpenuhinya kebutuhan batin.

Kebahagiaan yang lebih utuh memerlukan perhatian terhadap kedua sisi kehidupan tersebut.

Kita perlu bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga menyediakan waktu untuk keluarga. Kita perlu berusaha meraih keberhasilan, tetapi tidak mengorbankan kesehatan secara berlebihan. Kita perlu meningkatkan kemampuan dan penghasilan, tetapi tetap menjaga kejujuran, kepedulian, dan hubungan spiritual.

Dalam perspektif Islam, keseimbangan ini dapat diwujudkan melalui ikhtiar yang sungguh-sungguh, pencarian rezeki yang halal, pelaksanaan ibadah, serta kepedulian kepada sesama.

Kita tidak perlu mempertentangkan kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat. Yang diperlukan adalah menempatkan keduanya secara benar, sehingga urusan dunia menjadi sarana untuk melakukan kebaikan dan mempersiapkan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

4. Setiap Orang Memiliki Ukuran Kebahagiaan yang Berbeda

Salah satu penyebab seseorang sulit merasa bahagia adalah kebiasaannya mengukur kehidupan sendiri menggunakan ukuran kehidupan orang lain.

Ketika melihat tetangga membeli mobil baru, seseorang mulai merasa tertinggal. Ketika melihat teman memperoleh jabatan yang lebih tinggi, ia merasa dirinya kurang berhasil. Ketika menyaksikan orang lain membangun rumah besar, ia merasa rumah yang dimilikinya tidak lagi cukup membanggakan.

Tanpa disadari, kebahagiaan yang sebelumnya dirasakan perlahan-lahan terganggu oleh perbandingan.

Padahal, setiap orang mempunyai perjalanan hidup, kebutuhan, tanggung jawab, kemampuan, dan kesempatan yang berbeda.

Seseorang yang telah berhasil membangun usaha mungkin memerlukan waktu bertahun-tahun untuk mencapainya. Orang lain mungkin sedang memulai dari nol. Tidak adil jika keduanya dibandingkan hanya berdasarkan hasil yang terlihat pada hari ini.

Begitu pula dalam kehidupan keluarga. Ada keluarga yang mempunyai kemampuan ekonomi besar, ada yang masih berjuang memenuhi kebutuhan pokok. Ada yang dikaruniai anak, ada yang menjalani kehidupan dengan keadaan keluarga yang berbeda. Setiap orang mempunyai keadaan yang tidak selalu dapat disamakan.

Karena itu, penting bagi kita untuk mengenali ukuran keberhasilan yang sesuai dengan nilai dan tanggung jawab sendiri.

Apakah kita telah berusaha menjadi pribadi yang lebih baik? Apakah kita menjalankan tanggung jawab dengan jujur? Apakah kehadiran kita memberikan manfaat bagi keluarga dan masyarakat? Apakah kita menggunakan kemampuan yang dimiliki untuk melakukan kebaikan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih berguna daripada terus-menerus bertanya mengapa kehidupan kita tidak sama dengan kehidupan orang lain.

Kita boleh menjadikan keberhasilan orang lain sebagai inspirasi. Kita boleh belajar dari pengalaman mereka. Namun, inspirasi tidak harus berubah menjadi iri hati, dan perbedaan pencapaian tidak seharusnya membuat kita merendahkan diri sendiri.

Kita tidak harus mempunyai kehidupan yang sama dengan orang lain untuk dapat menjalani kehidupan yang baik dan bahagia.


5. Kebahagiaan Bukan Berarti Memiliki Segalanya

Ada anggapan bahwa seseorang baru akan bahagia apabila seluruh keinginannya terpenuhi.

Ia merasa akan bahagia setelah memiliki rumah sendiri. Setelah itu, ia ingin membeli kendaraan yang lebih bagus. Setelah kendaraan tersedia, ia ingin mempunyai usaha yang lebih besar. Ketika usaha berkembang, ia mulai menginginkan kedudukan dan penghasilan yang lebih tinggi.

Keinginan manusia memang dapat terus bertambah. Tidak ada salahnya mempunyai cita-cita dan berusaha memperbaiki kehidupan. Namun, jika kebahagiaan selalu diletakkan pada sesuatu yang belum dimiliki, seseorang dapat terjebak dalam penantian yang tidak berujung.

Setiap kali satu keinginan tercapai, muncul keinginan berikutnya. Sesuatu yang dahulu terasa istimewa akhirnya dianggap biasa. Apa yang dulu menjadi impian berubah menjadi standar baru yang harus dilampaui.

Dalam psikologi, terdapat fenomena yang dikenal sebagai hedonic adaptation, yaitu kecenderungan manusia untuk menyesuaikan diri dengan perubahan keadaan, termasuk perubahan yang menyenangkan. Akibatnya, kegembiraan dari suatu keberhasilan dapat berkurang seiring berjalannya waktu.

Pemahaman ini mengingatkan kita agar tidak menggantungkan seluruh kebahagiaan pada pencapaian baru.

Kita tetap boleh bermimpi besar. Kita tetap perlu bekerja keras dan memperbaiki keadaan. Akan tetapi, di tengah perjuangan tersebut, kita juga perlu belajar menikmati apa yang telah dicapai dan menghargai nikmat yang sudah ada.

Jika hari ini kita mempunyai pekerjaan yang halal, bersyukurlah. Jika masih mempunyai keluarga yang dapat diajak berbagi cerita, rawatlah hubungan itu. Jika tubuh masih memungkinkan kita untuk beraktivitas, gunakanlah kesempatan tersebut untuk melakukan kebaikan.

Syukur bukan berarti puas terhadap keadaan yang kurang baik dan berhenti berusaha. Syukur berarti mengakui nikmat yang telah diterima, sambil tetap memperbaiki keadaan melalui cara-cara yang benar.

Ada perbedaan antara memiliki cita-cita dan diperbudak oleh keinginan. Cita-cita memberikan arah bagi kehidupan, sedangkan keinginan yang tidak terkendali dapat membuat kita terus merasa kekurangan.

Belajar merasa cukup merupakan salah satu jalan untuk membangun ketenteraman.

6. Bahagia dalam Kesederhanaan

Tidak semua kebahagiaan membutuhkan biaya besar. Banyak pengalaman berharga justru hadir melalui hal-hal sederhana.

Sarapan bersama keluarga sebelum memulai aktivitas. Menyapa tetangga dengan ramah. Mendengarkan cerita anak tanpa terganggu oleh telepon genggam. Menjenguk teman yang sedang sakit. Membantu orang yang mengalami kesulitan. Menikmati udara pagi setelah bangun tidur.

Semua itu mungkin tampak biasa. Namun, ketika dilakukan dengan perhatian dan ketulusan, pengalaman sederhana dapat memberikan rasa dekat, bermakna, dan tenteram.

Kita sering kali menganggap bahwa kebahagiaan harus hadir melalui peristiwa besar: memperoleh hadiah, merayakan keberhasilan, berlibur ke tempat yang jauh, atau membeli sesuatu yang telah lama diinginkan.

Padahal, kehidupan sehari-hari jauh lebih banyak diisi oleh peristiwa kecil. Jika kita hanya menunggu peristiwa besar untuk merasa bahagia, kita mungkin melewatkan banyak kesempatan untuk menikmati kehidupan.

Kesederhanaan juga bukan berarti menolak kemajuan atau menganggap bahwa seseorang tidak boleh mempunyai harta. Kesederhanaan lebih berkaitan dengan kemampuan menempatkan sesuatu secara proporsional, tidak berlebihan dalam mengejar pengakuan, dan tidak mengukur harga diri hanya berdasarkan kepemilikan.

Orang yang sederhana tetap boleh mempunyai rumah yang bagus, kendaraan yang layak, usaha yang maju, dan cita-cita yang tinggi. Bedanya, ia tidak menjadikan semua itu sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan.

Ia mampu menikmati keberhasilan tanpa merendahkan orang lain. Ia dapat menerima keterbatasan tanpa kehilangan harga diri. Ia berusaha memperbaiki kehidupan tanpa melupakan nikmat yang telah diterima.

Dalam kehidupan seperti itulah kesederhanaan dapat menjadi jalan menuju kebahagiaan.

7. Kebahagiaan dan Penerimaan Diri

Setiap manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan. Ada hal-hal yang dapat kita ubah melalui usaha, tetapi ada pula kenyataan yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali kita.

Kita dapat berusaha meningkatkan keterampilan, memperbaiki kebiasaan, menjaga kesehatan, dan membangun hubungan yang lebih baik. Namun, kita tidak dapat mengatur seluruh pendapat orang lain, menghapus masa lalu, atau memastikan bahwa semua rencana akan berjalan sesuai keinginan.

Kesulitan muncul ketika kita terus-menerus memaksakan sesuatu yang berada di luar kendali.

Kita merasa gelisah karena seseorang tidak menyukai kita. Kita terus menyalahkan diri sendiri atas kegagalan masa lalu. Kita merasa hidup tidak adil karena keadaan tidak sesuai dengan harapan.

Dalam menghadapi keadaan semacam itu, penerimaan diri dan penerimaan terhadap kenyataan menjadi penting.

Menerima diri bukan berarti menganggap semua kekurangan sebagai sesuatu yang tidak perlu diperbaiki. Menerima diri berarti melihat keadaan secara jujur tanpa terus-menerus menghina atau merendahkan diri sendiri.

Demikian pula menerima kenyataan bukan berarti menyerah. Penerimaan justru membantu kita membedakan mana yang masih dapat diusahakan dan mana yang perlu dihadapi dengan lapang dada.

Jika kita melakukan kesalahan, akuilah, perbaikilah, dan belajarlah darinya. Jika kita gagal, evaluasilah penyebabnya dan susun langkah baru. Jika menghadapi keadaan yang tidak dapat diubah, berikan ruang bagi diri sendiri untuk beradaptasi.

Dalam ajaran Islam, sikap ini dapat berjalan bersama ikhtiar, sabar, doa, dan tawakal. Tawakal bukan alasan untuk meninggalkan usaha, melainkan sikap berserah diri kepada Allah setelah melakukan upaya yang dapat dilakukan.

Dengan demikian, penerimaan bukanlah akhir dari perjuangan. Penerimaan adalah titik awal untuk melangkah dengan lebih bijaksana.


8. Bahagia Bukan Berarti Tidak Pernah Kecewa

Kekecewaan merupakan bagian dari pengalaman manusia. Kita kecewa ketika harapan tidak terwujud, usaha tidak dihargai, kepercayaan dikhianati, atau orang yang kita harapkan ternyata tidak bertindak sebagaimana mestinya.

Tidak ada gunanya berpura-pura bahwa semua kekecewaan dapat dihindari. Perasaan tersebut dapat muncul secara spontan ketika kita menghadapi sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan.


Namun, ada perbedaan antara mengalami kekecewaan dan membiarkan kekecewaan menguasai seluruh kehidupan.

Ketika kecewa, kita boleh bersedih. Kita boleh mengambil waktu untuk menenangkan diri. Kita boleh berbicara dengan orang yang dipercaya dan mencari bantuan jika diperlukan.

Setelah itu, kita dapat mulai bertanya: apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang dapat saya pelajari? Apakah ada hal yang masih dapat diperbaiki? Bagaimana saya dapat melangkah tanpa terus-menerus terjebak dalam kejadian tersebut?

Pertanyaan seperti ini membantu mengarahkan perhatian dari penyesalan semata menuju pemahaman dan tindakan.

Sebagai contoh, seseorang yang gagal dalam usaha mungkin merasa kehilangan semangat. Namun, setelah mengevaluasi pengelolaan keuangan, strategi pemasaran, dan keputusan yang diambil, ia dapat memperoleh pelajaran untuk menghadapi kesempatan berikutnya.

Tentu saja, tidak semua kekecewaan dapat segera diatasi. Ada kehilangan dan pengalaman menyakitkan yang membutuhkan waktu panjang untuk dipulihkan. Dalam keadaan demikian, kita tidak perlu memaksakan diri agar segera merasa baik-baik saja.

Kebahagiaan bukan tuntutan untuk selalu tersenyum. Kebahagiaan juga memberi ruang bagi manusia untuk bersedih, beristirahat, meminta pertolongan, dan perlahan-lahan membangun kembali kekuatan.

Yang perlu dijaga adalah jangan sampai satu pengalaman buruk membuat kita menyimpulkan bahwa seluruh kehidupan tidak lagi mempunyai harapan.

9. Menemukan Makna dalam Kehidupan

Kebahagiaan tidak hanya berkaitan dengan apa yang kita rasakan, tetapi juga dengan apa yang kita anggap bermakna.

Ada orang yang merasa hidupnya berharga karena berhasil mendidik anak-anaknya. Ada yang menemukan makna melalui pekerjaan dan pengabdiannya. Ada pula yang merasakan kepuasan ketika mampu membantu orang lain, mengajarkan ilmu, atau memberikan sumbangan bagi lingkungan.

Makna hidup tidak harus selalu diwujudkan melalui tindakan yang besar. Seseorang yang bekerja dengan jujur, menjalankan tanggung jawab keluarga, dan memperlakukan orang lain dengan baik juga sedang membangun kehidupan yang bermakna.

Dalam perspektif Islam, makna kehidupan berkaitan dengan pengabdian kepada Allah SWT dan pelaksanaan amanah sebagai manusia. Ibadah tidak hanya berkaitan dengan ritual, tetapi juga tercermin dalam kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, dan usaha memberikan manfaat kepada sesama.

Ketika seseorang memahami tujuan hidupnya, ia mempunyai pegangan untuk menentukan prioritas. Ia dapat membedakan antara sesuatu yang sekadar menarik perhatian dan sesuatu yang sungguh-sungguh penting.

Ia juga lebih mampu menilai keberhasilan secara menyeluruh. Keberhasilan tidak hanya diukur dari banyaknya harta atau tingginya jabatan, tetapi juga dari cara memperoleh harta tersebut, manfaat yang dihasilkan, dan kualitas hubungan yang dijaga.

Pada akhirnya, hidup yang bermakna tidak harus selalu terlihat mengagumkan di mata orang lain. Yang lebih penting adalah apakah kehidupan tersebut dijalani dengan nilai-nilai yang benar dan memberikan kebaikan.

10. Renungan: Sudahkah Kita Menemukan Kebahagiaan?

Marilah kita berhenti sejenak untuk merenungkan kehidupan sendiri.

Sudah berapa banyak waktu yang kita gunakan untuk mengejar sesuatu yang kita anggap akan membuat bahagia? Berapa banyak nikmat yang telah kita terima, tetapi jarang kita perhatikan? Berapa banyak kesempatan untuk menikmati kebersamaan yang terlewat karena kita terlalu sibuk mengejar urusan lain?

Mungkin kita masih mempunyai cita-cita yang belum tercapai. Mungkin keadaan ekonomi belum sesuai harapan. Mungkin ada persoalan keluarga yang belum terselesaikan. Semua itu layak dihadapi dengan ikhtiar dan kesungguhan.

Namun, jangan sampai perjuangan memperbaiki kehidupan membuat kita kehilangan kemampuan untuk menghargai kehidupan yang sedang dijalani.

Kita boleh berusaha menjadi lebih kaya, tetapi jangan sampai kehilangan kejujuran. Kita boleh mengejar jabatan, tetapi jangan sampai melupakan keluarga. Kita boleh menginginkan pengakuan, tetapi jangan sampai menggantungkan seluruh harga diri pada penilaian orang lain.

Belajarlah untuk terus melangkah tanpa harus membenci keadaan saat ini. Belajarlah memperbaiki diri tanpa merendahkan diri sendiri. Belajarlah menerima nikmat tanpa kehilangan semangat untuk berkembang.

Sebab, kebahagiaan bukan hanya tentang seberapa jauh kita telah berjalan, melainkan juga tentang bagaimana kita menjalani perjalanan tersebut.

Renungan:

“Bahagia bukan berarti memiliki semua yang kita inginkan. Bahagia adalah belajar menghargai apa yang dimiliki, memperjuangkan apa yang masih dapat diraih, dan menerima apa yang tidak dapat kita kendalikan dengan hati yang bijaksana."



Comments

Popular posts from this blog

ATUR PANAMPI PASRAH TEMANTEN KAKUNG

Assalamu 'alaikum wr.wb. - Para Sesepuh-Pinisepuh ingkang dahat kinabekten. -Para Rawuh kakung sumawana putri ingkang kinurmatan. -Panjenenganipun  Bapa ………………..        minangka sulih sarira  saking  Bapa BUDI PRANOTO, S.Pd sekalian Ibu KUN MARYATI, S.Pd. ingkang tuhu kula kurmati. Kanthi ngonjukaken raos syukur dhumateng ALLAH SWT., Gusti Ingkang Maha Kawasa, kula minangka sulih salira saking panjenenganipun Bp. Haji SUDARNO, S.Sos  sekalian Ibu Hajah CIPTANTI DWI PRIYANTINI, S.Pd keparenga tumanggap atur menggah paring pangandikan pasrah temanten kakung. Ingkang sepisan , kula minangka sulih sarira Bapa Haji SUDARNO,S.Sos sekalian,dalasan sedaya kulawarga ngaturaken pambagya sugeng sarawuh panjenengan minangka Dhuta Saraya Pasrah saking Bapa BUDI PRANOTO,S.Pd sekalian dalasan sedaya panderek. Kaping kalih , menggah salam taklim Bp-Ibu BUDI  lumantar panjenengan, sampun katampi, dhawah sami-2, kanthi-atur wa'ala...

ATUR PASRAH BOYONG TEMANTEN KEKALIH

Salah satu rangkaian adat Jawa setelah melangsungkan resepsi pernikahan adalah, keluarga temanten perempuan memboyong kedua mempelai kepada keluarga orangtua mempelai laki-laki (besan).  Sebelum masuk rumah keluarga besan, diadakan acara “Atur Pasrah” dari keluarga mempelai perempuan, dan “Atur Panampi” dari keluarga besan. Berikut adalah tuladha (contoh) sederhana “Atur Pasrah” yang saya susun dan laksanakan. *** Assalamu ‘alaikum Wr.Wb. Bismillahirrahmanirrahim. Al-hamdu lillahi rabbil ‘alamin. * Para sesepuh pinisepuh ingkang dahat kinabekten ** Panjenenganipun Bp.Waluyo dalasan Ibu Sumarni ingkang kinurmatan *** P ara rawuh kakung putri ingkang bagya mulya . Kanti  ngunjukaken raos syukur dumateng Allah SWT, Gusti Ingkang Moho Agung. Sowan kula mriki dipun saroyo dening panjenenganipun Bapa Haji Supriyadi, S.Pd dalasan Ibu Hajah Lasmi ingkang pidalem wonten Plumbungan Indah RT.27/RW.08 Kelurahan Plumbungan, Kecamatan Karangmalang, Sragen, kepar...

CONTOH ATUR PANAMPI PASRAH TEMANTEN SARIMBIT ACARA NGUNDUH MANTU

Bp-Ibu Bambang Sutopo  Assalamu'alaikum wrwb. 1.      Para Sesepuh-Pinisepuh ingkang dahat kinabekten.. 2.      Panjenenganipun Bapa Suwardi minangka sulih sarira saking Bapa Gito Suwarno-Ibu Tuginem, ingkang tuhu kinurmatan. 3.      Para Rawuh kakung sumawana putri ingkang bagya mulya. Kanthi ngonjukaken raos syukur dhumateng Allah SWT - Gusti Ingkang Maha Agung, kula minangka talanging basa saking panjenenganipun Bp. Bambang Sutopo, S.Pd,  sekalian Ibu Jari, keparenga tumanggap atur menggah paring pangandikan pasrah saking kulawarga Bapa Gito Suwarno sekalian Ibu Tuginem. Ingkang sepisan , kula minangkani punapa ingkang dados kersanipun Bapa Bambang Sutopo sekalian dalasan sedaya kulawarga, ngaturaken pambagya sugeng ing sarawuh panjenengan minangka Dhuta Saraya Pasrah saking Bp Gito Suwarno sekalian Ibu Tuginem-sapendherek,  ingkang pidalem w onten ing   Dukuh Jenggrik,...

Atur Pambagyaharja Sungkawa (Sripahan / LELAYU)

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.  Nuwun, kawula nuwun . Para pepunden sesepuh pinisepuh ingkang kula bekteni. Para asung pambela sungkawa, para rawuh kakung sunawana putri ingkang satuhu luhuring budi. Wonten madyaning panandang ing ari kalenggahan punika, kula minangka sulih sarira saking Ibu Sri Sumaringsih sakaluwarga kinen hangaturaken atur Pambagyaharja sakderengipun hangkating layon Almarhum Bapa Sukardono. Murwakani atur, sumangga panjenengan sedaya kula dherekaken manengku puja, raos syukur tansah konjuk wonten Ngarsa Dalem Allah Gusti Ingkang Maha Kawasa. Awit Panjenengan dalasan kula saget makempal wonten papan punika saperlu asung bela sungkawa menggah sedanipun Bapa Sukardono. Para asung pambela sungkawa ingkang pikantuk Rahmating Gusti. Ibu Sri Sumaringsih gotrah kulawangsa lumantar kula, ngaturaken Sugeng Rawuh, lan ngaturaken raos panuwun ingkang tanpa pepindan awit karawuhan panjenengan sedaya. Ugi ngaturaken agenging panuwun sedaya pambiyantu awujud p...

TANGGAP WACANA ATUR PAMBAGYA HARJA

Pada rangkaian acara resepsi pernikahan, keluarga yang mempunyai hajat (punya kerja), berkewajiban menyampaikan sambutan (tanggap wacana) selamat datang kepada seluruh hadirin. Dalam tatacara resepsi adat Jawa disebut Atur Pambagya Harja, atau atur pambagya wilujeng. Dalam sambutan ini, orang yang punya kerja akan mewakilkan kepada orang tertentu yang ditunjuk, biasanya ketua RT/RW, atau orang yang dituakan di lingkungannya. Nah, ketika menjadi ketua RT, saya pernah mendapat tugas untuk menyampaikan pidato (tanggap wacana) tersebut. ****** Berikut contoh / tuladha atur pambagya harja yang pernah saya sampaikan…. Assalamu ‘alaikum Wr. Wb. -        Para Sesepuh Pinisepuh, ingkang satuhu kula bekteni -        Para Rawuh Kakung sumawana putri ingkang kinurmatan Sakderengipun kula matur menggah wigatosing sedya wonten kelenggahan punika, sumangga panjenengan sedaya kula derek-aken ngunjuk-aken ra...

Atur Wangsulan Lamaran Calon Temanten

Meski tugas juru bicara untuk menyampaikan lamaran (pinangan) seperti yang saya tulis kemarin berlangsung 'glagepan' dan 'gobyoss', namun oleh beberapa teman,  saya dianggap 'sukses'.  "Bagus Pak. Sederhana dan 'cekak aos' apa yang menjadi inti," kata teman.  Tapi bagi saya pribadi, respon teman itu mungkin bisa diartikan lain. Sekedar untuk menyenangkan saya atau 'nyindir'. Namun tetap saya ucapkan terima kasih, karena memberi saya kesempatan untuk belajar dari pengalaman.  Betul. Beberapa hari setelah kejadian itu, saya diminta lagi untuk menjadi 'juru bicara' sebagai pihak yang harus menyampaikan jawaban/tanggapan atas lamaran di keluarga lain. Saya pun tak bisa mengelak. Karena waktunya sangat mendadak maka konsep saya tulis tangan dengan banyak coretan.  Seperti diketahui, setelah adanya lamaran dari keluarga pihak lelaki, biasannya diikuti dengan kunjungan balasan untuk  menyampaikan jawaban atau balasan. ...

ATUR PAMBAGYA HARJA WILUJENG

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb. -       Para Sesepuh Pinisepuh, ingkang satuhu kula bekteni -       Para Rawuh Kakung sumawana putri ingkang kinurmatan Sakderengipun kula matur menggah wigatosing sedya wonten kelenggahan punika, sumangga panjenengan sedaya kula derek-aken ngunjuk-aken raos syukur dumateng ngarsanipun Gusti Ingkang Maha Kawasa, awit saking peparing ni’mat saha berkahipun, panjenengan dalasan kula saget makempal manunggal, wonten papan punika kanthi wilujeng mboten wonten alangan satunggal punapa. Para Rawuh Kakung Sumawana Putri ingkang minulya. Kula minangka talanging basa saking panjenenganipun Bapa Ignasius Sarono, S.Pd dalasan Ibu Dra. Christiana Sri Wahyuni Kustiasih, M.Pd , ingkang pidalem ing Plumbungan Indah Sragen, wonten kalenggahan punika kepareng matur : Sepisan , bilih Bapa Ibu Iganasius Sarono ngaturaken syukur dumateng ngarsanipun Gusti Ingakang Maha Kawasa, awit   saking Berkahi-p...

Jalan Menuju Bahagia (Bag.1)

1. Mencari Kebahagiaan dalam Kehidupan Setiap manusia pada dasarnya ingin hidup bahagia. Tidak ada orang yang dengan sengaja menginginkan hidupnya dipenuhi kesedihan, kegelisahan, kekecewaan, dan penderitaan. Sejak kecil hingga memasuki usia senja, manusia terus berusaha mencari sesuatu yang diyakini dapat mendatangkan kebahagiaan. Ada orang yang bekerja keras untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik. Ada yang berjuang membangun karier, meraih jabatan, dan memperoleh penghargaan. Ada pula yang mencurahkan seluruh tenaga dan pikirannya untuk membangun keluarga yang harmonis, mendidik anak-anak, serta memberikan kehidupan yang layak bagi orang-orang yang dicintainya. Semua itu merupakan bagian dari ikhtiar manusia dalam menjalani kehidupan. Namun, muncul sebuah pertanyaan yang patut kita renungkan: apakah semua yang kita kejar benar-benar menjamin kebahagiaan. Kita mungkin pernah menyaksikan seseorang yang memiliki kekayaan melimpah, tetapi hidupnya dipenuhi kegelisahan. Ada orang y...

ATUR PANAMPI CALON TEMANTEN PUTRI BADE IJAB

Ternyata, pelan-pelan saya harus menceburkan diri kedalam tata cara adat Jawa yang semula kurang saya sukai karena serba ‘njlimet’ dan kadang terlihat tidak rasional. Padahal yang saya jalani itu baru masuk pada bagian kecil dari serangkaian adat yang merupakan bagian dari budaya Jawa. Itupun baru sebatas pada ‘tanggap wacana’ yang jelas tampak, kasat mata,   dan mudah dipelajari. Namun bagi saya masih terasa berat. Episode berikutnya dari tugas kehidupan yang harus saya jalani adalah menjadi juru bicara dari keluarga calon mempelai wanita untuk menerima pasrah calon temanten pria. ****** Inilah tugas ‘Atur Panampi saking Calon Temanten Putri Bade Ijab’. Assalamu 'alaikum wr.wb. - Para Sesepuh-Pinisepuh ingkang dahat kinabekten. - Para Rawuh kakung sumawana putri ingkang kinurmatan. - Panjenenganipun   Bapa Drs. NUR SUSANTO minangka sulih sarira   BapaHaji EDY SUDADI sekalian Ibu Hajah KONITUN, S.Pd. ingkang tuhu kinurmatan. Kanthi ngonjukak...