اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣)
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا . مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ .َأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ . اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
أَمَّا بَعْدُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ: وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا. وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Hadirin Jamaah Shalat Idul Adha yang dirahmati Allah Swt.
Alhamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn, segala puji bagi Allah yang menggenggam waktu dan menuntun langkah hamba-hamba-Nya yang beriman, menuju masjid. Terlihat wajah-wajah ceria, datang membawa harapan , semuanya menjadi saksi bahwa hari ini bukan sekedar hari raya.
Hari ini adalah hari ketika manusia belajar kembali tentang cinta, pengorbanan,
keikhlasan, dan kemanusiaan.
Hari ini kita berkumpul dalam naungan
Idul Adha 1447 Hijriah, hari ketika hati dipanggil untuk lebih dekat kepada Allah dan lebih peduli kepada sesama.
Semoga kehadiran kita mendatangkan berkah yang berlimpah, maghfirah dan ridha Allah SWT dalam kehidupan kita.
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullāh,
Idul Adha mengajarkan kepada kita bahwa hidup bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa besar yang mampu kita ikhlaskan.
Di tengah dunia yang penuh persaingan, manusia sering lupa bahwa kebahagiaan sejati bukanlah menumpuk harta, melainkan berbagi manfaat. Banyak ini rumah hari ini tampak megah, tetapi sepi kasih sayang. Banyak manusia terlihat berhasil, tetapi jiwanya gelisah.
Maka Idul Adha datang untuk menyembuhkan hati manusia yang lelah oleh dunia.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
"Maka, laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!" (QS.Al-Kautsar:2)
Ayat ini sederhana, tetapi mengguncang jiwa. Shalat menghubungkan manusia dengan Allah, sedangkan qurban menghubungkan manusia dengan sesama. Maka Islam bukan agama yang hanya sibuk dengan ibadah langit, tetapi juga bergerak untuk menguatkan bumi dan kemanusiaan.
Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah,
Ketika Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam diperintahkan menyembelih putranya, sesungguhnya Allah tidak sedang menguji kekuatan tangan Ibrahim, tetapi menguji keluasan hatinya.
Betapa berat seorang ayah menyerahkan, melepaskan anak yang sangat dicintainya. Namun Nabi Ibrahim mengajarkan kepada dunia bahwa cinta kepada Allah
harus berada di atas segala-galanya.
Dalam surat At-taubah [9]: 24 ditegaskan,
“Katakanlah! Sekiranya bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, kaum keluargamu, perdaganganmu yang kamu khawatir rugi, semuanya lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad dijalan-Nya maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”.
Allah berfirman:
"Ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) meletakkan pelipis anaknya, yakni Ismail, di atas gundukan (untuk melaksanakan perintah
Allah), Kami memanggil dia, 'Wahai Ibrahim, sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.' Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan."
Namun yang lebih penting dari itu, sebagaimana ditegaskan Allah dalam Qur'an Surat Al-haj [22]: 37,
لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ
“Daging-daging binatang qurban itu serta darahnya sekali-kali tidak akan dapat mencapai (ridla) Allah, tetapi ketaqwaaan dari kamu itulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah memudahkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepadamu. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik."
Dirinya yakin, bahwa semua kebaikan atau amal shaleh itu akan mendapatkan balasan berlimpah dari Allah baik di dunia maupun kenikmatan di akhirat kelak.
Ketika daging kurban telah diberikan kepada orang lain, kita akan melihat kesenangan, senyuman, dan kebahagiaan dari si penerima.
Mereka bahagia, merasa dipedulikan dan diperhatikan. Hal ini akan berdampak pada kesehatan mental mereka.
Bahwa orang yang senang memberi, sering berbagi, hidupnya akan lebih bahagia.
Ada hal yang menarik dari syari’at kurban. Karena daging kurban tidak hanya dibagikan kepada golongan tertentu saja, tetapi seluruh masyarakat dapat merasakan daging kurban, tanpa melihat golongan dan latar belakangnya.
Syari’at qurban berdampak sosial dan psikis, ingin merekatkan toleransi dan kebersamaan (ukhuwah) dalam masyarakat, menjalin kembali jaringan (silaturahim) yang terputus, menumbuhkan rasa dipedulikan, memperbaiki hubungan sosial dan sebagainya.
Begitulah ajaran Islam yang sangat manusiawi dan memahami betul kebutuhan manusia.
Begitu agungnya makna dan tujuan dari ibadah kurban ini, demikian indahnya sikap berbagi dalam ibadah Kurban.
Ibadah Qurban memang dilakukan setahun sekali, tapi pengaruhnya, yaitu nilai ketaqwaan dan keikhlasan serta semangat berkurban harus tetap menjadi nafas segala kegiatan, sepanjang waktu, selama hayat dikandung badan.
Dengan demikian, hakikat Qurban bukan hanya pada saat ‘Idul Ad-ha saja, tetapi juga diwaktu-waktu yang lain dengan ruang lingkup yang lebih luas.
Mulai dari menyantuni fakir miskin, mengelola TPQ, aktif dalam syiar (dakwah) Islam, mengeluarkan sebagian rejeki untuk kemaslahatan umat, dan lain sebagainya. Semuanya itu membutuhkan pengorbanan, baik harta benda, tenaga, dan pikiran.
Jika semua itu dilakukan semata-mata karena keikhlasan dan ketaqwaan serta hanya mengharap ridla Allah, yakinlah bahwa Allah akan menolong kita dan meneguhkan langkah kita untuk meraih kemuliaan dan kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat.
***
Demikian beberapa hal yang dapat kami sampaikan dalam kesempatan ini, semoga bermanfaat. Terima kasih atas perhatiannya. Jika terdapat banyak kesalahan, mohon dimaafkan.
وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْن
====
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ
Jamaah Sholat Idul Adha Rahimakumullah
Mari kita tutup khutbah ini dengan berdoa, semoga Allah menjauhkan kita dari segala penyakit dan bencana yang menghinakan. Dan melimpahkan keselamatan, kekuatan dan kesehatan lahir batin, hidup kita selalu barakah, bermanfaat bagi sesama dalam rangka meraih ridla Allah, kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat.
Semoga Allah menerima amal kebaikan dan ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dosa orangtua dan semua umat Muslim, dan kelak apabila Allah menentukan kematian, kita menjadi hamba Allah yang Husnul Khatimah, kembali kepada Allah dengan Ridha dan diridai-Nya.
Aamiin, yaa Rabbal ‘aalamiin
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ مُحَمَّد
اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
Comments
Post a Comment