Skip to main content

Khutbah Idul Adha 1446 H INDAHNYA BERBAGI

‎اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣)

‎اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا . مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ .َأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ . اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

 أَمَّا بَعْدُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ: وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا. وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Hadirin Jamaah Shalat Idul Adha yang dirahmati Allah Swt.



Hari ini, Jumat, 10 Dzulhijjah 1446 H, bertepatan dengan tanggal 6 Juni 2025, umat Islam di dunia merayakan ’Idul Ad-ha. Sejak tadi malam hingga tanggal 13 Zulhijah, gemuruh suara takbir, tahlil dan tahmid dari jutaan umat muslim di dunia, bergema memenuhi angkasa jagat raya. Mereka serentak melantunkan kalimah suci, mengagungkan asma Allah – Penguasa Alam Semesta. Jutaan manusia, dari berbagai suku dan bangsa di seluruh dunia, mengumandangkan takbir, tahlil, dan tahmid sebagai refleksi rasa syukur dan sikap kehambaan mereka kepada Allah SWT. Allahu  Akbar. Allah Maha Besar. Allah Maha Agung. Tiada yang pantas disembah dan dipuji kecuali hanya Allah.

Marilah kita tundukkan kepala dan tengadahkan jiwa di hadapan Allah Yang Maha Besar, Maha Kuasa. mari kita enyahkan sifat angkuh dan congkak yang dapat menjauhkan diri dari rahmat Allah.

Apapun kebesaran yang kita sandang, amat kecil di hadapan Allah. Betapa pun perkasa kita, tak berdaya di hadapan Allah Yang Maha Kuat. Sehebat apapun kekuasaan dan pengaruh kita, tidak ada artinya dalam genggaman Allah Yang Maha Kuasa atas segala-galanya.

 

Mari kita senantiasa meningkatkan dan menguatkan ketakwaan kepada Allah swt. Dengan menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Dengan berada di jalan yang telah digariskan oleh Allah swt, semoga kita mampu menggapai tujuan hidup yang benar dan hakiki, yakni bahagia di dunia, akhir hidup yang husnul khatimah dan di akhirat kelak kita masuk Surga-Nya. Aamiin Yaa Rabbal ‘aalamiin.

Ketakwaan ini ditegaskan Allah swt sebagai bekal yang paling baik dalam menjalani kehidupan:

وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ

Artinya: “Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal sehat!”(QS. al-Baqarah: 197)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Di momen Hari Raya Idul Adha ini, marilah kita kembali renungkan nikmat dan rezeki yang telah dianugerahkan oleh Allah swt dalam kehidupan, yang tidak bisa dihitung.

 

Segala nikmat ini adalah nyata adanya.  Ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Kautsar ayat 1:

اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَر

Artinya: “Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak.”

 

Nikmat yang telah diberikan ini harus dijadikan sebagai sarana untuk beribadah dan membawa kita lebih dekat kepada Allah swt.

Salah satu sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, dijelaskan Allah pada ayat kedua surat Al-Kautsar:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ

Artinya: “Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah.”

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. 

Dalam ayat ini, Allah perintahkan kita untuk  mendekatkan diri kepada-Nya dengan dua bentuk ibadah.

Pertama shalat, dan kedua adalah  berkurban yang dalam syari'at dilaksanakan pada  tanggal 10 Zulhijah, dan tiga hari setelahnya atau hari Tasrik, yaitu 11,12 dan 13 Zulhijjah. 

Dalam Qur’an surat Al-Haj [22]:36 Allah berfirman,

 وَالْبُدْنَ جَعَلْنٰهَا لَكُمْ مِّنْ شَعَاۤىِٕرِ اللّٰهِ لَكُمْ فِيْهَا خَيْرٌۖ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ عَلَيْهَا صَوَاۤفَّۚ فَاِذَا وَجَبَتْ جُنُوْبُهَا فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّۗ كَذٰلِكَ سَخَّرْنٰهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

“Dan telah Kami jadikan untukmu binatang qurban itu sebagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak daripadanya, maka sebutlah nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri. Kemudian apabila telah gugur, makanlah sebagian dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah telah Kami mudahkan binatang-binatang qurban itu bagi kamu, agar kamu bersyukur.”

Dari ayat tersebut dapat diketahui bahwa penyembelihan hewan Qurban merupakan syi’ar agama Allah. Kemudian terdapat kegembiraan karena bisa menikmati daging Qurban, sedangkan orang lain dan fakir miskin juga memperoleh bagian.

Dalam hadits Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah disebutkan ”Mereka bertanya : apakah yang kita peroleh dari udl-hiyah (hewan qurban)?” Rasulullah SAW menjawab, ”pada setiap bulu ada kebaikan untukmu.” Mereka bertanya lagi, ”bulu-bulu halusnya?” Rasulullah menegaskan, “Pada setiap helai dari bulu-bulu halusnya juga ada kebaikan untukmu.”

Tentu kita harus benar-benar ikhlas dan menata hati yang lurus dalam berkurban ini.

Bahwa segala hal yang kita kerjakan harus ikhlas, semata-mata karena ketaatan dan memenuhi perintah Allah, dan hanya karena mengharap ridla Allah semata, bukan karena ingin pamer, ingin dipuji orang dan yang lain. Dalam QS Al-Bayyinah [98]:5: Allah tegaskan,

وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ

حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ

”Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).”

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. 

Menyembelih hewan kurban menurut Imam Malik dan Imam al-Syafi’i adalah kesunnahan yang diutamakan atau sunnah muakkadah.

Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa ibadah kurban adalah wajib bagi Muslim yang mampu.

Sebagai sebuah kesunnahan yang ditekankan dan rutin dilakukan oleh Nabi Muhammad, ibadah kurban memiliki keutamaan  sebagaimana haditst Nabi dari Siti ‘Aisyah yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Ibnu Majah, yang artinya: “Tidak ada suatu amalan yang dikerjakan anak Adam (manusia) pada hari raya Idul Adha yang lebih dicintai oleh Allah dari menyembelih hewan. Karena hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kuku kakinya. Darah hewan itu akan sampai di sisi Allah sebelum menetes ke tanah. Karenanya, lapangkanlah jiwamu untuk melakukannya.”

Keutamaan lain dari ibadah kurban adalah :

 

1.    Bukti kecintaan kepada Allah melebihi segala macam kecintaan kepada yang lain.

  Seperti dicontohkan dalam kisah Ibrahim dan Ismail, bahwa jika Allah telah memerintahkan, kecintaan apapun yang bersifat duniawi harus dikurbankan.

Dalam surat At-taubah [9]: 24 juga ditegaskan, yg artinya, 

 “Katakanlah! Sekiranya bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, kaum keluargamu, perdaganganmu yang kamu khawatir rugi, semuanya lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad dijalan-Nya maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”.

 

2.   Bukti rasa syukur kepada Allah.

Dalam Surat Al-haj [22] : 36,  Allah berfirman

 كَذٰلِكَ سَخَّرْنٰهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

“Demikianlah Kami mudahkan binatang qurban untukmu, agar kamu bersyukur.” 

Pada Surat Ibrahim (14) : 34, disebutkan:

وَاٰتٰىكُمْ مِّنْ كُلِّ مَا سَاَلْتُمُوْهُۗ وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَاۗ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ

”Dan Dia (Allah) telah memberikan kepadamu keperluan dari apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu mau menghitung ni’mat Allah, pasti tidak akan dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat dzalim dan tidak tahu bersyukur”.

 

3.   Sebagai bukti ketaqwaan kepada Allah.

Dalam Surat Al-haj [22]: 37,  Allah berfirman,

لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ

“Daging-daging binatang qurban itu serta darahnya sekali-kali tidak akan dapat mencapai (ridla) Allah, tetapi ketaqwaaan dari kamu itulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah memudahkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepadamu. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Karena itu niat ikhlas dalam  berqurban harus dijadikan motivasi utama karena menjadi dasar  sampai tidaknya nilai qurban itu terhadap ridla Allah.

‎اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Ibadah kurban ini melatih keikhlasan dan melatih seseorang untuk tidak terlalu cinta dunia. Perilaku ini merupakan sebuah latihan jiwa yang cukup berat. Kerena harus melepaskan hal-hal yang dicintainya, berupa harta untuk berqurban. Dengan latihan keikhlasan ini jiwa senantiasa akan mampu mengendalikan diri dari motivasi dikuasai keduniaan dan kebendaan. Orang yang bisa lepas dari budak keduniaan (zuhud) maka hidupnya akan bahagia dan terhindar dari kecemasan.

Sebagaimana diketahui bahwa hidup manusia tidak terlepas dari permasalahan keduniaan, harta dan sifat kebendaan lainnya.

Karena itu ada sosial dari ibadah qurban, yakni berbagi rezeki untuk membahagiakan orang lain.

Ketika kita mampu membahagiakan orang lain, maka kita  akan merasa bahagia dan pada akhirnya kebahagiaan bersama akan terwujud di tengah masyarakat. 

Orang yang ikhlas dan terbiasa menginfakkan harta miliknya untuk kemaslahatan umat, maka dirinya tidak terbebani oleh pengaruh sifat kebendaan tersebut, tidak terlalu dipusingkan untuk memikirkan hartanya, bisnisnya, dan pekerjaannya, sehingga melalaikan ibadah dan tugas sosial. 

Dalam beberapa kasus, banyak orang yang mengalami gangguan tidur (insomnia) karena selalu memikirkan hal tersebut.  Bahkan ada juga yang mengalami "ketergantungan terhadap harta benda." Seperti perilaku berulang-ulang setiap jam mengecek brankas, rekening, dan sebagainya yang malah menambah kecemasan dalam dirinya. Khawatir kalau hartanya mendadak hilang. 

 

Islam melatih manusia untuk menjadi zuhud (jauh dari budak dunia), salah satunya dengan berqurban, dan melepaskan sesuatu  yang dicintai, membiasakan diri kehilangan harta benda, demi meraih kemuliaan dari Allah Swt. Dirinya yakin, bahwa semua kebaikan atau amal shaleh itu akan mendapatkan balasan berlimpah dari Allah baik di dunia maupun  kenikmatan di akhirat kelak.

Ketika daging kurban telah  diberikan kepada orang lain, kita akan melihat kesenangan, senyuman, dan kebahagiaan dari si penerima.

Mereka merasa bahagia, merasa dipedulikan, dan merasa diperhatikan. Hal ini akan berdampak pada kesehatan mental mereka.

Bahwa orang yang senang memberi, sering berbagi, hidupnya akan lebih bahagia.

Ada hal yang menarik dari syari’at kurban. Karena daging kurban tidak hanya dibagikan kepada golongan tertentu saja, tetapi seluruh masyarakat dapat merasakan daging kurban, tanpa melihat golongan dan latar belakangnya.

Syari’at qurban berdampak sosial dan psikis, ingin merekatkan toleransi dan kebersamaan (ukhuwah) dalam masyarakat, menjalin kembali jaringan (silaturahim) yang terputus, menumbuhkan rasa dipedulikan, memperbaiki hubungan sosial dan sebagainya.

Begitulah ajaran Islam yang sangat manusiawi dan memahami betul kebutuhan manusia.

Begitu agungnya makna dan tujuan dari ibadah kurban ini, demikian indahnya sikap berbagi dalam ibadah  Kurban.

Ibadah Qurban memang dilakukan setahun sekali, tapi pengaruhnya, yaitu nilai ketaqwaan dan keikhlasan serta semangat berkurban harus tetap menjadi nafas segala kegiatan, sepanjang waktu, selama hayat dikandung badan.

Dengan demikian, hakikat Qurban bukan hanya pada saat ‘Idul Ad-ha saja, tetapi juga diwaktu-waktu yang lain dengan ruang lingkup yang lebih luas.

Mulai dari menyantuni fakir miskin, mengelola TPQ, aktif dalam syiar (dakwah) Islam, mengeluarkan sebagian rejeki untuk perjuangan umat, dan lain sebagainya. Semuanya itu membutuhkan pengorbanan, baik harta benda, tenaga, dan pikiran.

Jika semua itu dilakukan semata-mata karena keikhlasan dan ketaqwaan serta hanya mengharap ridla Allah, yakinlah bahwa Allah akan menolong kita dan meneguhkan langkah kita untuk meraih kemuliaan dan kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat.

***

Demikian beberapa hal yang dapat kami sampaikan dalam kesempatan ini, semoga bermanfaat. Terima kasih atas perhatiannya. Jika terdapat banyak kesalahan, mohon dimaafkan. 

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْن

====

‎اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ  وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ

Jamaah Sholat Idul Adha Rahimakumullah

Mari kita tutup khutbah ini dengan berdoa,  semoga Allah menjauhkan kita dari segala penyakit dan bencana yang menghinakan.  Dan melimpahkan keselamatan, kekuatan dan kesehatan lahir  batin, hidup kita selalu barakah, bermanfaat bagi sesama dalam rangka meraih ridla Allah, kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat.

Semoga Allah menerima amal kebaikan dan ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dosa orangtua dan semua umat Muslim,  dan kelak apabila Allah menentukan kematian, kita menjadi hamba Allah yang Husnul Khatimah, kembali kepada Allah dengan Ridha dan diridai-Nya.

Aamiin, yaa Rabbal ‘aalamiin

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ مُحَمَّد 

اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

 اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

-----------

Suparto

10  Zuhijah 1446 H /

6 Juni 2025


Comments

Popular posts from this blog

No Comment

Sebuah mobil lawas, jenis  Colt Station berwarna putih itu sudah semingguan terparkir di pinggir jalan di sebelah barat kampung saya.  Kendaraan itu menarik perhatian setiap orang yang melihatnya lantaran di body -nya ada tulisan “No Comment” cukup besar berwarna merah. Saya tidak tahu siapa pemilik mobil itu. Saya mau nanya tetangga, sepertinya terpengaruh tulisan di body mobil "No Comment" yang artinya, "tidak ada komentar" atau "malas komen"   atau "ngga mau komentar"   atau sejenisnya. "Kalau saya nanya, jangan-jangan nanti dijawab No Comment," pikir saya ragu. Sebenarnya saya pengin tahu maksud atau alasan pemiliknya memberi lebel mobilnya dengan kalimat aneh itu. *** Saya jadi ingat zaman Orde Baru dulu, kalimat itu sangat populer di kalangan pejabat pemerintahan atau militer ketika berhadapan dengan wartawan.    Waktu itu tidak sembarangan pejabat boleh memberikan keterangan kepada wartawan at...

Pesan Asmara Seorang Pengamen

Wulan Action  Wulan, wanita berusia 54 tahun itu terus menyusuri jalanan kampung. Ia tak menghiraukan terik mentari yang membakar tubuh mungilnya. Peluh keringat berleleran menghapus bedak dan gincu di wajahnya. Dengan senyum yang selalu tersungging dibibirnya, ia berhenti di depan setiap rumah yang dilaluinya.   Dengan memainkan alat musik “Bas Betot” sederhana, berupa kotak papan kayu dilengkapi karet ban dalam  sepeda yang berfungsi sebagai dawai pada gitar, ia dendangkan lagu-lagu Jawa Campursari.  Suara emas Wulan yang berpadu dengan “bas betot” dan ketipak-ketipuk dari kotak yang dipukulnya, melahirkan musik yang indah. Uang receh senilai seratus duaratus rupiah pun diterima dari setiap penghuni rumah. Itulah Wulan, pengamen tradisional kelas kampung yang kini masih bertahan. Wulan adalah pengamen jalanan yang tetap bertahan ditengah kerasnya perjuangan hidup. Profesi ini dijalaninya demi mempertahankan biduk rumah tangga dengan kondisi yang me...

ATUR PASRAH BOYONG TEMANTEN KEKALIH

Salah satu rangkaian adat Jawa setelah melangsungkan resepsi pernikahan adalah, keluarga temanten perempuan memboyong kedua mempelai kepada keluarga orangtua mempelai laki-laki (besan).  Sebelum masuk rumah keluarga besan, diadakan acara “Atur Pasrah” dari keluarga mempelai perempuan, dan “Atur Panampi” dari keluarga besan. Berikut adalah tuladha (contoh) sederhana “Atur Pasrah” yang saya susun dan laksanakan. *** Assalamu ‘alaikum Wr.Wb. Bismillahirrahmanirrahim. Al-hamdu lillahi rabbil ‘alamin. * Para sesepuh pinisepuh ingkang dahat kinabekten ** Panjenenganipun Bp.Waluyo dalasan Ibu Sumarni ingkang kinurmatan *** P ara rawuh kakung putri ingkang bagya mulya . Kanti  ngunjukaken raos syukur dumateng Allah SWT, Gusti Ingkang Moho Agung. Sowan kula mriki dipun saroyo dening panjenenganipun Bapa Haji Supriyadi, S.Pd dalasan Ibu Hajah Lasmi ingkang pidalem wonten Plumbungan Indah RT.27/RW.08 Kelurahan Plumbungan, Kecamatan Karangmalang, Sragen, kepar...

ATUR PANAMPI PASRAH TEMANTEN KAKUNG

Assalamu 'alaikum wr.wb. - Para Sesepuh-Pinisepuh ingkang dahat kinabekten. -Para Rawuh kakung sumawana putri ingkang kinurmatan. -Panjenenganipun  Bapa ………………..        minangka sulih sarira  saking  Bapa BUDI PRANOTO, S.Pd sekalian Ibu KUN MARYATI, S.Pd. ingkang tuhu kula kurmati. Kanthi ngonjukaken raos syukur dhumateng ALLAH SWT., Gusti Ingkang Maha Kawasa, kula minangka sulih salira saking panjenenganipun Bp. Haji SUDARNO, S.Sos  sekalian Ibu Hajah CIPTANTI DWI PRIYANTINI, S.Pd keparenga tumanggap atur menggah paring pangandikan pasrah temanten kakung. Ingkang sepisan , kula minangka sulih sarira Bapa Haji SUDARNO,S.Sos sekalian,dalasan sedaya kulawarga ngaturaken pambagya sugeng sarawuh panjenengan minangka Dhuta Saraya Pasrah saking Bapa BUDI PRANOTO,S.Pd sekalian dalasan sedaya panderek. Kaping kalih , menggah salam taklim Bp-Ibu BUDI  lumantar panjenengan, sampun katampi, dhawah sami-2, kanthi-atur wa'ala...

TANGGAP WACANA ATUR PAMBAGYA HARJA

Pada rangkaian acara resepsi pernikahan, keluarga yang mempunyai hajat (punya kerja), berkewajiban menyampaikan sambutan (tanggap wacana) selamat datang kepada seluruh hadirin. Dalam tatacara resepsi adat Jawa disebut Atur Pambagya Harja, atau atur pambagya wilujeng. Dalam sambutan ini, orang yang punya kerja akan mewakilkan kepada orang tertentu yang ditunjuk, biasanya ketua RT/RW, atau orang yang dituakan di lingkungannya. Nah, ketika menjadi ketua RT, saya pernah mendapat tugas untuk menyampaikan pidato (tanggap wacana) tersebut. ****** Berikut contoh / tuladha atur pambagya harja yang pernah saya sampaikan…. Assalamu ‘alaikum Wr. Wb. -        Para Sesepuh Pinisepuh, ingkang satuhu kula bekteni -        Para Rawuh Kakung sumawana putri ingkang kinurmatan Sakderengipun kula matur menggah wigatosing sedya wonten kelenggahan punika, sumangga panjenengan sedaya kula derek-aken ngunjuk-aken ra...

Meluruskan Peran Siti Rahmani “Ini Budi”

Siti Rahmani Rauf. (Sumber foto: Google Image) Informasi atas meninggalnya Siti Rahmani Rauf yang diberitakan sebagai penyusun buku “Ini Budi” pertama kali saya peroleh dari seorang teman melalui WhatsApp (WA) Group flpsoloraya.com, Rabu (11/5/2016) sekitar pukul 14.30. Info itu berbunyi : Inna lillahi wa inna ilaihi rooji'uun. Telah wafat tadi malam Selasa10 Mei 2016 pkl. 21.20 WIB Ibu Siti Rahmani Rauf di usia 96 thn. Almarhumah adalah penyusun buku belajar membaca *_"Ini Budi"..._* Beliau adalah pahlawan kita utk bisa membaca dan menulis WA / SMS hari ini. Semoga almarhumah husnul khotimah. Di bawah tulisan tersebut disertakan sebuah foto Siti Rahmani Rauf dengan latarbelakang salah satu karyanya. Tanpa berpikir panjang informasi itu langsung saya sebar melalui WA Group One Day One Post (ODOP)-2. Informasi itu mendapat respon luar biasa dari teman-teman anggota ODOP. Bahkan anggota ODOP asal Bandung, Nychken Gilang Bedy Setiawan, langsung meny...

ATUR PASRAH CALON TEMANTEN KAKUNG BADE IJAB ( Kanthi Prasaja ) )

Setelah dua kali mendapat mandat menjadi ‘talanging basa’ atau juru bicara untuk menyampaikan dan menerima ‘lamaran’ atau pinangan, dikesempatan lain ternyata saya ‘dipaksa’ lagi menjalani tugas untuk urusan adat Jawa. Kali ini, saya diminta salah satu keluarga untuk menjadi juru bicara ‘atur pasrah calon temanten kakung’ - pasrah calon mempelai pria, kepada calon besan menjelang acara ijab qabul. Permintaan tersebut saya jalani, meski, sekali lagi, dengan cara yang amat sederhana dan apa adanya. Pengetahuan dan pengalaman yang sangat minim tidak menghalangi saya untuk melaksanakan tugas tersebut sebagai bagian dari pengabdian di tengah masyarakat. ****** Berikut contoh atau tuladha apa yang saya sampaikan tersebut. Assalamu 'alaikum wr.wb. ·           *** Para Sesepuh-Pinisepuh ingkang dahat kinabekten.      *** Para Rawuh kakung sumawana putri ingkang kinurmatan. ·          *** Pan...

Bukan Halusinasi ( Bag. 10 )

sumber foto : google image Hari ini, pergulatan batin dan emosi ratusan manusia yang diguncang oleh sebuah misteri memasuki titik klimaks. Pukul tujuh pagi orang-orang yang sudah kehilangan akal sehat itu terlihat lalu-lalang dan berdesakan memadati setiap sudut pekarangan rumah Suto. Mereka ingin menyaksikan anggota Tim SAR yang turun ke dasar sumur, dan menanti apa yang akan terjadi dengan aksi itu. Puluhan personil kepolisian terpaksa membuat pagar betis untuk mencegah warga merangsek ke dekat bibir sumur. Sementara Suto sendiri hanya mematung dan termangu di teras rumah. Raut wajah Suto tampak tegang. Pandangan matanya menatap tajam ke arah kerumunan orang. “Pak, masuk. Nggak enak dilihat orang,” istrinya merayu. Suto diam membisu seakan tak mendengar apa pun, termasuk suara gaduh dan bising di sekitarnya. Istri yang sering   bingung dengan sikap suaminya itu, kembali masuk rumah untuk menemani mertua dan anak gadisnya. Dua orang anggota Tim SAR berpakai...

CONTOH ATUR PANAMPI PASRAH TEMANTEN SARIMBIT ACARA NGUNDUH MANTU

Bp-Ibu Bambang Sutopo  Assalamu'alaikum wrwb. 1.      Para Sesepuh-Pinisepuh ingkang dahat kinabekten.. 2.      Panjenenganipun Bapa Suwardi minangka sulih sarira saking Bapa Gito Suwarno-Ibu Tuginem, ingkang tuhu kinurmatan. 3.      Para Rawuh kakung sumawana putri ingkang bagya mulya. Kanthi ngonjukaken raos syukur dhumateng Allah SWT - Gusti Ingkang Maha Agung, kula minangka talanging basa saking panjenenganipun Bp. Bambang Sutopo, S.Pd,  sekalian Ibu Jari, keparenga tumanggap atur menggah paring pangandikan pasrah saking kulawarga Bapa Gito Suwarno sekalian Ibu Tuginem. Ingkang sepisan , kula minangkani punapa ingkang dados kersanipun Bapa Bambang Sutopo sekalian dalasan sedaya kulawarga, ngaturaken pambagya sugeng ing sarawuh panjenengan minangka Dhuta Saraya Pasrah saking Bp Gito Suwarno sekalian Ibu Tuginem-sapendherek,  ingkang pidalem w onten ing   Dukuh Jenggrik,...

Bukan Halusinasi ( Bag. 1 )

Tengah malam yang dingin itu telah menyirep seluruh penghuni kampung Randu. Mereka lelap dalam tidur berselimut sepi, menikmati mimpinya masing-masing. Namun   tidak bagi Suto.   Lelaki paroh baya yang sehari-hari bekerja sebagai petani kecil ini mendadak terbangun oleh suara ketukan pintu belakang di ruang dapurnya. Sebenarnya lelaki kurus ini enggan beranjak bangun dari tempat tidurnya. Badan Suto kurang sehat lantaran kemarin kehujanan saat berada di sawah. Tetapi karena pintu itu seperti didorong-dorong oleh seseorang, ia akhirnya bangun juga. Ia tak langsung berdiri. Sembari mengusap-usap kedua matanya, diambilnya  lampu senter yang selalu ditaruh di bawah bantal. Dengan langkah gontai ia berjalan menuju pintu belakang. Tanpa pikir panjang, dibukanya pintu. Sementara isterinya, Poni, dan seorang anak perempuannya, Yani  yang berumur lima belas tahun, tetap tidur nyenyak. Setelah pintu terbuka, ia keluar rumah. Dengan hati-hati ia melihat ke kanan...