Skip to main content

Berbisik dalam Khataman al-Quran


Oleh: Dr. H. Mardjoko Idris, MA. 

Untuk menunjuk pada makna “membaca” al-Quran menggunakan dua kosa kata, yaitu qa-ra-a dan ta-lâ. 

Para linguist membedakan kedua makna tersebut pada objek materi yang dibaca, qa-ra-a digunakan untuk membaca apa saja yang ada dalam fenomena kehidupan ini, sedangkan kata ta-lâ hanya digunakan untuk membaca kitab suci, termasuk al-Quran. 

Itulah di Indonesia ini untuk menyebut lomba membaca kitab kuning dinamakan musâbaqatu Qiâratil-kutub, dan untuk lomba membaca alQuran dengan Musâbaqatu tilâwail-qurân.

Dalam suatu riwayat disebutkan, Rasul Saw memerintahkan para sahabat untuk membaca al-Quran seperti Ibn Mas’ud (sahabat kecil) membaca al-Quran. 

Para sahabat besar bertanya; “Mengapa ya Rasul, bukankah kami yang lebih pantas ditiru, kami lebih tua dibanding Ibnu Mas’ud”, rasul menjawab; “Bacaan Ibnu Mas’ud itu seperti bacaannya Malaikat Jibril ketika mewahyukan kepada saya”. 

Sayang kita hidup pada zaman sekarang sehingga tidak (?) bisa mendengarkan secara langsung suaranya Ibnu Mas’ud. 

Jangan pesimis sedulur, sewaktu penulis diajar pak Abdullah Ghazali di al-Islam Honggowongso  dulu, beliau pernah berkata di depan kelas, bahwa besuk pada saat teknologi mencapai kemajuan ada tiga yang akan terjadi; 

pertama, ada bayi tabung; kedua, manusia bisa menginjakkan kaki di rembulan; dan ketiga, kita bisa medengar suara orang yang telah meninggal. 

Nomor satu dan dua sudah terbukti, tinggal yang ketiga, pada saatnya nanti kita akan mendengarkan suara orang-orang yang telah meninggal, temasuk suaranya Ibnu Mas’ud ketika membaca al-Quran,  karena pada hakekatnya suara itu tidak hilang, namun berpindah tempat dari satu lokasi kelokasi yang lain.

Membaca al-Quran itu bagi orang seusia kitasebenarnya sulit(?), karena budaya kita kecil bukan membaca al-Quran, melainkan nonton wayang kulit, ketoprak di Sriwedari atau melihat cembrengan di Pabrik Gula Colomadu atau lihat sekaten, tidak ada te-pe-a al-Quran apalagi tahfidz al-Quran.

Bersyukurlah kita yang selain nonton wayang juga bisa membaca al-Quran, berterima kasihlah kepada guru-guru kita yang mengenal-kan huruf hijaiyah, memahamkan kita tentang ayat-ayat al-Quran, sebut pak Makmuri, pak Dusomat, pak kyai Musthofa, pak Rasyid, pak Ya’qub, pak Umar Irsyadi dan ibu Marfu’ah, dan yang lainnya. 

Alhamdulillah, dengan kedisiplinan yang kuat serta didukung  oleh kesabaran mas Munawar dalam menata jadwal, hari ini kita khataman al-Quran entah yang keberapa kalinya, yang jelas biasanya khatam, kali ini khataman. 

Apa yang kita lakukan pada saat khataman alQuran? minta kepada Allah Swt apa yang kita suka, Allah akan mengabulkan permohonan kita, karena barakahnya membaca al-Quran. 

Minta  itu gampang, tapi memilih apa yang diminta itu sesuatu yang sulit. 

Pernah ada sahabat bertanya kepada Rasul; “Ya Rasul, saya mau memohon kepada Allah, apa yang sebaiknya saya minta dalam doa saya?”, Rasul menjawab; “Mintalah Sehat”, sahabat itu mengulang lagi;

“Apa yang sebaiknya saya minta ya Rasul dalam doa saya”,

Rasul menjawab; “Mintalah Sehat”. 

Masih ingatkah sedulur al-Islam cerita wayang ketika sang Harjuna bertapa dengan gelas Begawan Kaliking (?), datang sang dewa Narada dari Kahyangan, dan mengatakan; “Harjuna bertapamu sudah cukup dan apa yang anda minta, Dewa akan ngijabahi semuanya”. 

Para punokawan- Semar, Gareng, Petruk dan Bagong- mengingtakan kepada sang Harjuna hati –hati memilih apa yang diminta, ini hanya sekali, setelah itu pintu ijabah akan ditutup kembali. 

Apa yang diminta oleh Harjuna? Harjuna meminta agar besuk di hari Baratayuda Jayabinangun; 

pertama, Pandowo sebagai pemenangnya; dan kedua, pendowo 5 (lima) tetap utuh, tidak ada yang gugur di medan perlawanan. Setelah itu, pintu ijabah ditutup.  

Para punokawan menangis tersedu-sedu, dan menyesal mengapa raden Harjuna tidak mendoakan putra-putranya yang juga ikut berperang di medan laga? 

Nasi telah menjadi bubur, fakta dalam dunia wayang,  putraputra pendowo semuanya gugur di medan laga, sebagai syahid, karena kelalaian sang Harjuna dalam berdoa. 

Semoga di dalam khataman ini, kita tidak salah pilih, apa yang semestinya kita minta kepada-Nya; yang mesti didahulukan adalah doa untuk para guru-guru kita yang telah menghadap Sang Pencipta, doa untuk teman-teman kita yang juga telah mendahului kita, semoga mereka mendapat predikat Husnul-Khatimah, serta memperoleh

Ridho-Nya. Amîn. 

Wassalâm

.....

Disampaikan dalam rangka menyongsong khataman al-Quran Sedulur Alumni Al-Islam -76 Surakarta (AAI-76), 20 Juni 2021 di Yogya, oleh Mardjoko murid al-Islam; tahun pertama di Jln. Honggowongso (masuk siang), tahun ke dua di Grobogan Surakarta (masuk pagi). 

...

Sebagai rasa syukur, penulis akan memberi hadiah bagi sedulur yang datang pada acara khataman 3 (buku); 

Balâghatul-Qurân (Kajian Ilmu Ma’âni); Ilmu Bayân (Kajian Retorika Berbahasa Arab), dan; Ilmu Badî (Kajian Keindahan Berbahasa Arab), jika stok masih ada  

Salam Sehat  

...

Maaf, ini file Tercecer dari teman Alumni Al-Islam Surakarta, Dr. H. Mardjoko Idris, MA.  Materi tahun 2021, tapi baru saya posting tahun 2024. Biar tidak hilang...

Suparto 

Comments

Popular posts from this blog

ATUR PANAMPI PASRAH TEMANTEN KAKUNG

Assalamu 'alaikum wr.wb. - Para Sesepuh-Pinisepuh ingkang dahat kinabekten. -Para Rawuh kakung sumawana putri ingkang kinurmatan. -Panjenenganipun  Bapa ………………..        minangka sulih sarira  saking  Bapa BUDI PRANOTO, S.Pd sekalian Ibu KUN MARYATI, S.Pd. ingkang tuhu kula kurmati. Kanthi ngonjukaken raos syukur dhumateng ALLAH SWT., Gusti Ingkang Maha Kawasa, kula minangka sulih salira saking panjenenganipun Bp. Haji SUDARNO, S.Sos  sekalian Ibu Hajah CIPTANTI DWI PRIYANTINI, S.Pd keparenga tumanggap atur menggah paring pangandikan pasrah temanten kakung. Ingkang sepisan , kula minangka sulih sarira Bapa Haji SUDARNO,S.Sos sekalian,dalasan sedaya kulawarga ngaturaken pambagya sugeng sarawuh panjenengan minangka Dhuta Saraya Pasrah saking Bapa BUDI PRANOTO,S.Pd sekalian dalasan sedaya panderek. Kaping kalih , menggah salam taklim Bp-Ibu BUDI  lumantar panjenengan, sampun katampi, dhawah sami-2, kanthi-atur wa'ala...

ATUR PASRAH BOYONG TEMANTEN KEKALIH

Salah satu rangkaian adat Jawa setelah melangsungkan resepsi pernikahan adalah, keluarga temanten perempuan memboyong kedua mempelai kepada keluarga orangtua mempelai laki-laki (besan).  Sebelum masuk rumah keluarga besan, diadakan acara “Atur Pasrah” dari keluarga mempelai perempuan, dan “Atur Panampi” dari keluarga besan. Berikut adalah tuladha (contoh) sederhana “Atur Pasrah” yang saya susun dan laksanakan. *** Assalamu ‘alaikum Wr.Wb. Bismillahirrahmanirrahim. Al-hamdu lillahi rabbil ‘alamin. * Para sesepuh pinisepuh ingkang dahat kinabekten ** Panjenenganipun Bp.Waluyo dalasan Ibu Sumarni ingkang kinurmatan *** P ara rawuh kakung putri ingkang bagya mulya . Kanti  ngunjukaken raos syukur dumateng Allah SWT, Gusti Ingkang Moho Agung. Sowan kula mriki dipun saroyo dening panjenenganipun Bapa Haji Supriyadi, S.Pd dalasan Ibu Hajah Lasmi ingkang pidalem wonten Plumbungan Indah RT.27/RW.08 Kelurahan Plumbungan, Kecamatan Karangmalang, Sragen, kepar...

TANGGAP WACANA ATUR PAMBAGYA HARJA

Pada rangkaian acara resepsi pernikahan, keluarga yang mempunyai hajat (punya kerja), berkewajiban menyampaikan sambutan (tanggap wacana) selamat datang kepada seluruh hadirin. Dalam tatacara resepsi adat Jawa disebut Atur Pambagya Harja, atau atur pambagya wilujeng. Dalam sambutan ini, orang yang punya kerja akan mewakilkan kepada orang tertentu yang ditunjuk, biasanya ketua RT/RW, atau orang yang dituakan di lingkungannya. Nah, ketika menjadi ketua RT, saya pernah mendapat tugas untuk menyampaikan pidato (tanggap wacana) tersebut. ****** Berikut contoh / tuladha atur pambagya harja yang pernah saya sampaikan…. Assalamu ‘alaikum Wr. Wb. -        Para Sesepuh Pinisepuh, ingkang satuhu kula bekteni -        Para Rawuh Kakung sumawana putri ingkang kinurmatan Sakderengipun kula matur menggah wigatosing sedya wonten kelenggahan punika, sumangga panjenengan sedaya kula derek-aken ngunjuk-aken ra...

CONTOH ATUR PANAMPI PASRAH TEMANTEN SARIMBIT ACARA NGUNDUH MANTU

Bp-Ibu Bambang Sutopo  Assalamu'alaikum wrwb. 1.      Para Sesepuh-Pinisepuh ingkang dahat kinabekten.. 2.      Panjenenganipun Bapa Suwardi minangka sulih sarira saking Bapa Gito Suwarno-Ibu Tuginem, ingkang tuhu kinurmatan. 3.      Para Rawuh kakung sumawana putri ingkang bagya mulya. Kanthi ngonjukaken raos syukur dhumateng Allah SWT - Gusti Ingkang Maha Agung, kula minangka talanging basa saking panjenenganipun Bp. Bambang Sutopo, S.Pd,  sekalian Ibu Jari, keparenga tumanggap atur menggah paring pangandikan pasrah saking kulawarga Bapa Gito Suwarno sekalian Ibu Tuginem. Ingkang sepisan , kula minangkani punapa ingkang dados kersanipun Bapa Bambang Sutopo sekalian dalasan sedaya kulawarga, ngaturaken pambagya sugeng ing sarawuh panjenengan minangka Dhuta Saraya Pasrah saking Bp Gito Suwarno sekalian Ibu Tuginem-sapendherek,  ingkang pidalem w onten ing   Dukuh Jenggrik,...

Atur Pambagyaharja Sungkawa (Sripahan / LELAYU)

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.  Nuwun, kawula nuwun . Para pepunden sesepuh pinisepuh ingkang kula bekteni. Para asung pambela sungkawa, para rawuh kakung sunawana putri ingkang satuhu luhuring budi. Wonten madyaning panandang ing ari kalenggahan punika, kula minangka sulih sarira saking Ibu Sri Sumaringsih sakaluwarga kinen hangaturaken atur Pambagyaharja sakderengipun hangkating layon Almarhum Bapa Sukardono. Murwakani atur, sumangga panjenengan sedaya kula dherekaken manengku puja, raos syukur tansah konjuk wonten Ngarsa Dalem Allah Gusti Ingkang Maha Kawasa. Awit Panjenengan dalasan kula saget makempal wonten papan punika saperlu asung bela sungkawa menggah sedanipun Bapa Sukardono. Para asung pambela sungkawa ingkang pikantuk Rahmating Gusti. Ibu Sri Sumaringsih gotrah kulawangsa lumantar kula, ngaturaken Sugeng Rawuh, lan ngaturaken raos panuwun ingkang tanpa pepindan awit karawuhan panjenengan sedaya. Ugi ngaturaken agenging panuwun sedaya pambiyantu awujud p...

Bukan Halusinasi ( Bag. 1 )

Tengah malam yang dingin itu telah menyirep seluruh penghuni kampung Randu. Mereka lelap dalam tidur berselimut sepi, menikmati mimpinya masing-masing. Namun   tidak bagi Suto.   Lelaki paroh baya yang sehari-hari bekerja sebagai petani kecil ini mendadak terbangun oleh suara ketukan pintu belakang di ruang dapurnya. Sebenarnya lelaki kurus ini enggan beranjak bangun dari tempat tidurnya. Badan Suto kurang sehat lantaran kemarin kehujanan saat berada di sawah. Tetapi karena pintu itu seperti didorong-dorong oleh seseorang, ia akhirnya bangun juga. Ia tak langsung berdiri. Sembari mengusap-usap kedua matanya, diambilnya  lampu senter yang selalu ditaruh di bawah bantal. Dengan langkah gontai ia berjalan menuju pintu belakang. Tanpa pikir panjang, dibukanya pintu. Sementara isterinya, Poni, dan seorang anak perempuannya, Yani  yang berumur lima belas tahun, tetap tidur nyenyak. Setelah pintu terbuka, ia keluar rumah. Dengan hati-hati ia melihat ke kanan...

Bukan Halusinasi ( Bag. 7 )

Sesuai rencana, Guritno bersama perangkatnya mendatangi rumah Suto. Melihat kedatangan Guritno, puluhan warga yang berkerumun berebut menyalami Kepala Desa yang simpatik ini. Beberapa orang dari luar desa yang belum mengenalnya juga mendekat Guritno. “Selamat Siang, Pak Lurah..” beberapa orang menyapa. “Selamat Siang. Gimana kabarnya. Sehat semua kan?” Sapa Guritno. “ Nggih,  Pak Lurah…” Guritno langsung menuju lokasi sumur tua milik Suto . Ia segera me lo ngok ke dalam sumur seperti yang dilakukan warga. Ia berkali-kali melongok ke lubang sumur yang berkedalaman 15 meter. Sesaat kemudian, ia melihat ke sekeliling, mengamati puluhan rumpun pohon bambu yang tumbuh subur di pekarangan Suto . Beberapa orang yang menyaksikan gerak gerik Kepala Desa itu saling berpandangan dan berbisik satu sama lain. Mereka menerka apa yang akan dilakukan pemimpin desa itu. Diantara mereka ada yang memberanikan diri bertanya dan usul kepada Guritno. “Bagaimana, Pak. Apa b...

BERKEMBANG BERSAMA ODOP

Puluhan tahun dalam perjalanan hidup ini, saya isi dengan banyak membaca buku, baik di toko, di perpustakaan maupun milik sendiri. Disamping buku, bacaan berupa koran, majalah dan media online menjadi menu konsumsi hidup saya. Mungkin sudah ratusan judul buku saya baca hingga tuntas. Namun lebih banyak buku yang saya baca tidak pernah selesai. Dengan membaca aneka buku, saya menemukan banyak ilmu dan hikmah yang amat berguna dalam menjalani hidup ini. Seperti ungkapan Samuel Johnson, “Buku mengajarkan kepada kita, bagaimana menikmati hidup dan bagaimana memikul bebannya.” Setelah hidup ini saya jalani dengan aktivitas banyak membaca, saya kemudian punya keinginan untuk menjadi penulis. Pertimbangannya, jika hanya sekedar sebagai pembaca, manfaat yang saya peroleh lebih banyak untuk diri sendiri. Tapi   jika menjadi penulis, insya Allah manfaatnya bisa dinikmati untuk banyak orang. Sadar bahwa menjadi penulis itu tidak mudah, sayapun mulai berusaha keras untuk membe...

Buang Jauh Luka Emosional Anda

Orang bijaksana tidak pernah duduk   meratapi kegagalannya, tetapi dengan gembira hati dia mencari jalan bagaimana memulihkan kembali kerugian yang dideritanya.   - Shakespear -  Ada kejadian, seseorang mengalami kecelakaan yang tidak terlalu berat, mengakibatkan luka fisik pada bagian wajahnya. Akibat luka fisik tersebut membuat dirinya merasa malu, takut bercermin atau berinteraksi dengan orang lain. Dia bahkan menarik diri dari kehidupan masyarakat dan menutup diri.   P adahal, luka fisik itu sebenarnya bisa disembuhkan dan pulih kembali. Luka fisik itu lebih mudah disembuhkan! Bagaimana dengan luka emosional?  Luka  emosional lebih menyakitkan!   Anda tidak dapat melihatnya, tidak  dapat merabanya, tetapi ia dapat membuat perut keroncongan dan hati berdebar. Tidak ada bukti keberadaannya, tapi ia dapat menimbulkan rasa pusing, mual, insomnia, serangan jantung, gangguan pencernaan, bahkan stres dan depresi.  Ia lebih dalam dari luka-l...

Pidato Kocak Dai Gokil

Humor sebagai salah satu bumbu komunikasi dalam berpidato hingga kini masih diakui kehebatannya. Ketrampilan   menyelipkan humor-humor segar dalam berpidato atau ceramah,   menjadi daya pikat tersendiri bagi audien atau pendengarnya sehingga membuat mereka betah mengikuti acara sampai selesai. Buku saku berjudul “Pidato-pidato Kocak ala Pesantren” karya Ustad Nadzirin (Mbah Rien) ini mungkin bisa menjadi referensi bagi pembaca yang ingin menciptakan suasana segar dalam berpidato. Buku setebal   88 halaman yang diterbitkan oleh Mitra Gayatri Kediri (tanpa tahun) ini berisi contoh-contoh pidato penuh humor. Membaca buku yang menyajikan enam contoh pidato yang oleh penulisnya dimaksudkan untuk bekal dakwah   para dai gokil dan humoris ini saya ngakak abis .  Pengin tahu cuplikannya? Silahkan simak berikut ini. “Saudara dan saudari.  Baik eyang putra maupun eyang putri…Semua tanpa kecuali yang saya cintai… Meski kalian semua tidak merasa say...