Skip to main content

Orang Asing Yang Saya Kenal (Bag.6)


Pemuda Belgia Penyuka Musik Dangdut

Oleh : Suparto         
Joren De Neve Siaran 
       Suatu hari, studio tempat saya bekerja, Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Radio Buana Asri Sragen, kedatangan pemuda asal Belgia Eropa, namanya Joren De Neve.  Pria kelahiran kota Gent Belgie 9 Juli 1993 ini menjadi tamu special Buana Asri FM dalam bincang-bincang santai di program BUANA YES, you can request  Siaran Bahasa Inggris.
       Selama dua jam, Joren terlihat santai menjawab berbagai pertanyaan penyiar  Buana Asri, Indah Puspitasari.  Berondongan pertanyaan Indah Puspitasari dalam bahasa Inggris dijawab Joren dengan cerdas yang diselingi joke-joke segar.
     Ketika ditanya, “Apakah Anda punya keinginan untuk bisa menikah dengan gadis Indonesia?” Dengan gaya diplomatis, cowok yang menyukai masakan Padang ini menjawab, “mungkin saja.” Alasannya, karena perasaan cinta itu bisa muncul secara spontan.
        
        “Dengan siapa tidak tahu, karena perasaan cinta itu bisa muncul setiap waktu. Hahaha,” ungkap Joren sembari tertawa.

*****

       Joren De Neve berada di Indonesia selama tiga minggu untuk menikmati liburan.  Selama di Indonesia, ia tinggal di Kota Salatiga, Jawa Tengah bersama sahabatnya, Rian C. Wahyu Anggono, Mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) asal Sragen.



     Saat main ke rumah Rian di kampung Taman Asri Sragen, Joren bertemu Indah Puspitasari, gadis yang pernah dikenalnya tiga tahun lalu. Indah kemudian mengajaknya siaran di Buana Asri FM untuk mengisi acara bincang-bincang di program BUANA YES.
       Joren termasuk pemuda asing yang ingin banyak tahu tentang Indonesia dengan segala seluk beluknya. Diantaranya soal bahasa, budaya, masakan dan musik khas Indonesia. Meski baru tiga minggu, Joren sudah bisa berbahasa Indonesia, menyukai masakan Padang serta akrab dengan musik dangdut dan pop.
       Ayahnya,  Stefaan De Neve, adalah seorang dosen di Universiteit Gent Belgie. Sedangkan sang ibu, Leen Bourgouis, pengajar Matematika di sebuah SMA. Profesi sang ayah sebagai dosen inilah rupanya yang menjadi awal perkenalannya dengan orang Indonesia beserta kebudayaannya.
       Ceritanya, ketika seorang pria asal Sragen, Sukristyonubowo, mendapat tugas belajar dari almamaternya, UKSW, untuk mendalami ilmu pertanian di Universiteit Gent Belgie, salah satu dosennya adalah  Stefaan De Neve, ayah Joren.
       Kala itu, Sukristyonubowo memboyong keluarganya ke Belgia. Salah satu putranya, Rian C. Wahyu Anggono ikut ke Belgia dan melanjutkan di Sekolah Dasar di sana. Itulah yang menjadi awal perkenalan keluarga Sukristyonubowo yang bertugas di kota Bogor dan kerabat Stefaan De Neve.
       Bagaimana kesan Joren tentang Indonesia, khususnya Sragen? Pemuda yang memiliki tinggi badan 185 centimeter dan aktif di lembaga pekerja sosial ini mengaku sangat terkesan. “Orang Indonesia ramah, sopan santun, murah senyum. Terlebih orang Jawa,” katanya. Untuk Sragen, suasananya tenang, karena tidak terlalu ramai. “Tidak stress full seperti di Jakarta,” kesan Joren.

*****

       Usai mengisi siaran di Radio Buana Asri, Joren mengajak ke warung Bakso Bakar. Ia ingin merasakan masakan jawa yang “aneh” ini. Bersama Indah dan Rian, kami meluncur ke warung itu. Di perjalanan, lagu-lagu dangdut yang diputar Rian didalam mobilnya, benar-benar dinikmati Joren.
“Musik dangdut itu enak didengar, karena lahir dari selera rakyat kecil,” alasan Joren.
       Di warung Bakso, Joren bercerita banyak tentang negerinya, Belgia, yang sebagian besar rakyatnya masih menggunakan bahasa Belanda dan Prancis untuk berkomunikasi sehari-hari.
Joren sebenarnya sangat betah tinggal di Sragen.  Namun karena waktunya terbatas, ia harus segera kembali ke kota Salatiga, untuk selanjutnya pulang ke Eropa.
       Meski hanya beberapa hari di Sragen, ia mengaku kenangan indah tentang kabupaten yang dijuluki sebagai daerah Sukowati ini tak akan dilupakan.

-       bersambung –

#OneDayOnePost

Comments

  1. wihh pak parto keren temen orang asingnya banyak and always number one setor nih

    ReplyDelete
  2. Bapakku ini bikin aku ngiri bener deh

    ReplyDelete
  3. Ternyata mereka (bule-bule) unik unik ya, Pak.

    ReplyDelete
  4. Ternyata mereka (bule-bule) unik unik ya, Pak.

    ReplyDelete
  5. Luar biasa P Parto, semangat nulisnya segigih pemuda itu. Joren

    ReplyDelete
    Replies
    1. itulah mas Heru, sebagian pelajaran yg dapat kita ambil.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

No Comment

Sebuah mobil lawas, jenis  Colt Station berwarna putih itu sudah semingguan terparkir di pinggir jalan di sebelah barat kampung saya.  Kendaraan itu menarik perhatian setiap orang yang melihatnya lantaran di body -nya ada tulisan “No Comment” cukup besar berwarna merah. Saya tidak tahu siapa pemilik mobil itu. Saya mau nanya tetangga, sepertinya terpengaruh tulisan di body mobil "No Comment" yang artinya, "tidak ada komentar" atau "malas komen"   atau "ngga mau komentar"   atau sejenisnya. "Kalau saya nanya, jangan-jangan nanti dijawab No Comment," pikir saya ragu. Sebenarnya saya pengin tahu maksud atau alasan pemiliknya memberi lebel mobilnya dengan kalimat aneh itu. *** Saya jadi ingat zaman Orde Baru dulu, kalimat itu sangat populer di kalangan pejabat pemerintahan atau militer ketika berhadapan dengan wartawan.    Waktu itu tidak sembarangan pejabat boleh memberikan keterangan kepada wartawan at...

Pesan Asmara Seorang Pengamen

Wulan Action  Wulan, wanita berusia 54 tahun itu terus menyusuri jalanan kampung. Ia tak menghiraukan terik mentari yang membakar tubuh mungilnya. Peluh keringat berleleran menghapus bedak dan gincu di wajahnya. Dengan senyum yang selalu tersungging dibibirnya, ia berhenti di depan setiap rumah yang dilaluinya.   Dengan memainkan alat musik “Bas Betot” sederhana, berupa kotak papan kayu dilengkapi karet ban dalam  sepeda yang berfungsi sebagai dawai pada gitar, ia dendangkan lagu-lagu Jawa Campursari.  Suara emas Wulan yang berpadu dengan “bas betot” dan ketipak-ketipuk dari kotak yang dipukulnya, melahirkan musik yang indah. Uang receh senilai seratus duaratus rupiah pun diterima dari setiap penghuni rumah. Itulah Wulan, pengamen tradisional kelas kampung yang kini masih bertahan. Wulan adalah pengamen jalanan yang tetap bertahan ditengah kerasnya perjuangan hidup. Profesi ini dijalaninya demi mempertahankan biduk rumah tangga dengan kondisi yang me...

ATUR PASRAH BOYONG TEMANTEN KEKALIH

Salah satu rangkaian adat Jawa setelah melangsungkan resepsi pernikahan adalah, keluarga temanten perempuan memboyong kedua mempelai kepada keluarga orangtua mempelai laki-laki (besan).  Sebelum masuk rumah keluarga besan, diadakan acara “Atur Pasrah” dari keluarga mempelai perempuan, dan “Atur Panampi” dari keluarga besan. Berikut adalah tuladha (contoh) sederhana “Atur Pasrah” yang saya susun dan laksanakan. *** Assalamu ‘alaikum Wr.Wb. Bismillahirrahmanirrahim. Al-hamdu lillahi rabbil ‘alamin. * Para sesepuh pinisepuh ingkang dahat kinabekten ** Panjenenganipun Bp.Waluyo dalasan Ibu Sumarni ingkang kinurmatan *** P ara rawuh kakung putri ingkang bagya mulya . Kanti  ngunjukaken raos syukur dumateng Allah SWT, Gusti Ingkang Moho Agung. Sowan kula mriki dipun saroyo dening panjenenganipun Bapa Haji Supriyadi, S.Pd dalasan Ibu Hajah Lasmi ingkang pidalem wonten Plumbungan Indah RT.27/RW.08 Kelurahan Plumbungan, Kecamatan Karangmalang, Sragen, kepar...

ATUR PANAMPI PASRAH TEMANTEN KAKUNG

Assalamu 'alaikum wr.wb. - Para Sesepuh-Pinisepuh ingkang dahat kinabekten. -Para Rawuh kakung sumawana putri ingkang kinurmatan. -Panjenenganipun  Bapa ………………..        minangka sulih sarira  saking  Bapa BUDI PRANOTO, S.Pd sekalian Ibu KUN MARYATI, S.Pd. ingkang tuhu kula kurmati. Kanthi ngonjukaken raos syukur dhumateng ALLAH SWT., Gusti Ingkang Maha Kawasa, kula minangka sulih salira saking panjenenganipun Bp. Haji SUDARNO, S.Sos  sekalian Ibu Hajah CIPTANTI DWI PRIYANTINI, S.Pd keparenga tumanggap atur menggah paring pangandikan pasrah temanten kakung. Ingkang sepisan , kula minangka sulih sarira Bapa Haji SUDARNO,S.Sos sekalian,dalasan sedaya kulawarga ngaturaken pambagya sugeng sarawuh panjenengan minangka Dhuta Saraya Pasrah saking Bapa BUDI PRANOTO,S.Pd sekalian dalasan sedaya panderek. Kaping kalih , menggah salam taklim Bp-Ibu BUDI  lumantar panjenengan, sampun katampi, dhawah sami-2, kanthi-atur wa'ala...

TANGGAP WACANA ATUR PAMBAGYA HARJA

Pada rangkaian acara resepsi pernikahan, keluarga yang mempunyai hajat (punya kerja), berkewajiban menyampaikan sambutan (tanggap wacana) selamat datang kepada seluruh hadirin. Dalam tatacara resepsi adat Jawa disebut Atur Pambagya Harja, atau atur pambagya wilujeng. Dalam sambutan ini, orang yang punya kerja akan mewakilkan kepada orang tertentu yang ditunjuk, biasanya ketua RT/RW, atau orang yang dituakan di lingkungannya. Nah, ketika menjadi ketua RT, saya pernah mendapat tugas untuk menyampaikan pidato (tanggap wacana) tersebut. ****** Berikut contoh / tuladha atur pambagya harja yang pernah saya sampaikan…. Assalamu ‘alaikum Wr. Wb. -        Para Sesepuh Pinisepuh, ingkang satuhu kula bekteni -        Para Rawuh Kakung sumawana putri ingkang kinurmatan Sakderengipun kula matur menggah wigatosing sedya wonten kelenggahan punika, sumangga panjenengan sedaya kula derek-aken ngunjuk-aken ra...

Meluruskan Peran Siti Rahmani “Ini Budi”

Siti Rahmani Rauf. (Sumber foto: Google Image) Informasi atas meninggalnya Siti Rahmani Rauf yang diberitakan sebagai penyusun buku “Ini Budi” pertama kali saya peroleh dari seorang teman melalui WhatsApp (WA) Group flpsoloraya.com, Rabu (11/5/2016) sekitar pukul 14.30. Info itu berbunyi : Inna lillahi wa inna ilaihi rooji'uun. Telah wafat tadi malam Selasa10 Mei 2016 pkl. 21.20 WIB Ibu Siti Rahmani Rauf di usia 96 thn. Almarhumah adalah penyusun buku belajar membaca *_"Ini Budi"..._* Beliau adalah pahlawan kita utk bisa membaca dan menulis WA / SMS hari ini. Semoga almarhumah husnul khotimah. Di bawah tulisan tersebut disertakan sebuah foto Siti Rahmani Rauf dengan latarbelakang salah satu karyanya. Tanpa berpikir panjang informasi itu langsung saya sebar melalui WA Group One Day One Post (ODOP)-2. Informasi itu mendapat respon luar biasa dari teman-teman anggota ODOP. Bahkan anggota ODOP asal Bandung, Nychken Gilang Bedy Setiawan, langsung meny...

ATUR PASRAH CALON TEMANTEN KAKUNG BADE IJAB ( Kanthi Prasaja ) )

Setelah dua kali mendapat mandat menjadi ‘talanging basa’ atau juru bicara untuk menyampaikan dan menerima ‘lamaran’ atau pinangan, dikesempatan lain ternyata saya ‘dipaksa’ lagi menjalani tugas untuk urusan adat Jawa. Kali ini, saya diminta salah satu keluarga untuk menjadi juru bicara ‘atur pasrah calon temanten kakung’ - pasrah calon mempelai pria, kepada calon besan menjelang acara ijab qabul. Permintaan tersebut saya jalani, meski, sekali lagi, dengan cara yang amat sederhana dan apa adanya. Pengetahuan dan pengalaman yang sangat minim tidak menghalangi saya untuk melaksanakan tugas tersebut sebagai bagian dari pengabdian di tengah masyarakat. ****** Berikut contoh atau tuladha apa yang saya sampaikan tersebut. Assalamu 'alaikum wr.wb. ·           *** Para Sesepuh-Pinisepuh ingkang dahat kinabekten.      *** Para Rawuh kakung sumawana putri ingkang kinurmatan. ·          *** Pan...

Bukan Halusinasi ( Bag. 10 )

sumber foto : google image Hari ini, pergulatan batin dan emosi ratusan manusia yang diguncang oleh sebuah misteri memasuki titik klimaks. Pukul tujuh pagi orang-orang yang sudah kehilangan akal sehat itu terlihat lalu-lalang dan berdesakan memadati setiap sudut pekarangan rumah Suto. Mereka ingin menyaksikan anggota Tim SAR yang turun ke dasar sumur, dan menanti apa yang akan terjadi dengan aksi itu. Puluhan personil kepolisian terpaksa membuat pagar betis untuk mencegah warga merangsek ke dekat bibir sumur. Sementara Suto sendiri hanya mematung dan termangu di teras rumah. Raut wajah Suto tampak tegang. Pandangan matanya menatap tajam ke arah kerumunan orang. “Pak, masuk. Nggak enak dilihat orang,” istrinya merayu. Suto diam membisu seakan tak mendengar apa pun, termasuk suara gaduh dan bising di sekitarnya. Istri yang sering   bingung dengan sikap suaminya itu, kembali masuk rumah untuk menemani mertua dan anak gadisnya. Dua orang anggota Tim SAR berpakai...

CONTOH ATUR PANAMPI PASRAH TEMANTEN SARIMBIT ACARA NGUNDUH MANTU

Bp-Ibu Bambang Sutopo  Assalamu'alaikum wrwb. 1.      Para Sesepuh-Pinisepuh ingkang dahat kinabekten.. 2.      Panjenenganipun Bapa Suwardi minangka sulih sarira saking Bapa Gito Suwarno-Ibu Tuginem, ingkang tuhu kinurmatan. 3.      Para Rawuh kakung sumawana putri ingkang bagya mulya. Kanthi ngonjukaken raos syukur dhumateng Allah SWT - Gusti Ingkang Maha Agung, kula minangka talanging basa saking panjenenganipun Bp. Bambang Sutopo, S.Pd,  sekalian Ibu Jari, keparenga tumanggap atur menggah paring pangandikan pasrah saking kulawarga Bapa Gito Suwarno sekalian Ibu Tuginem. Ingkang sepisan , kula minangkani punapa ingkang dados kersanipun Bapa Bambang Sutopo sekalian dalasan sedaya kulawarga, ngaturaken pambagya sugeng ing sarawuh panjenengan minangka Dhuta Saraya Pasrah saking Bp Gito Suwarno sekalian Ibu Tuginem-sapendherek,  ingkang pidalem w onten ing   Dukuh Jenggrik,...

Bukan Halusinasi ( Bag. 1 )

Tengah malam yang dingin itu telah menyirep seluruh penghuni kampung Randu. Mereka lelap dalam tidur berselimut sepi, menikmati mimpinya masing-masing. Namun   tidak bagi Suto.   Lelaki paroh baya yang sehari-hari bekerja sebagai petani kecil ini mendadak terbangun oleh suara ketukan pintu belakang di ruang dapurnya. Sebenarnya lelaki kurus ini enggan beranjak bangun dari tempat tidurnya. Badan Suto kurang sehat lantaran kemarin kehujanan saat berada di sawah. Tetapi karena pintu itu seperti didorong-dorong oleh seseorang, ia akhirnya bangun juga. Ia tak langsung berdiri. Sembari mengusap-usap kedua matanya, diambilnya  lampu senter yang selalu ditaruh di bawah bantal. Dengan langkah gontai ia berjalan menuju pintu belakang. Tanpa pikir panjang, dibukanya pintu. Sementara isterinya, Poni, dan seorang anak perempuannya, Yani  yang berumur lima belas tahun, tetap tidur nyenyak. Setelah pintu terbuka, ia keluar rumah. Dengan hati-hati ia melihat ke kanan...