Skip to main content

PUISI UNTUK IBU DALAM SOBEKAN KORAN BEKAS


Setiap kali Hari Ibu tanggal 22 Desember datang, Bupati Sragen, Agus Fatchur Rahman, teringat dengan sesobek koran bekas yang memuat Puisi, berjudul Ibu. Puisi karya penyair asal Madura, D. Zamawi Imron ini begitu dalam membekas dihatinya. Dan sobekan koran bekas itu sempat disimpannya hingga puluhan tahun.
 
Dalam beberapa kali memberi sambutan pada peringatan Hari Ibu, untuk menggambarkan kedudukan seorang ibu, Agus sering menyisipkan pesan seperti dalam bait-bait puisi karya Zamawi Imron tersebut.



Bahkan yang lebih dramatis, ketika ibu kandungnya meninggal dunia puluhan tahun silam, di hadapan ratusan orang tamu yang bertakziyah, Agus membacakan sendiri puisi itu untuk mengiringi upacara pemberangkatan jenazah  Sang Ibu.

Kedekatannya dengan sosok Ibu, seperti terlihat dalam gambar ini. Ia ngobrol akrab dengan seorang warga miskin yang sudah renta, yang ditemuinya di sebuah desa.

Inilah puisi yang kerap dibacanya itu.


I b u
kalau aku merantau lalu datang musim kemarau
sumur-sumur kering, daun pun gugur bersama reranting
hanya mata air airmatamu, Ibu, yang tetap lancar mengalir

bila aku merantau
sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku
di hati ada mayang siwalan memutikkan sarisari kerinduan
lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar

ibu adalah gua pertapaanku
dan ibulah yang meletakkan aku di sini
saat bunga kembang menyemerbak bau sayang
ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi
aku menganggguk meskipun kurang mengerti

bila kasihmu ibarat samudera
sempit lautan teduh
tempatku mandi, mencuci lumut pada diri
tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh
lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku

kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan
namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu
lantaran aku tahu
engkau ibu dan aku anakmu            
-------------------------------------------------
persembahan hari ibu, 22 desember
( suparto – sragen )

Comments