Skip to main content

Menggugat Peringatan Hari Kartini


Kartini Zaman Now

Tanggal 21 April, bagi bangsa Indonesia, terutama kaum wanita, menjadi momen istimewa karena diperingati sebagai Hari Kartini. Beberapa  sekolahan dan kantor pemerintah, menyelengarakan upacara peringatan hari kelahiran salah satu tokoh wanita Indonesia yang lahir di Jepara ini.

Upacara peringatan Hari Kartini di kantor pemerintah, tiap tahun berlangsung semarak. Sejak pukul tujuh pagi, ratusan karyawati terlihat anggun mengenakan pakaian kebaya berwarna-warni sudah siap mengikuti upacara.

Yang agak istimewa, semua petugas upacara,  mulai dari perwira dan komandan upacara, komandan peleton, pembaca riwayat Kartini, ajudan inspektur upacara, dan pembaca doa, hampir 100 persen dilakukan oleh kaum wanita.

Hanya Simbol Asesoris

Namun yang terlihat lebih dominan pada peringatan Hari Kartini adalah sekedar mengganti pakaian harian menjadi kebaya dan jarit yang hanya menjadi simbol asesoris belaka, sehingga kurang mampu menggali semangat perjuangan Kartini.

Semangat Kartini adalah sebuah pemberontakan kultural terhadap lingkungan yang kurang kondusif, agar bisa memberikan pengabdian bagi orang lain. Kartini ingin memberikan yang terbaik dimasa hidupnya.

Karena itu dalam memperingati Hari Kartini, kaum wanita mestiya bisa merubah paradigma dari sekedar seremonial menjadi semangat berlomba-lomba berbuat kebaikan bagi orang lain. Makna kepahlawanan adalah ketika seseorang dengan ikhlas mampu mengorbankan kepentingan diri dan golongannya untuk berbuat yang terbaik bagi orang lain.

Setelah memperingati Hari Kartini tanggal 21 April, apa yang dapat kita ambil hikmahnya? Beragam pendapat dan kesan bisa muncul sesuai pemahaman, analisis, persepsi, dan kepentingan masing-masing orang. 

Beberapa hal berikut ini barangkali menggambarkan sekilas tentang bagaimana kita melihat sosok Kartini dalam era kekinian.

Pertama, sebagian besar orang Indonesia masih mempercayai sosok Kartini sebagai seorang wanita pejuang karera secara formal Pemerintah Indonesia (1964) telah mentapkan sebagai Pahlawan Nasional. Hari kelahiranya, 21 April, pun dicatat dalam sejarah Indonesia sebagai Hari Kartini dan diperingati melalui upacara resmi dan berbagai kegiatan yang lain.

Namun, menurut saya, pengakuan itu baru sebatas formal seremonial. Pemerintah memang telah menerbitkan buku sejarah Kartini yang diajarkan di sekolah, foto-foto Kartini banyak dipajang di ruang-ruang kelas, berbagai kegiatan dilakukan, dan upacara resmi diselenggarakan secara nasional.

Namun faktanya, begitu selesai tangal 21 April, tak ada hikmah berarti yang didapat. Bagai angin berlalu. Yang ada adalah hasil foto-foto wanita-wanita seksi dan anggun berbusana kebaya dan bersanggul
saat mengikuti upacara menghiasi media sosial. Kalau ditanya bagaimana spirit dan gagasan Kartini mampu menggetarkan sanubari dan mempengaruhi pola pikirnya, mereka hanya menggelengkan kepala, atau mengangkat bahu. Atau, ada yang berucap, “Yang penting berkat perjuangan Ibu Kartini, hari ini kami bisa happy….”

Bagi mereka tak terlalu penting untuk memikirkan sosok Kartini di luar tanggal 21 April. Nama Kartini hanya didengar sekilas melalui pelajaran formal di sekolah, atau ketika petugas upacara membacakan riwayat hidupnya secara singkat. Lebih dari itu tak pernah tahu. Parahnya, juga tidak pernah berusaha mengetahui sejarahnya melalui usaha lain, seperti membaca buku, media massa atau berbagai media lainya.

Buku-Buku Tentang Kartini

Kedua, dalam berbagai referensi disebutkan, setelah J.H. Abendanon menerbitkan surat-surat Kartini dalam buku berjudul Door Duisternis tot Licht dan diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh seorang sastrawan, Armijn Pane, dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”,  kemudian lahir beberapa buku tentang Kartini.

Tahun 1972, seorang warga Indoneaia, Sulastin Sutrisno, tengah studi di bidang sastra di Universitas Leiden, Belanda. Salah seorang dosen pembimbing di Leiden meminta Sulastin untuk menerjemahkan buku kumpulan surat-surat Kartini. Tujuan sang dosen adalah agar Sulastin bisa menguasai bahasa Belanda dengan cukup sempurna. Kemudian, pada 1979, sebuah buku berisi terjemahan Sulastin Sutrisno versi lengkap Door Duisternis Tot Licht pun terbit.

Buku kumpulan surat versi Sulastin Sutrisno terbit dengan judul “Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya”. Menurut Sulastin, judul terjemahan seharusnya menurut bahasa Belanda adalah: "Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsa Jawa". Sulastin menilai, meski tertulis Jawa, yang didamba sesungguhnya oleh Kartini adalah kemajuan seluruh bangsa Indonesia. Tahun 1987, Sulastin Sutrisno memberi gambaran baru tentang Kartini lewat buku “Kartini Surat-surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan suaminya”

Buku lain yang berisi terjemahan surat-surat Kartini adalah Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904. Penerjemahnya adalah Joost Coté. Ia tidak hanya menerjemahkan surat-surat yang ada dalam Door Duisternis Tot Licht versi Abendanon. Joost Coté juga menerjemahkan seluruh surat asli Kartini pada Nyonya Abendanon-Mandri hasil temuan terakhir. Pada buku terjemahan Joost Coté, bisa ditemukan surat-surat yang tergolong sensitif dan tidak ada dalam Door Duisternis Tot Licht versi Abendanon.

Selain berupa kumpulan surat, bacaan yang lebih memusatkan pada pemikiran Kartini juga diterbitkan. Salah satunya adalah “Panggil Aku Kartini Saja” karya seorang sastrawan, Pramoedya Ananta Toer. Buku “Panggil Aku Kartini Saja” terlihat merupakan hasil pengumpulan data dari berbagai sumber oleh Pramoedya.

Ada lagi buku berjudul “Kartini Sebuah Biografi karya Titisoemandari Soeroto, Butir-Butir R.A.Kartini” disusun Myrtha Soeroto, dan “Tragedi Kartini : Sebuah Pertarungan Ideologi” karya Asma Karimah, dan masih banyak lagi, serta beberapa artikel tentang Kartini bermunculan dengan berbagai versi. Hal ini  tentunya sangat menggembirakan, karena memberikan banyak informasi untuk bahan mengkaji sosok Kartini. Namun disisi lain, menimbulkan kekhawatiran sebagian orang karena ada silang pendapat terhadap tokoh yang sudah ditetapkan kepahlawanannya oleh Pemerintah itu.

Kontroversi?

Ketiga, munculnya kontroversi ketika ada orang-orang kritis yang mulai berani menggugat status kepahlawanan Kartini dan meragukan kebenaran surat-surat Kartini. Ada dugaan J.H. Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan saat itu, merekayasa surat-surat Kartini. Kecurigaan ini timbul karena memang buku Kartini terbit saat pemerintahan kolonial Belanda menjalankan Politik Etis di Hindia Belanda, dan Abendanon termasuk yang berkepentingan dan mendukung politik etis. Hingga saat ini pun sebagian besar naskah asli surat tak diketahui keberadaannya. Menurut Sulastin Sutrisno, jejak keturunan J.H. Abendanon pun sukar untuk dilacak Pemerintah Belanda.

Penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar juga agak diperdebatkan. Pihak yang tidak begitu menyetujui, mengusulkan agar tidak hanya merayakan Hari Kartini saja, namun digabung sekaligus dengan Hari Ibu tanggal 22 Desember. Alasan mereka adalah agar tidak dianggap pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya. Menurut sebagian orang, masih ada pahlawan wanita lain yang tidak kalah hebat dengan Kartini seperti Cut Nyak Dhien, Martha Christina Tiahahu,Dewi Sartika dan lain-lain.

Guru besar Universitas Indonesia (UI), Harsja W. Bachtiar juga pernah mengkritik “pengkultusan” R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia. Dalam buku “Satu Abad Kartini (1879-1979)”, yang terbit tahun 1990, Harsja W. Bachtiar menulis sebuah artikel berjudul : “Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita”. Tulisan ini bernada gugatan terhadap penokohan Kartini yang dikatakan mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda.

Harsja menggugat dengan halus, kenapa harus Kartini yang dijadikan sebagai simbol kemajuan wanita Indonesia. Ia menunjuk dua sosok wanita yang hebat dalam sejarah Indonesia. Pertama, Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat dari Aceh dan kedua, Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan. 

Anehnya, tulis Harsja, dua wanita itu tidak masuk dalam buku “Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia”. Padahal, kehebatan dua wanita itu sangat luar biasa. Sultanah Safiatudin dikenal sebagai sosok yang sangat pintar dan aktif mengembangkan ilmu pengetahuan. Selain bahasa Aceh dan Melayu, dia menguasai bahasa Arab, Persia, Spanyol dan Urdu.

Ada Hikmahnya

Dari tiga hal yang terungkap di atas, kita bisa menemukan banyak pelajaran penting untuk diambil hikmahnya.

Pertama, masih rendahnya pemahaman dan adanya sikap masa bodoh sebagian besar warga Indonesia terhadap para pahlawan di negerinya, membuktikan bahwa sistem pendidikan sejarah di Indonesia  perlu terus dievaluasi dan disempurnakan.

Kedua,  kita semua perlu lebih banyak belajar tentang sejarah Indonesia secara komprehensif dengan pikiran jernih. Menjadi tugas dan tantangan gererasi sekarang untuk terus menggali sumber-sumber sejarah yang sebenarnya tanpa dipengaruhi oleh kepentingan politis dan sentimen kebencian berlatar belakang SARA.

Ketiga, munculnya pihak-pihak yang berani menggugat status kepahlawanan Kartini jangan diartikan sempit seolah-olah merendahkan derajat sosok Kartini yang sudah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. Namun harus menjadi bahan introspeksi semua pihak, bahwa penulisan sejarah selama ini tidak lepas dari kepentingan penguasa.

Keempat, terlepas dari adanya pihak yang mempermasalahkan ketokohan Kartini, ada sisi penting yang perlu kita pahami. Mengapa perjuangan Kartini mampu menjadi sosok yang melegenda dan namanya terabadikan dalam khazanah sejarah Indonesia, bahkan tingkat dunia?

Menurut saya, salah satu faktor penting adalah karena Kartini mampu mengungkapkan berbagai gagasan cemerlang dan pergulatan pemikiran dan pengalamannya dalam bentuk tulisan, baik lewat surat maupun artikel di media massa. Gagasan Kartini itu kemudian tersebar luas melalui buku dan media lainnya.  Artinya, seperti yang sering kita dengar dari berbagai ungkapan, bahwa tulisanlah yang mampu mengikat makna dan menjadikan keabadian seseorang.

Maknanya, memperingati Hari Kartini jangan hanya ngucapin Selamat Hari Kartini atau ikut upacara pakai kebaya, namun kita belajar tentang budaya Leterasi – dunia baca tulis yang banyak digelorakan Kartini. Kartini yang cerdas selalu berpikir kritis, punya gagasan kreatif, berjuang mewujudkan cita-citanya,  diikuti oleh proses membaca dan menulis yang tidak pernah berhenti. Itulah yang akhirnya menciptakan karya dan keabadian namanya. 

Suparto
#OneDayOnePost
#HariKartini

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

ATUR PANAMPI PASRAH TEMANTEN KAKUNG

Assalamu 'alaikum wr.wb. - Para Sesepuh-Pinisepuh ingkang dahat kinabekten. -Para Rawuh kakung sumawana putri ingkang kinurmatan. -Panjenenganipun  Bapa ………………..        minangka sulih sarira  saking  Bapa BUDI PRANOTO, S.Pd sekalian Ibu KUN MARYATI, S.Pd. ingkang tuhu kula kurmati. Kanthi ngonjukaken raos syukur dhumateng ALLAH SWT., Gusti Ingkang Maha Kawasa, kula minangka sulih salira saking panjenenganipun Bp. Haji SUDARNO, S.Sos  sekalian Ibu Hajah CIPTANTI DWI PRIYANTINI, S.Pd keparenga tumanggap atur menggah paring pangandikan pasrah temanten kakung. Ingkang sepisan , kula minangka sulih sarira Bapa Haji SUDARNO,S.Sos sekalian,dalasan sedaya kulawarga ngaturaken pambagya sugeng sarawuh panjenengan minangka Dhuta Saraya Pasrah saking Bapa BUDI PRANOTO,S.Pd sekalian dalasan sedaya panderek. Kaping kalih , menggah salam taklim Bp-Ibu BUDI  lumantar panjenengan, sampun katampi, dhawah sami-2, kanthi-atur wa'ala...

ATUR PASRAH BOYONG TEMANTEN KEKALIH

Salah satu rangkaian adat Jawa setelah melangsungkan resepsi pernikahan adalah, keluarga temanten perempuan memboyong kedua mempelai kepada keluarga orangtua mempelai laki-laki (besan).  Sebelum masuk rumah keluarga besan, diadakan acara “Atur Pasrah” dari keluarga mempelai perempuan, dan “Atur Panampi” dari keluarga besan. Berikut adalah tuladha (contoh) sederhana “Atur Pasrah” yang saya susun dan laksanakan. *** Assalamu ‘alaikum Wr.Wb. Bismillahirrahmanirrahim. Al-hamdu lillahi rabbil ‘alamin. * Para sesepuh pinisepuh ingkang dahat kinabekten ** Panjenenganipun Bp.Waluyo dalasan Ibu Sumarni ingkang kinurmatan *** P ara rawuh kakung putri ingkang bagya mulya . Kanti  ngunjukaken raos syukur dumateng Allah SWT, Gusti Ingkang Moho Agung. Sowan kula mriki dipun saroyo dening panjenenganipun Bapa Haji Supriyadi, S.Pd dalasan Ibu Hajah Lasmi ingkang pidalem wonten Plumbungan Indah RT.27/RW.08 Kelurahan Plumbungan, Kecamatan Karangmalang, Sragen, kepar...

TANGGAP WACANA ATUR PAMBAGYA HARJA

Pada rangkaian acara resepsi pernikahan, keluarga yang mempunyai hajat (punya kerja), berkewajiban menyampaikan sambutan (tanggap wacana) selamat datang kepada seluruh hadirin. Dalam tatacara resepsi adat Jawa disebut Atur Pambagya Harja, atau atur pambagya wilujeng. Dalam sambutan ini, orang yang punya kerja akan mewakilkan kepada orang tertentu yang ditunjuk, biasanya ketua RT/RW, atau orang yang dituakan di lingkungannya. Nah, ketika menjadi ketua RT, saya pernah mendapat tugas untuk menyampaikan pidato (tanggap wacana) tersebut. ****** Berikut contoh / tuladha atur pambagya harja yang pernah saya sampaikan…. Assalamu ‘alaikum Wr. Wb. -        Para Sesepuh Pinisepuh, ingkang satuhu kula bekteni -        Para Rawuh Kakung sumawana putri ingkang kinurmatan Sakderengipun kula matur menggah wigatosing sedya wonten kelenggahan punika, sumangga panjenengan sedaya kula derek-aken ngunjuk-aken ra...

CONTOH ATUR PANAMPI PASRAH TEMANTEN SARIMBIT ACARA NGUNDUH MANTU

Bp-Ibu Bambang Sutopo  Assalamu'alaikum wrwb. 1.      Para Sesepuh-Pinisepuh ingkang dahat kinabekten.. 2.      Panjenenganipun Bapa Suwardi minangka sulih sarira saking Bapa Gito Suwarno-Ibu Tuginem, ingkang tuhu kinurmatan. 3.      Para Rawuh kakung sumawana putri ingkang bagya mulya. Kanthi ngonjukaken raos syukur dhumateng Allah SWT - Gusti Ingkang Maha Agung, kula minangka talanging basa saking panjenenganipun Bp. Bambang Sutopo, S.Pd,  sekalian Ibu Jari, keparenga tumanggap atur menggah paring pangandikan pasrah saking kulawarga Bapa Gito Suwarno sekalian Ibu Tuginem. Ingkang sepisan , kula minangkani punapa ingkang dados kersanipun Bapa Bambang Sutopo sekalian dalasan sedaya kulawarga, ngaturaken pambagya sugeng ing sarawuh panjenengan minangka Dhuta Saraya Pasrah saking Bp Gito Suwarno sekalian Ibu Tuginem-sapendherek,  ingkang pidalem w onten ing   Dukuh Jenggrik,...

Atur Pambagyaharja Sungkawa (Sripahan / LELAYU)

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.  Nuwun, kawula nuwun . Para pepunden sesepuh pinisepuh ingkang kula bekteni. Para asung pambela sungkawa, para rawuh kakung sunawana putri ingkang satuhu luhuring budi. Wonten madyaning panandang ing ari kalenggahan punika, kula minangka sulih sarira saking Ibu Sri Sumaringsih sakaluwarga kinen hangaturaken atur Pambagyaharja sakderengipun hangkating layon Almarhum Bapa Sukardono. Murwakani atur, sumangga panjenengan sedaya kula dherekaken manengku puja, raos syukur tansah konjuk wonten Ngarsa Dalem Allah Gusti Ingkang Maha Kawasa. Awit Panjenengan dalasan kula saget makempal wonten papan punika saperlu asung bela sungkawa menggah sedanipun Bapa Sukardono. Para asung pambela sungkawa ingkang pikantuk Rahmating Gusti. Ibu Sri Sumaringsih gotrah kulawangsa lumantar kula, ngaturaken Sugeng Rawuh, lan ngaturaken raos panuwun ingkang tanpa pepindan awit karawuhan panjenengan sedaya. Ugi ngaturaken agenging panuwun sedaya pambiyantu awujud p...

Bukan Halusinasi ( Bag. 1 )

Tengah malam yang dingin itu telah menyirep seluruh penghuni kampung Randu. Mereka lelap dalam tidur berselimut sepi, menikmati mimpinya masing-masing. Namun   tidak bagi Suto.   Lelaki paroh baya yang sehari-hari bekerja sebagai petani kecil ini mendadak terbangun oleh suara ketukan pintu belakang di ruang dapurnya. Sebenarnya lelaki kurus ini enggan beranjak bangun dari tempat tidurnya. Badan Suto kurang sehat lantaran kemarin kehujanan saat berada di sawah. Tetapi karena pintu itu seperti didorong-dorong oleh seseorang, ia akhirnya bangun juga. Ia tak langsung berdiri. Sembari mengusap-usap kedua matanya, diambilnya  lampu senter yang selalu ditaruh di bawah bantal. Dengan langkah gontai ia berjalan menuju pintu belakang. Tanpa pikir panjang, dibukanya pintu. Sementara isterinya, Poni, dan seorang anak perempuannya, Yani  yang berumur lima belas tahun, tetap tidur nyenyak. Setelah pintu terbuka, ia keluar rumah. Dengan hati-hati ia melihat ke kanan...

Bukan Halusinasi ( Bag. 7 )

Sesuai rencana, Guritno bersama perangkatnya mendatangi rumah Suto. Melihat kedatangan Guritno, puluhan warga yang berkerumun berebut menyalami Kepala Desa yang simpatik ini. Beberapa orang dari luar desa yang belum mengenalnya juga mendekat Guritno. “Selamat Siang, Pak Lurah..” beberapa orang menyapa. “Selamat Siang. Gimana kabarnya. Sehat semua kan?” Sapa Guritno. “ Nggih,  Pak Lurah…” Guritno langsung menuju lokasi sumur tua milik Suto . Ia segera me lo ngok ke dalam sumur seperti yang dilakukan warga. Ia berkali-kali melongok ke lubang sumur yang berkedalaman 15 meter. Sesaat kemudian, ia melihat ke sekeliling, mengamati puluhan rumpun pohon bambu yang tumbuh subur di pekarangan Suto . Beberapa orang yang menyaksikan gerak gerik Kepala Desa itu saling berpandangan dan berbisik satu sama lain. Mereka menerka apa yang akan dilakukan pemimpin desa itu. Diantara mereka ada yang memberanikan diri bertanya dan usul kepada Guritno. “Bagaimana, Pak. Apa b...

BERKEMBANG BERSAMA ODOP

Puluhan tahun dalam perjalanan hidup ini, saya isi dengan banyak membaca buku, baik di toko, di perpustakaan maupun milik sendiri. Disamping buku, bacaan berupa koran, majalah dan media online menjadi menu konsumsi hidup saya. Mungkin sudah ratusan judul buku saya baca hingga tuntas. Namun lebih banyak buku yang saya baca tidak pernah selesai. Dengan membaca aneka buku, saya menemukan banyak ilmu dan hikmah yang amat berguna dalam menjalani hidup ini. Seperti ungkapan Samuel Johnson, “Buku mengajarkan kepada kita, bagaimana menikmati hidup dan bagaimana memikul bebannya.” Setelah hidup ini saya jalani dengan aktivitas banyak membaca, saya kemudian punya keinginan untuk menjadi penulis. Pertimbangannya, jika hanya sekedar sebagai pembaca, manfaat yang saya peroleh lebih banyak untuk diri sendiri. Tapi   jika menjadi penulis, insya Allah manfaatnya bisa dinikmati untuk banyak orang. Sadar bahwa menjadi penulis itu tidak mudah, sayapun mulai berusaha keras untuk membe...

Buang Jauh Luka Emosional Anda

Orang bijaksana tidak pernah duduk   meratapi kegagalannya, tetapi dengan gembira hati dia mencari jalan bagaimana memulihkan kembali kerugian yang dideritanya.   - Shakespear -  Ada kejadian, seseorang mengalami kecelakaan yang tidak terlalu berat, mengakibatkan luka fisik pada bagian wajahnya. Akibat luka fisik tersebut membuat dirinya merasa malu, takut bercermin atau berinteraksi dengan orang lain. Dia bahkan menarik diri dari kehidupan masyarakat dan menutup diri.   P adahal, luka fisik itu sebenarnya bisa disembuhkan dan pulih kembali. Luka fisik itu lebih mudah disembuhkan! Bagaimana dengan luka emosional?  Luka  emosional lebih menyakitkan!   Anda tidak dapat melihatnya, tidak  dapat merabanya, tetapi ia dapat membuat perut keroncongan dan hati berdebar. Tidak ada bukti keberadaannya, tapi ia dapat menimbulkan rasa pusing, mual, insomnia, serangan jantung, gangguan pencernaan, bahkan stres dan depresi.  Ia lebih dalam dari luka-l...

KOTHEKAN LESUNG TANDAI PERGANTIAN TAHUN

Selama ini, perayaan detik-detik pergantian tahun baru masehi yang dilakukan oleh hampir semua Pemerintah Daerah di Indonesia, identik dengan pesta kembang api. Tapi yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Sragen tahun ini sangat berbeda. Perayaan pergantian tahun yang dikemas dalam acara “Gebyar Tahun Baru 2018” tidak ada pesta kembang api. Acara detik-detik pergatian tahun yang berlangsung pukul 23.45-00.15 di Alun-alun Sasana Langen Putra ini justru ditandai dengan Kothekan   Lesung – pemukulan alat tradisional petani untuk menumbuk padi. Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati, mengawali pemukulan Lesun g dengan Alu , diikuti oleh   Wakil Bupati, Dedi Endriyatno, Sekda Tatag Prabawanto bersama-sama jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Kabupaten Sragen. Suara Lesung Jumengglung yang menandai pergantian tahun dari 2017 ke 2018, membahana memenuhi Alun-alun yang dipadati ribuan warga. Sebelum prosesi pemukulan lesung, di Alun-alun juga digelar pen...