Skip to main content

Bukan Halusinasi ( Bag. 11 )



Setelah aksi Tim SAR di dasar sumur, kerumunan orang di sekitar sumur milik Suto memang berangsur hilang. Tetapi persoalan misteri sumur Suto tidak berhenti sampai di sini.

Kardi, salah seorang warga setempat, mengajak tiga temannya ke rumah Mbah Reso Sentul  yang dikenal sebagai sesepuh, orang yang paling dituakan di dukuh Randu. Meski usia Mbah Reso Sentul kini lebih 90 tahun tapi fisiknya masih terlihat sehat. Daya ingatan masih kuat dan bicaranya juga jelas.

Rumah Mbah Reso yang berada di ujung kampung, amat sederhana. Hanya berukuran sekitar 4 x 5 meter dan berdinding bambu yang sudah usang. Di rumah, mbah Reso ditemani cucunya (suami isteri) yang mencukupi segala kebutuhannya. Sedangkan isteri Mbah Reso  sudah meninggal puluhan tahun lalu.  

“Kulo nuwun Mbah Reso,” kata Kardi bersama ketiga temannya.

Monggo,” jawab Mbah Reso beranjak dari kursi menemui tamunya. Ia masih kuat berjalan sendiri tanpa penopang tongkat.

Di rumah Mbah Reso hanya ada dua buah kursi dan satu meja. Tamunya dipersilahkan duduk di papan tempat tidur yang berada di ruang tamu. Mbah Reso biasa menghabiskan hari-harinya di ‘dipan’ tempat tidur ini.

“Ada apa ke sini,” kata Mbah Reso ketus.

“Gini Mbah. Kami mau melaporkan kejadian di sumur Kang Suto dan tindakan anak-anak muda dari Tim SAR itu."

“Ya. Simbah sudah tahu semuanya."

“Kok sudah tahu, Mbah?”

“Ada yang cerita sebelum kamu."

“O… Gitu, gimana tanggapan Mbah Reso."

“Bocah Nom-noman (anak-anak muda) itu memang hebat, berani. Tapi terlalu cepat bertindak, sehingga meninggalkan tata krama, sopan santun."

“Maksudnya apa, Mbah?”

“Orang itu harus menghormati adat istiadat yang berlaku di kampung."

“Katanya mereka sudah ijin resmi kepada para pejabat, Mbah."

“Betul. Tapi sifatnya hanya umum. Ada soal khusus yang harus diperhatikan,”

“Misalnya, Mbah?”

“Para Orang tua di sini perlu diajak rembugan, musyawarah, bagaimana baiknya."

“Lantas, apa yang harus kita lakukan."

“Semua sudah terlanjur. Lihat saja, sekarang pikiran Suto tambah ruwet. Seperti orang ‘gêndhêng’ - wong ora waras – stress,”

Nggih, Mbah. Matur nuwun -  terima kasih petunjuknya. Kami pamit dulu.”

“Ya. Hati-hati."

Dengan keterangan Mbah Reso Sentul, misteri sumur Suto malah seperti tambah gelap.

***

Di tengah krotroversi dan situasi makin gelapnya misteri sumur pak Suto, muncul pemberitaan menarik di sebuah media.  Media ini memuat tulisan tentang kronologi dan pandangan tentang sisi lain dari fenomena sumur pak Suto. Judulnya, “Fenomena Sumur Pak Suto : Kontroversi Antara Ilusi, Halusinasi, dan Misteri”.

Bersambung
#OneDayOnePost
Suparto 

Comments

Post a Comment