Skip to main content

Kartini (Bag.2) : Menulis Untuk Menembus Batas




Hidup dalam pingitan, tak membuat Kartini diam dan menyerah. Melalui surat-suratnya, Kartini menjalin persahabatan tanpa batas, menembus kungkungan tembok tebal adat.

       Sebagai putri seorang bupati yang berpikiran maju, Kartini memperoleh kesempatan untuk berkenalan dengan para istri pejabat Belanda yang mengadakan perjalanan dinas ke Jepara. Dari perkenalan itu terjalin persahabatan yang sangat erat, kemudian dilanjutkan dengan surat-menyurat.
       Meski usianya terpaut jauh, Kartini tidak merasa canggung dan malu, bahkan ia sendiri yang mengajak untuk menjalin persahabatan dan bertukar pikiran. Diantara sahabat-sahabatnya, tercatat nama Ny. Ovink Soer, Ny. Stella, Ny. Van Kol dan Mr. J.H. Abendanon.

  •        Sejak saat itu, hampir tiap hari, Kartini menyediakan waktu khusus untuk menulis surat kepada para sahabatnya. Kala itu ia selalu melahap berbagai informasi dari buku, koran dan majalah sehingga pengetahuannya amat luas. Kartini benar-benar memanfaatkan waktu dalam pingitan untuk membaca dan bertukar-pikiran melalui surat-menyurat (koresponden) dengan sahabatnya di dalam maupun luar negeri.
       Kepada temannya ia mengungkapkan tentang apa yang tengah dilakukannya. “Membaca dan menulis adalah segala-galanya bagiku. Tanpa kedua hal tersebut, barangkali aku mati…” katanya.
       Sabahat Kartini terus bertambah, karena ia juga berkenalan kepada banyak orang lewat koran atau majalah alias sahabat pena. Baginya, persahabatan itu tidak mengenal batas.
 Perasaan dan pikiran Kartini yang tersiksa melihat gadis pribumi yang dikekang atau terkungkung oleh adat, dicurahkan dalam surat-suratnya. Ia ungkapkan gejolak hati, pergulatan batin, keinginan dan cita-citanya. Semua sahabatnya harus tahu, barangkali mereka dapat membantunya. Ia terus menulis dan menulis dari belakang tembok kabupaten yang tebal dan tinggi itu.
       Dari para sahabatnya di negeri Belanda, Kartini mendapat kiriman buku-buku dan majalah. Mereka juga selalu mendorong Kartini untuk banyak membaca dan menuangkan pikiran melalui tulisan agar diketahui oleh masyarakat luas.
       Karena itu selain menulis surat untuk para sahabatnya, tulisan atau artikel Kartini pun banyak dimuat di majalah dan koran. Tulisan Kartini tidak hanya terbatas pada persoalan perjuangan untuk kaum wanita, tetapi juga mencakup berbagai hal tentang kehidupan umat manusia.
       Kartini juga tidak tinggal diam. Untuk mewujudkan cita-citanya ke arah pendidikan kaum wanita Indonesia (pribumi), dengan persetujuan dan bantuan Direktur Departemen Pengajaran Hindia Belanda, Mr. J.H. Abendanon, pada tahun 1900 Kartini membuka sekolah kecil di halaman Kabupaten Jepara. Pada mulanya hanya terbatas pada lingkungan keluarga, tetapi kemudian masyarakat di luar kabupaten mulai menghargai usahanya dan menyerahkan anak-anaknya untuk dididik.
       Tahun 1903 Kartini menikah dengan Raden Adipati Ario Djojohadiningrat, Bupati Rembang yang sangat menghargai dan memberikan bantuan sepenuhnya atas usaha Kartini. Beberapa bulan sesudah pindah di kabupaten Rembang, bulan Januari 1904 ia membuka sekolah gadis di tempatnya yang baru itu. Sedangkan sekolah di halaman Kabupaten Jepara diteruskan oleh adik-adiknya.
       Sayang, kebahagiaan dan usahanya itu tidak lama dapat dinikmati oleh putri agung ini. Pada tanggal 17 September 1904, lebih kurang satu tahun setelah menikah dan lima hari setelah melahirkan puteranya yang pertama, Kartini meninggal dunia, dalam usia sangat muda, 25 tahun.
       Namun demikian, perjuangan dan cita-cita Kartini tidak terhenti sampai disitu. Tahun 1911, Mr. J.H. Abendanon, salah satu sahabat Kartini yang juga menjabat Direktur Departemen Pengajaran Hindia Belanda menerbitkan sebuah buku tulisan Kartini berjudul Door Duisternis tot Licht.
       Tahun 1923 buku ini telah mengalami cetak ulang ke-4. Baru sekitar tahun 1938, Balai Pustaka Jakarta menerbitkan terjemahannya dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku ini berisi kumpulan sebagian dari ratusan surat Kartini kepada para sahabatnya orang Belanda yang ditulisnya antara tahun 1900 hingga 1904.
       Dalam surat-suratnya itu terbentang cita-cita dan tersirat duka derita batinya. Terasa didalamnya betapa jauh gagasan-gagasan Kartini meninggalkan alam feodal tempat ia dibesarkan. Betapa jauh ke depan pandangan-pandangannya dan begitu besar kasih sayangnya terhadap kaumnya.
       Dikemudian hari, surat-surat Kartini itu telah menarik perhatian dunia dan diterjemahkan kedalam berbagai bahasa. Di Amerika misalnya, seorang bernama Agnes Louise Symmers menerjemahkan kedalam bahasa Inggris berjudul Letters of Javanese Princess. Kemudian ada terjemahan bahasa Perancis dengan judul Letters de R.A. Kartini, dan masih banyak lagi.
       Dalam salah satu surat kepada sahabatnya, Kartini mengungkapkan perasaan yang amat mengharukan :
Stella.
Aku tahu jalan yang hendak aku tempuh ini sukar. Banyak duri dan onaknya. Begitu juga banyak lobangnya. Jalan itu berbatu dan berliku-liku. Biarpun aku tidak beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, aku akan mati dengan perasaan bahagia, sebab jalannya telah dirintis. Aku telah ikut membantu untuk membuat jalan yang menuju ke arah wanita bumiputra yang merdeka dan berdiri sendiri. ( Suparto ) – bersambung …

Comments

  1. Pengin tahu sambungannya. ingin tahu kartini yg sesungguhnya

    ReplyDelete
  2. sabar.. ini masih membongkar dokumen surat-surat Kartini...

    ReplyDelete
  3. Wah.. uyah jadi inget. Kartini meninggal setelah melahirkan anaknya. Beliau preeklamsia waktu itu. Pak Suparto. Ditunggu surat-surat ibu Kartininya yah. :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

ATUR PANAMPI PASRAH TEMANTEN KAKUNG

Assalamu 'alaikum wr.wb. - Para Sesepuh-Pinisepuh ingkang dahat kinabekten. -Para Rawuh kakung sumawana putri ingkang kinurmatan. -Panjenenganipun  Bapa ………………..        minangka sulih sarira  saking  Bapa BUDI PRANOTO, S.Pd sekalian Ibu KUN MARYATI, S.Pd. ingkang tuhu kula kurmati. Kanthi ngonjukaken raos syukur dhumateng ALLAH SWT., Gusti Ingkang Maha Kawasa, kula minangka sulih salira saking panjenenganipun Bp. Haji SUDARNO, S.Sos  sekalian Ibu Hajah CIPTANTI DWI PRIYANTINI, S.Pd keparenga tumanggap atur menggah paring pangandikan pasrah temanten kakung. Ingkang sepisan , kula minangka sulih sarira Bapa Haji SUDARNO,S.Sos sekalian,dalasan sedaya kulawarga ngaturaken pambagya sugeng sarawuh panjenengan minangka Dhuta Saraya Pasrah saking Bapa BUDI PRANOTO,S.Pd sekalian dalasan sedaya panderek. Kaping kalih , menggah salam taklim Bp-Ibu BUDI  lumantar panjenengan, sampun katampi, dhawah sami-2, kanthi-atur wa'ala...

ATUR PASRAH BOYONG TEMANTEN KEKALIH

Salah satu rangkaian adat Jawa setelah melangsungkan resepsi pernikahan adalah, keluarga temanten perempuan memboyong kedua mempelai kepada keluarga orangtua mempelai laki-laki (besan).  Sebelum masuk rumah keluarga besan, diadakan acara “Atur Pasrah” dari keluarga mempelai perempuan, dan “Atur Panampi” dari keluarga besan. Berikut adalah tuladha (contoh) sederhana “Atur Pasrah” yang saya susun dan laksanakan. *** Assalamu ‘alaikum Wr.Wb. Bismillahirrahmanirrahim. Al-hamdu lillahi rabbil ‘alamin. * Para sesepuh pinisepuh ingkang dahat kinabekten ** Panjenenganipun Bp.Waluyo dalasan Ibu Sumarni ingkang kinurmatan *** P ara rawuh kakung putri ingkang bagya mulya . Kanti  ngunjukaken raos syukur dumateng Allah SWT, Gusti Ingkang Moho Agung. Sowan kula mriki dipun saroyo dening panjenenganipun Bapa Haji Supriyadi, S.Pd dalasan Ibu Hajah Lasmi ingkang pidalem wonten Plumbungan Indah RT.27/RW.08 Kelurahan Plumbungan, Kecamatan Karangmalang, Sragen, kepar...

TANGGAP WACANA ATUR PAMBAGYA HARJA

Pada rangkaian acara resepsi pernikahan, keluarga yang mempunyai hajat (punya kerja), berkewajiban menyampaikan sambutan (tanggap wacana) selamat datang kepada seluruh hadirin. Dalam tatacara resepsi adat Jawa disebut Atur Pambagya Harja, atau atur pambagya wilujeng. Dalam sambutan ini, orang yang punya kerja akan mewakilkan kepada orang tertentu yang ditunjuk, biasanya ketua RT/RW, atau orang yang dituakan di lingkungannya. Nah, ketika menjadi ketua RT, saya pernah mendapat tugas untuk menyampaikan pidato (tanggap wacana) tersebut. ****** Berikut contoh / tuladha atur pambagya harja yang pernah saya sampaikan…. Assalamu ‘alaikum Wr. Wb. -        Para Sesepuh Pinisepuh, ingkang satuhu kula bekteni -        Para Rawuh Kakung sumawana putri ingkang kinurmatan Sakderengipun kula matur menggah wigatosing sedya wonten kelenggahan punika, sumangga panjenengan sedaya kula derek-aken ngunjuk-aken ra...

CONTOH ATUR PANAMPI PASRAH TEMANTEN SARIMBIT ACARA NGUNDUH MANTU

Bp-Ibu Bambang Sutopo  Assalamu'alaikum wrwb. 1.      Para Sesepuh-Pinisepuh ingkang dahat kinabekten.. 2.      Panjenenganipun Bapa Suwardi minangka sulih sarira saking Bapa Gito Suwarno-Ibu Tuginem, ingkang tuhu kinurmatan. 3.      Para Rawuh kakung sumawana putri ingkang bagya mulya. Kanthi ngonjukaken raos syukur dhumateng Allah SWT - Gusti Ingkang Maha Agung, kula minangka talanging basa saking panjenenganipun Bp. Bambang Sutopo, S.Pd,  sekalian Ibu Jari, keparenga tumanggap atur menggah paring pangandikan pasrah saking kulawarga Bapa Gito Suwarno sekalian Ibu Tuginem. Ingkang sepisan , kula minangkani punapa ingkang dados kersanipun Bapa Bambang Sutopo sekalian dalasan sedaya kulawarga, ngaturaken pambagya sugeng ing sarawuh panjenengan minangka Dhuta Saraya Pasrah saking Bp Gito Suwarno sekalian Ibu Tuginem-sapendherek,  ingkang pidalem w onten ing   Dukuh Jenggrik,...

Atur Pambagyaharja Sungkawa (Sripahan / LELAYU)

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.  Nuwun, kawula nuwun . Para pepunden sesepuh pinisepuh ingkang kula bekteni. Para asung pambela sungkawa, para rawuh kakung sunawana putri ingkang satuhu luhuring budi. Wonten madyaning panandang ing ari kalenggahan punika, kula minangka sulih sarira saking Ibu Sri Sumaringsih sakaluwarga kinen hangaturaken atur Pambagyaharja sakderengipun hangkating layon Almarhum Bapa Sukardono. Murwakani atur, sumangga panjenengan sedaya kula dherekaken manengku puja, raos syukur tansah konjuk wonten Ngarsa Dalem Allah Gusti Ingkang Maha Kawasa. Awit Panjenengan dalasan kula saget makempal wonten papan punika saperlu asung bela sungkawa menggah sedanipun Bapa Sukardono. Para asung pambela sungkawa ingkang pikantuk Rahmating Gusti. Ibu Sri Sumaringsih gotrah kulawangsa lumantar kula, ngaturaken Sugeng Rawuh, lan ngaturaken raos panuwun ingkang tanpa pepindan awit karawuhan panjenengan sedaya. Ugi ngaturaken agenging panuwun sedaya pambiyantu awujud p...

Bukan Halusinasi ( Bag. 1 )

Tengah malam yang dingin itu telah menyirep seluruh penghuni kampung Randu. Mereka lelap dalam tidur berselimut sepi, menikmati mimpinya masing-masing. Namun   tidak bagi Suto.   Lelaki paroh baya yang sehari-hari bekerja sebagai petani kecil ini mendadak terbangun oleh suara ketukan pintu belakang di ruang dapurnya. Sebenarnya lelaki kurus ini enggan beranjak bangun dari tempat tidurnya. Badan Suto kurang sehat lantaran kemarin kehujanan saat berada di sawah. Tetapi karena pintu itu seperti didorong-dorong oleh seseorang, ia akhirnya bangun juga. Ia tak langsung berdiri. Sembari mengusap-usap kedua matanya, diambilnya  lampu senter yang selalu ditaruh di bawah bantal. Dengan langkah gontai ia berjalan menuju pintu belakang. Tanpa pikir panjang, dibukanya pintu. Sementara isterinya, Poni, dan seorang anak perempuannya, Yani  yang berumur lima belas tahun, tetap tidur nyenyak. Setelah pintu terbuka, ia keluar rumah. Dengan hati-hati ia melihat ke kanan...

Bukan Halusinasi ( Bag. 7 )

Sesuai rencana, Guritno bersama perangkatnya mendatangi rumah Suto. Melihat kedatangan Guritno, puluhan warga yang berkerumun berebut menyalami Kepala Desa yang simpatik ini. Beberapa orang dari luar desa yang belum mengenalnya juga mendekat Guritno. “Selamat Siang, Pak Lurah..” beberapa orang menyapa. “Selamat Siang. Gimana kabarnya. Sehat semua kan?” Sapa Guritno. “ Nggih,  Pak Lurah…” Guritno langsung menuju lokasi sumur tua milik Suto . Ia segera me lo ngok ke dalam sumur seperti yang dilakukan warga. Ia berkali-kali melongok ke lubang sumur yang berkedalaman 15 meter. Sesaat kemudian, ia melihat ke sekeliling, mengamati puluhan rumpun pohon bambu yang tumbuh subur di pekarangan Suto . Beberapa orang yang menyaksikan gerak gerik Kepala Desa itu saling berpandangan dan berbisik satu sama lain. Mereka menerka apa yang akan dilakukan pemimpin desa itu. Diantara mereka ada yang memberanikan diri bertanya dan usul kepada Guritno. “Bagaimana, Pak. Apa b...

BERKEMBANG BERSAMA ODOP

Puluhan tahun dalam perjalanan hidup ini, saya isi dengan banyak membaca buku, baik di toko, di perpustakaan maupun milik sendiri. Disamping buku, bacaan berupa koran, majalah dan media online menjadi menu konsumsi hidup saya. Mungkin sudah ratusan judul buku saya baca hingga tuntas. Namun lebih banyak buku yang saya baca tidak pernah selesai. Dengan membaca aneka buku, saya menemukan banyak ilmu dan hikmah yang amat berguna dalam menjalani hidup ini. Seperti ungkapan Samuel Johnson, “Buku mengajarkan kepada kita, bagaimana menikmati hidup dan bagaimana memikul bebannya.” Setelah hidup ini saya jalani dengan aktivitas banyak membaca, saya kemudian punya keinginan untuk menjadi penulis. Pertimbangannya, jika hanya sekedar sebagai pembaca, manfaat yang saya peroleh lebih banyak untuk diri sendiri. Tapi   jika menjadi penulis, insya Allah manfaatnya bisa dinikmati untuk banyak orang. Sadar bahwa menjadi penulis itu tidak mudah, sayapun mulai berusaha keras untuk membe...

Buang Jauh Luka Emosional Anda

Orang bijaksana tidak pernah duduk   meratapi kegagalannya, tetapi dengan gembira hati dia mencari jalan bagaimana memulihkan kembali kerugian yang dideritanya.   - Shakespear -  Ada kejadian, seseorang mengalami kecelakaan yang tidak terlalu berat, mengakibatkan luka fisik pada bagian wajahnya. Akibat luka fisik tersebut membuat dirinya merasa malu, takut bercermin atau berinteraksi dengan orang lain. Dia bahkan menarik diri dari kehidupan masyarakat dan menutup diri.   P adahal, luka fisik itu sebenarnya bisa disembuhkan dan pulih kembali. Luka fisik itu lebih mudah disembuhkan! Bagaimana dengan luka emosional?  Luka  emosional lebih menyakitkan!   Anda tidak dapat melihatnya, tidak  dapat merabanya, tetapi ia dapat membuat perut keroncongan dan hati berdebar. Tidak ada bukti keberadaannya, tapi ia dapat menimbulkan rasa pusing, mual, insomnia, serangan jantung, gangguan pencernaan, bahkan stres dan depresi.  Ia lebih dalam dari luka-l...

Pidato Kocak Dai Gokil

Humor sebagai salah satu bumbu komunikasi dalam berpidato hingga kini masih diakui kehebatannya. Ketrampilan   menyelipkan humor-humor segar dalam berpidato atau ceramah,   menjadi daya pikat tersendiri bagi audien atau pendengarnya sehingga membuat mereka betah mengikuti acara sampai selesai. Buku saku berjudul “Pidato-pidato Kocak ala Pesantren” karya Ustad Nadzirin (Mbah Rien) ini mungkin bisa menjadi referensi bagi pembaca yang ingin menciptakan suasana segar dalam berpidato. Buku setebal   88 halaman yang diterbitkan oleh Mitra Gayatri Kediri (tanpa tahun) ini berisi contoh-contoh pidato penuh humor. Membaca buku yang menyajikan enam contoh pidato yang oleh penulisnya dimaksudkan untuk bekal dakwah   para dai gokil dan humoris ini saya ngakak abis .  Pengin tahu cuplikannya? Silahkan simak berikut ini. “Saudara dan saudari.  Baik eyang putra maupun eyang putri…Semua tanpa kecuali yang saya cintai… Meski kalian semua tidak merasa say...