Skip to main content

Catatan Perjalanan (Bag.1) Maafkan aku Inet


Inet
Ini catatan apa adanya
Jika dianggap mengada-ada
Apalagi kurang beretika
Abaikan saja
***
Ketika mendapat kabar untuk ikut acara di Kota Pekalongan, samar-samar ingatanku melayang ke teman di komunitas One Day One Post (ODOP) Batch2. Sepertinya ada teman ODOP asal daerah yang dijuluki Kota Batik ini. Untuk memastikan kebenarannya, aku tanyakan ke Group WhatsApp ODOP.

“Ada teman ODOP2 yang dari Kota Pekalongan ngga ya? Besok saya dua hari ikut acara di kota Pekalongan. Siapa tahu bisa kopdar. Ini kegiatannya saya tulis di Blog,” tulisku di WA, Minggu (24/4) menjelang tengah malam. 
Beberapa teman pun merespon.

“Pak Parto kereen..” kata Indri Mulyani

“Inet kalo gak salah Pekalongan,” sambung Lisa

“Inet. Bentar Pak, saya panggilin Inetnya di bbm,” susul Dewi DeAn, cewek yang tinggal di Malaysia ini. 

“Inet sudah saya suruh menghadap bapak….” kata Dewi lagi, sembari connect di bbm saya.

“Andai saja saya di Pekalongan, pengin kopdar dengan Pak Suparto,” Gilang dari Bandung nimbrung di Blog, dini hari.

Setelah itu, aku tak ingat lagi, karena langsung tidur untuk persiapan berangkat ke Pekalongan besok pagi.

***

Senin. Pukul 07.30 kami berempat, termasuk driver, berangkat dari Sragen menuju kota Pekalongan untuk mengikuti kegiatan Diseminasi Peraturan dan Proses Perizinan bertajuk, “Bentuk Kelembagaan Lembaga Penyiaran Publik (LPP) Lokal Sesuai Regulasi dan Aplikatif."

Kegiatan yang akan berlangsung selama dua hari itu diselenggarakan oleh Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Jawa Tengah. Acara diikuti seluruh Kabag Hukum Setda Kabupaten/Kota se Jateng, Diskominfo Bakorwil Pekalongan, RRI, serta Biro Hukum Setda Provinsi Jateng. Dalam kesempatan tersebut Kabag Hukum Setda Sragen, Juli Wantoro menjadi salah satu nara sumbernya.

Di tengah padatnya arus lalu lintas, mobil melaju cepat. Driver-nya terlihat sangat terampil mengemudikan kendaraan Avanza yang kami tumpangi. Sembari ngobrol dengan teman-teman di dalam mobil, jemari tanganku tak berhenti bergerak membuka-buka layar HP untuk berkomunikasi lewat WA, Blog  atau FB. 

Di perjalanan, mataku melotot ketika nama Inet muncul.

“Ohw gitu. Tepatnya dimana yah..?” Inet nanya.

“Di Hotel Horison Jl. Gajahmada. Nanti acara mulai pukul 14.00. Kegiatan sampai Selasa siang,” jawabku.

“Wah. Di Hotel Horison, Pak? Jam 14.00 saya baru pulang kuliah,” Inet menyahut.

Sekitar pukul 09.00 kami sampai di kawasan Tingkir, Salatiga dan berhenti untuk sarapan di warung Soto Segar. Satu jam kemudian, kami sudah melaju kencang di jalan tol Bawen – Semarang. Foto yang memperlihatkan jalan tol dengan latar belakang Gunung Ungaran aku kirim ke WA Group ODOP.

“Ini saya baru sampai jalan Tol Bawen – Semarang,” tulisku

Jalan Tol Bawen-Semarang



Duh, ngeri kalo denger kota Bawen Semarang,” April Cahaya menanggapi.

“Kenapa April?” tanya Kholifah Haryani dan Denik serentak.

Denik melanjutkan dengan cerita, tapi aku kurang paham maksudnya.

“Wah. Padahal saya senang dengan suasana di sana. Dua tahun yang lalu ke sana naik bus turun jam 2 dini hari. Nongkrong aja di warung yang tutup, nunggu subuh, karena tak ada warung yang buka. Mau ke tempat tujuan masih malam. Sungkan sama yang di jujug,” cerita Denik.

Tak terasa, sudah tiga jam lebih kami menempuh perjalanan. Mata sebenarnya tak kuasa menahan kantuk. Tapi, Ya Allah, baru mau mengatupkan mata, ingatanku melesat ke kota yang kami tuju. Aku seperti tak sabar ingin cepat sampai di sana. Meski driver menginjak pedal gas hingga speedometer menunjuk  angka 100 km lebih, rasanya ngga sampai-sampai.

***
“Hotel Horison lumayan dekat dengan kampusku, Pak…..” tiba-tiba pesan Inet masuk saat perjalanan kami sudah memasuki wilayah perbatasan kota Pekalongan.

“Nama kampusnya, apa?” tanyaku.

“Stain pak, STAIN Pekalongan. Bisa ke sini? Hehehe ….”

“Iya, sebentar lagi nyampe.”

Dalam beberapa menit, otakku memutar-mutar untuk mencari cara bagaimana bisa mengikuti acara, sekaligus berkesempatan ketemu Inet. Aku sudah tidak konsentrasi lagi di dalam kendaraan. Orang-orang yang ngobrol di sekitarku tak lagi kudengar dengan jelas.

Aku ingin segera bisa ketemu teman yang kukenal di Group ODOP. Ia termasuk yang kukagumi karena produktif menulis di Blog yang dinamakan "Lemping Pena : Reduksi ke dalam Absurditas." 

Di profilnya, ia memperkenalkan diri sebagai seorang perempuan biasa yang mencoba menuangkan pemikirannya dalam aksara-aksara, impiannya melampaui angkasa serta Pecinta Bulan. Nama panggilannya Inet, tapi di Blog atau WA nama yang sering muncul adalah Khikmah Al-Maula.

Pukul 12.30 kami check in di hotel dan melakukan pendaftaran peserta ke panitia. Setelah mendapatkan kunci kamar dan penjelasan dari panitia tentang agenda, kami menanyakan soal makan siang, soalnya perut sudah lapar. Ternyata jawaban panitia di luar dugaan kami.

Hotel Horison
“Mohon maaf, untuk makan siang hari ini tidak masuk paket acara. Jadi mohon untuk mencari sendiri dulu…”

Kami naik ke lantai 5 untuk meletakkan tas dan barang bawaan di kamar hotel yang sudah disiapkan. 

Gedung hotel menjulang tinggi berlantai 9. Design interior bermotif kotak-kotak terlihat artistik. Tetapi waktu didalam lift, aku amati tidak ada penunjuk angka ke lantai 4. Apa maksudnya aku tidak tahu. Mungkin seperti lazimnya hotel di Indonesia yang tidak memiliki kamar bernomor 13.   

Kami segera mencari warung untuk makan siang. Angan-anganku memperkirakan, pukul 13.30 makan siang sudah beres. Setelah itu aku merencanakan dua pilihan. Minta tolong driver untuk diantar ke kampus STAIN, atau Inet yang kuminta datang ke hotel. Sementara aku belum kontak dulu. Bikin kejutan, maksudku.

Tapi perkiraanku meleset jauh. Ternyata kami sulit menemukan warung yang cocok untuk sekedar mengisi perut. Maklum kami belum paham betul peta dan kondisi kota Pekalongan. Sebenarnya kami ingin mencari makan masakan khas Pekalogan, namanya nasi Megono, tapi juga susah dicari.

Kami terus keliling, sambil mencari warung melihat beberapa sudut kota yang mulai ditata oleh pemerintah setempat. Diantaranya Taman Sorogenen.

“Wah nama taman ini unik. Aku sepertinya pernah dengar nama Sorogenen di kota Solo atau Jogja ya, tapi lupa-lupa ingat. Kenapa nama Sorogenen ada di kota Pekalongan. Ah, nanti aja kalau ketemu Inet, aku tanyakan…..” pikiranku melayang.

Warung Pecel Suroboyo
Sekitar satu jam keliling, akhirnya kami berhenti di warung Pecel Suroboyo di jalan Dr. Wahidin. Di warung ini, aku tanya ke seorang pelayan, di mana posisi kampus STAIN. “Agak jauh Pak..” jawabnya sambil menerangkan jalur menuju kampus.

“Terima kasih, Mas.” 

“Mau ke sana ya, Pak…?”

“Iya, tapi kayaknya udah mepet.”

Usai makan, waktu sudah menunjuk angka 14.15, artinya kesempatan ke kampus Inet sudah tidak memungkinkan lagi. 

Kami bergegas ke hotel untuk segera mengikuti acara. Sampai Hotel pukul 15.30. Setelah berganti baju, kami langsung menuju aula tempat acara. Sementara pikiranku makin tegang. Duh, rencanaku ketemu Inet meleset. Segera Inet kutelepon langsung.

“Assalamu ‘alaikum. Maaf, ini dek Inet….?”

“Wa ‘alaikumussalaam. Ini Pak Parto, ya..?”

“Iya…”

“Gimana, pak..?”

“Maaf ya. Belum bisa ketemu. Tadi mau mampir ke kampus STAIN, tapi karena kelamaan muter-muter cari makan, waktunya udah kelewatan. Dan sekarang acara udah mau dimulai. Nanti aku kontak lagi, ya."

“Iya, Pak.”

Saat berada di ruang acara, kukirim pesan lewat WA. Kusampaikan lagi permintaan maafku karena belum bisa ketemu.

“Owh iya gapapa, Pak. Acaranya sampai jam berapa?” balas Inet

“Sore ini sampai jam lima. Trus Isoma sampai 19.00. Acara malam sampai jam 21.00.”

“Wah padet ya, pak? Kalo kopdarnya besok gimana?”

“Bisa. Dek Inet tinggalnya jauh dari Horison, ngga?”

“Kalo rumahku lumayan jauh dari situ Pak….”

“Ya besok pagi aja. Nanti kontak lagi."

“Owh iya, Pak…”
***
“Mohon perhatian. Acara akan segera dimulai…” suara seorang MC membuyarkan anganku.

(bersambung….)



Comments

  1. cieee bapak mau ketemuan dengan inet hehehe

    ReplyDelete
  2. Sorogenen di solo ada pak... Jl ir juanda.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Owh iya to. Saya masih lupa. Tapi di Pekalongan kok jadi nama taman ya?
      Makasih Mbak Ciani..

      Delete
  3. Wah belum jadi tho ketemu Inet.

    Ditunggu lanjutannya pak

    ReplyDelete
  4. Jadi ketemuan nggak pak sama Inet? penasaran...

    ReplyDelete
  5. Sama-sama Pak, saya juga minta maaf, hehe...

    ReplyDelete
  6. Pak Parto ini bnr2 cocok jd jurnalis jenengan ..

    ReplyDelete
  7. Replies
    1. maklum masih belajar. takut salah, jadi terlihat rapi.belum bisa mengalir seperti mbak Vinny.
      Salam Sukses ya Mbak...

      Delete
  8. Wah...namaku disebut...terima kasih Pak Parto. Semangaaat....!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. gara-gara Bawen yang menyeramkan itu.. hehehe...
      semangat !!!

      Delete
  9. Pak Parto terimakasih namaku juga disebut di awal.. jadi malu. Membaca tulisan bapak ini benar2 sostematis, rapi, tenang... elegan dech tulisan2 Pak Parto... Suhu pokoknya mah... mohon bimbingan ya Pak.. aku mah menulis belum apa-apa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. kita saling belajar Mbak.
      saya kalo baca tulisan temen2 itu ikut bangga. semua luar biasa !!!

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

ATUR PANAMPI PASRAH TEMANTEN KAKUNG

Assalamu 'alaikum wr.wb. - Para Sesepuh-Pinisepuh ingkang dahat kinabekten. -Para Rawuh kakung sumawana putri ingkang kinurmatan. -Panjenenganipun  Bapa ………………..        minangka sulih sarira  saking  Bapa BUDI PRANOTO, S.Pd sekalian Ibu KUN MARYATI, S.Pd. ingkang tuhu kula kurmati. Kanthi ngonjukaken raos syukur dhumateng ALLAH SWT., Gusti Ingkang Maha Kawasa, kula minangka sulih salira saking panjenenganipun Bp. Haji SUDARNO, S.Sos  sekalian Ibu Hajah CIPTANTI DWI PRIYANTINI, S.Pd keparenga tumanggap atur menggah paring pangandikan pasrah temanten kakung. Ingkang sepisan , kula minangka sulih sarira Bapa Haji SUDARNO,S.Sos sekalian,dalasan sedaya kulawarga ngaturaken pambagya sugeng sarawuh panjenengan minangka Dhuta Saraya Pasrah saking Bapa BUDI PRANOTO,S.Pd sekalian dalasan sedaya panderek. Kaping kalih , menggah salam taklim Bp-Ibu BUDI  lumantar panjenengan, sampun katampi, dhawah sami-2, kanthi-atur wa'ala...

ATUR PASRAH BOYONG TEMANTEN KEKALIH

Salah satu rangkaian adat Jawa setelah melangsungkan resepsi pernikahan adalah, keluarga temanten perempuan memboyong kedua mempelai kepada keluarga orangtua mempelai laki-laki (besan).  Sebelum masuk rumah keluarga besan, diadakan acara “Atur Pasrah” dari keluarga mempelai perempuan, dan “Atur Panampi” dari keluarga besan. Berikut adalah tuladha (contoh) sederhana “Atur Pasrah” yang saya susun dan laksanakan. *** Assalamu ‘alaikum Wr.Wb. Bismillahirrahmanirrahim. Al-hamdu lillahi rabbil ‘alamin. * Para sesepuh pinisepuh ingkang dahat kinabekten ** Panjenenganipun Bp.Waluyo dalasan Ibu Sumarni ingkang kinurmatan *** P ara rawuh kakung putri ingkang bagya mulya . Kanti  ngunjukaken raos syukur dumateng Allah SWT, Gusti Ingkang Moho Agung. Sowan kula mriki dipun saroyo dening panjenenganipun Bapa Haji Supriyadi, S.Pd dalasan Ibu Hajah Lasmi ingkang pidalem wonten Plumbungan Indah RT.27/RW.08 Kelurahan Plumbungan, Kecamatan Karangmalang, Sragen, kepar...

TANGGAP WACANA ATUR PAMBAGYA HARJA

Pada rangkaian acara resepsi pernikahan, keluarga yang mempunyai hajat (punya kerja), berkewajiban menyampaikan sambutan (tanggap wacana) selamat datang kepada seluruh hadirin. Dalam tatacara resepsi adat Jawa disebut Atur Pambagya Harja, atau atur pambagya wilujeng. Dalam sambutan ini, orang yang punya kerja akan mewakilkan kepada orang tertentu yang ditunjuk, biasanya ketua RT/RW, atau orang yang dituakan di lingkungannya. Nah, ketika menjadi ketua RT, saya pernah mendapat tugas untuk menyampaikan pidato (tanggap wacana) tersebut. ****** Berikut contoh / tuladha atur pambagya harja yang pernah saya sampaikan…. Assalamu ‘alaikum Wr. Wb. -        Para Sesepuh Pinisepuh, ingkang satuhu kula bekteni -        Para Rawuh Kakung sumawana putri ingkang kinurmatan Sakderengipun kula matur menggah wigatosing sedya wonten kelenggahan punika, sumangga panjenengan sedaya kula derek-aken ngunjuk-aken ra...

CONTOH ATUR PANAMPI PASRAH TEMANTEN SARIMBIT ACARA NGUNDUH MANTU

Bp-Ibu Bambang Sutopo  Assalamu'alaikum wrwb. 1.      Para Sesepuh-Pinisepuh ingkang dahat kinabekten.. 2.      Panjenenganipun Bapa Suwardi minangka sulih sarira saking Bapa Gito Suwarno-Ibu Tuginem, ingkang tuhu kinurmatan. 3.      Para Rawuh kakung sumawana putri ingkang bagya mulya. Kanthi ngonjukaken raos syukur dhumateng Allah SWT - Gusti Ingkang Maha Agung, kula minangka talanging basa saking panjenenganipun Bp. Bambang Sutopo, S.Pd,  sekalian Ibu Jari, keparenga tumanggap atur menggah paring pangandikan pasrah saking kulawarga Bapa Gito Suwarno sekalian Ibu Tuginem. Ingkang sepisan , kula minangkani punapa ingkang dados kersanipun Bapa Bambang Sutopo sekalian dalasan sedaya kulawarga, ngaturaken pambagya sugeng ing sarawuh panjenengan minangka Dhuta Saraya Pasrah saking Bp Gito Suwarno sekalian Ibu Tuginem-sapendherek,  ingkang pidalem w onten ing   Dukuh Jenggrik,...

Atur Pambagyaharja Sungkawa (Sripahan / LELAYU)

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.  Nuwun, kawula nuwun . Para pepunden sesepuh pinisepuh ingkang kula bekteni. Para asung pambela sungkawa, para rawuh kakung sunawana putri ingkang satuhu luhuring budi. Wonten madyaning panandang ing ari kalenggahan punika, kula minangka sulih sarira saking Ibu Sri Sumaringsih sakaluwarga kinen hangaturaken atur Pambagyaharja sakderengipun hangkating layon Almarhum Bapa Sukardono. Murwakani atur, sumangga panjenengan sedaya kula dherekaken manengku puja, raos syukur tansah konjuk wonten Ngarsa Dalem Allah Gusti Ingkang Maha Kawasa. Awit Panjenengan dalasan kula saget makempal wonten papan punika saperlu asung bela sungkawa menggah sedanipun Bapa Sukardono. Para asung pambela sungkawa ingkang pikantuk Rahmating Gusti. Ibu Sri Sumaringsih gotrah kulawangsa lumantar kula, ngaturaken Sugeng Rawuh, lan ngaturaken raos panuwun ingkang tanpa pepindan awit karawuhan panjenengan sedaya. Ugi ngaturaken agenging panuwun sedaya pambiyantu awujud p...

Bukan Halusinasi ( Bag. 1 )

Tengah malam yang dingin itu telah menyirep seluruh penghuni kampung Randu. Mereka lelap dalam tidur berselimut sepi, menikmati mimpinya masing-masing. Namun   tidak bagi Suto.   Lelaki paroh baya yang sehari-hari bekerja sebagai petani kecil ini mendadak terbangun oleh suara ketukan pintu belakang di ruang dapurnya. Sebenarnya lelaki kurus ini enggan beranjak bangun dari tempat tidurnya. Badan Suto kurang sehat lantaran kemarin kehujanan saat berada di sawah. Tetapi karena pintu itu seperti didorong-dorong oleh seseorang, ia akhirnya bangun juga. Ia tak langsung berdiri. Sembari mengusap-usap kedua matanya, diambilnya  lampu senter yang selalu ditaruh di bawah bantal. Dengan langkah gontai ia berjalan menuju pintu belakang. Tanpa pikir panjang, dibukanya pintu. Sementara isterinya, Poni, dan seorang anak perempuannya, Yani  yang berumur lima belas tahun, tetap tidur nyenyak. Setelah pintu terbuka, ia keluar rumah. Dengan hati-hati ia melihat ke kanan...

Bukan Halusinasi ( Bag. 7 )

Sesuai rencana, Guritno bersama perangkatnya mendatangi rumah Suto. Melihat kedatangan Guritno, puluhan warga yang berkerumun berebut menyalami Kepala Desa yang simpatik ini. Beberapa orang dari luar desa yang belum mengenalnya juga mendekat Guritno. “Selamat Siang, Pak Lurah..” beberapa orang menyapa. “Selamat Siang. Gimana kabarnya. Sehat semua kan?” Sapa Guritno. “ Nggih,  Pak Lurah…” Guritno langsung menuju lokasi sumur tua milik Suto . Ia segera me lo ngok ke dalam sumur seperti yang dilakukan warga. Ia berkali-kali melongok ke lubang sumur yang berkedalaman 15 meter. Sesaat kemudian, ia melihat ke sekeliling, mengamati puluhan rumpun pohon bambu yang tumbuh subur di pekarangan Suto . Beberapa orang yang menyaksikan gerak gerik Kepala Desa itu saling berpandangan dan berbisik satu sama lain. Mereka menerka apa yang akan dilakukan pemimpin desa itu. Diantara mereka ada yang memberanikan diri bertanya dan usul kepada Guritno. “Bagaimana, Pak. Apa b...

BERKEMBANG BERSAMA ODOP

Puluhan tahun dalam perjalanan hidup ini, saya isi dengan banyak membaca buku, baik di toko, di perpustakaan maupun milik sendiri. Disamping buku, bacaan berupa koran, majalah dan media online menjadi menu konsumsi hidup saya. Mungkin sudah ratusan judul buku saya baca hingga tuntas. Namun lebih banyak buku yang saya baca tidak pernah selesai. Dengan membaca aneka buku, saya menemukan banyak ilmu dan hikmah yang amat berguna dalam menjalani hidup ini. Seperti ungkapan Samuel Johnson, “Buku mengajarkan kepada kita, bagaimana menikmati hidup dan bagaimana memikul bebannya.” Setelah hidup ini saya jalani dengan aktivitas banyak membaca, saya kemudian punya keinginan untuk menjadi penulis. Pertimbangannya, jika hanya sekedar sebagai pembaca, manfaat yang saya peroleh lebih banyak untuk diri sendiri. Tapi   jika menjadi penulis, insya Allah manfaatnya bisa dinikmati untuk banyak orang. Sadar bahwa menjadi penulis itu tidak mudah, sayapun mulai berusaha keras untuk membe...

Buang Jauh Luka Emosional Anda

Orang bijaksana tidak pernah duduk   meratapi kegagalannya, tetapi dengan gembira hati dia mencari jalan bagaimana memulihkan kembali kerugian yang dideritanya.   - Shakespear -  Ada kejadian, seseorang mengalami kecelakaan yang tidak terlalu berat, mengakibatkan luka fisik pada bagian wajahnya. Akibat luka fisik tersebut membuat dirinya merasa malu, takut bercermin atau berinteraksi dengan orang lain. Dia bahkan menarik diri dari kehidupan masyarakat dan menutup diri.   P adahal, luka fisik itu sebenarnya bisa disembuhkan dan pulih kembali. Luka fisik itu lebih mudah disembuhkan! Bagaimana dengan luka emosional?  Luka  emosional lebih menyakitkan!   Anda tidak dapat melihatnya, tidak  dapat merabanya, tetapi ia dapat membuat perut keroncongan dan hati berdebar. Tidak ada bukti keberadaannya, tapi ia dapat menimbulkan rasa pusing, mual, insomnia, serangan jantung, gangguan pencernaan, bahkan stres dan depresi.  Ia lebih dalam dari luka-l...

KOTHEKAN LESUNG TANDAI PERGANTIAN TAHUN

Selama ini, perayaan detik-detik pergantian tahun baru masehi yang dilakukan oleh hampir semua Pemerintah Daerah di Indonesia, identik dengan pesta kembang api. Tapi yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Sragen tahun ini sangat berbeda. Perayaan pergantian tahun yang dikemas dalam acara “Gebyar Tahun Baru 2018” tidak ada pesta kembang api. Acara detik-detik pergatian tahun yang berlangsung pukul 23.45-00.15 di Alun-alun Sasana Langen Putra ini justru ditandai dengan Kothekan   Lesung – pemukulan alat tradisional petani untuk menumbuk padi. Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati, mengawali pemukulan Lesun g dengan Alu , diikuti oleh   Wakil Bupati, Dedi Endriyatno, Sekda Tatag Prabawanto bersama-sama jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Kabupaten Sragen. Suara Lesung Jumengglung yang menandai pergantian tahun dari 2017 ke 2018, membahana memenuhi Alun-alun yang dipadati ribuan warga. Sebelum prosesi pemukulan lesung, di Alun-alun juga digelar pen...